Menjadi Bukan Siapa-siapa (Seni menampar diri sendiri)

Menjadi Bukan Siapa-siapa
(Seni menampar diri sendiri)

 

Oleh : Mustaqiem Eska

 

“Nol-kan ekspektasi Anda kepada sesama makhluk, karena berharap pada manusia adalah cara paling instan menuju patah hati.”

 

(pdlfile.com) ​Pada akhirnya nanti, fase hidup akan menjawab bahwa ibadah tidak harus terekam dalam feed Instagram atau minimal story WhatsApp, rasanya kesalehan kita belum sah mendapat sertifikasi dari netizen. Kita hidup di era di mana kekhusyukan bisa diukur dari estetika sudut pengambilan foto sajadah, dan keikhlasan ditakar dari berapa banyak tombol like yang mampir. Sungguh sebuah pencapaian spiritual yang luar biasa dangkal.

​Kita sibuk memoles citra sebagai “hamba yang taat.” Kita menimbun ego, memamerkan deretan aktivitas religius, lalu dengan penuh percaya diri menghadap Tuhan membawa segunung rasa bangga. Kita merasa telah memberi-Nya “keuntungan” dengan shalat dan puasa.

​Di sinilah kita merindukan sebuah alamat asing yang sudah lama dihapus dari kompas spiritual modern: Titik Nol.

​Menuju titik nol bukan berarti Anda harus lari ke hutan dan menjadi rabi yang mengisolasi diri. Titik nol adalah urusan isi kepala dan hati. Ia adalah sebuah seni yang paling dibenci oleh manusia modern: seni menjadi bukan siapa-siapa.

​Di titik nol, Anda menanggalkan semua atribut yang selama ini Anda banggakan di dunia. Gelar akademik, jabatan mentereng, saldo rekening, bahkan status “lebih suci dari tetangga sebelah”—semuanya harus ditinggalkan di keset pintu masuk. Anda datang menghadap-Nya sebagai sebutir debu yang kebetulan diberi napas. Kosong. Telanjang dari ego.

Kita sering terjebak pada istiqamah yang mekanis. Bangga karena raga konsisten hadir di atas sajadah, tapi lupa bahwa di saat yang sama, otak kita sedang sibuk menghitung untung-rugi proyek besok pagi. Fisik kita bersujud, tapi batin kita sedang mendikte Tuhan agar mengabulkan semua daftar keinginan yang panjangnya melebihi bon belanjaan bulanan isteri di rumah.

​Istiqamah di titik nol tidak butuh tepuk tangan penonton. Ibadah di titik ini tidak lagi menggunakan logika transaksional: “Saya sudah salat tahajud, maka besok urusan bisnis saya harus lancar.” Logika itu terlalu kekanak-kanakan untuk sebuah hubungan antara pencipta dan ciptaanNya. Di titik nol, Anda beribadah sekadar karena sadar diri: bagaimana mungkin seonggok daging yang penuh dosa ini tidak bersujud kepada Zat yang masih sudi memberinya oksigen gratis setiap detik?

​Efek samping dari gagalnya kita mencapai titik nol adalah lahirnya generasi yang gampang cemas namun hobi pamer. Kita mencari kedamaian dengan cara membeli lilin aromaterapi yang mahal, pergi healing ke puncak gunung, ke pantai, ke villa-villa, atau mengunduh aplikasi meditasi berbayar. Kita mengira kedamaian bisa dibeli di kasir.
​Padahal, sumber kegaduhannya ada di dalam dada kita sendiri: keinginan yang tanpa batas dan ekspektasi yang keras kepala kepada manusia.

​Selamat Mengosongkan Gelas

​Mari kita teruskan drama teatrikal ini jika kita mau. Silakan tetap pamer sedekah secara terselubung, tetap merasa paling benar di kolom komentar, dan tetap beribadah dengan hati yang sesak oleh urusan duniawi. Tuhan tidak rugi, Anda pun silakan menikmati kelelahan batin itu sendirian.
​Namun, jika Anda sudah lelah menjadi “tuhan” bagi skenario hidup Anda sendiri, cobalah untuk waras. Turunkan ego itu dari singgasananya.

​Nol-kan ekspektasi Anda kepada sesama makhluk, karena berharap pada manusia adalah cara paling instan menuju patah hati. Nol-kan pula rasa bangga atas amal ibadah Anda yang sebenarnya masih bolong-bolong dan penuh pamrih itu.

​Sebab hukum alam spiritual itu sederhana: hanya ketika gelas hati Anda benar-benar kosong dan tak lagi menyisakan ruang untuk ego, Sang Pencipta akan merengkuh Anda dengan kedamaian yang seutuhnya. Selamat kembali ke titik nol. (Timika, 13062026)

Related posts