Setiap Manusia Itu Fakultatif

#TSP – 018 – 30062026

 

Setiap Manusia Itu Fakultatif

 

Oleh: Mustaqiem Eska

 

 

(pdlFile.com) Secara bahasa, kata tawazun (توازن) berasal dari bahasa Arab, akar katanya adalah wazana (وزن) yang berarti timbangan atau berat. Ketika berubah menjadi bentuk tawazun, maknanya berkembang menjadi keseimbangan, keharmonisan, atau proporsionalitas. Namun tawazun, juga bisa bermakna cetak biru (blueprint) semesta, hukum alam yang presisi, yang menjaga bumi tetap pada orbitnya dan menjaga manusia tetap waras.

Masalahnya, realitas hari ini terlalu kompleks untuk dilihat hanya dengan satu mata. Mengamati sengkarut dunia saat ini dengan satu disiplin ilmu saja seperti mencoba memetakan Samudra. Kita butuh kacamata multi-perspektif.

Di dunia teknik, tawazun adalah perkara hidup dan mati. Seorang insinyur sipil tahu persis bahwa sebuah jembatan bisa berdiri kokoh karena adanya keseimbangan gaya yang rigid : F(aksi) = -F(reaksi). Jika beban kendaraan melebihi daya dukung fondasi, runtuhlah struktur tersebut. Teknik mengajarkan kita tentang presisi fungsional. Berislam yang tawazun dalam kacamata teknik berarti menempatkan segala sesuatu pada porsinya secara terukur.

Bayangkan fenomena pembangunan fasilitas umum di kampung kita. Berapa banyak program “fisik” seperti betonisasi jalan atau renovasi balai desa yang berujung mangkrak atau justru memicu konflik sosial? Seringkali, pembangunan dilakukan tanpa “kalkulasi teknik” sosial yang matang. Hanya modal semangat dan anggaran, tanpa mengukur daya dukung psikologis masyarakat sekitar. Akibatnya? Seperti jembatan kelebihan beban, struktur sosialnya retak. Efeknya, timbul kecemburuan, gesekan antarwarga, hingga tuduhan korupsi.

Namun, presisi material saja tidak cukup. Di sinilah kita butuh pandangan cara berpikir inti untuk memberi roh. Jika teknik menuntut akurasi luar, filsafat menuntut kedalaman. Dalam tradisi berpikir Islam, filsafat adalah jembatan yang mempertemukan rasionalitas murni (’aql) dan teks wahyu (naql). Filsafat bertindak sebagai – jalan tengah – yang mencegah kita jatuh ke dalam lubang sekularisme ekstrem atau dogmatisme buta. Hebatnya lagi, filsafat justru mengajarkan etika epistemis, Dimana kesadaran bahwa akal kita itu ada batasnya.

Fenomena ini paling telanjang terlihat di kolom komentar media sosial kita. Ketika ada sebuah isu sensitif mencuat—sebut saja perdebatan tarif parkir atau perbedaan penentuan hari raya—masyarakat kita kerap terbelah menjadi dua kutub ekstrem. Kutub pertama menelan mentah-mentah teks tanpa melihat konteks (dogmatisme), sementara kutub kedua menghujat tanpa mau memahami esensi budaya setempat (liberalisme jempol). Ketiadaan nalar filosofis membuat orang mudah memberikan label “sesat” atau “bodoh” kepada pihak luar, hanya karena tidak tahu bahwa sudut pandang manusia itu terbatas.

Lalu, bagaimana formula presisi teknik dan kearifan filsafat ini bisa membumi dalam keseharian? Jawabannya ada di rahim pendidikan. Pendidikan yang tawazun adalah pendidikan yang menolak dikotomi purba antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”. Mengajarkan sains tanpa nilai ketuhanan hanya akan melahirkan robot pintar yang destruktif. Sebaliknya, mengajarkan doktrin tanpa nalar kritis hanya akan mencetak umat yang kagetan. Pendidikan adalah proses internalisasi agar manusia bisa membaca realitas secara jangkep sebelum tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

Kita bisa melihat pola pengasuhan (parenting) urban saat ini. Banyak orang tua yang terjebak pada ketidakseimbangan pendidikan anak. Ada yang mati-matian menyekolahkan anaknya di les akademik dari pagi sampai malam demi mengejar nilai matematika sempurna, namun abai mengajarkan empati sosial. Di sisi lain, ada yang mendoktrin anak dengan hafalan tanpa pernah melatih nalar kritisnya untuk menghadapi dunia nyata. Akibatnya, kita panen generasi “stroberi”: tampak eksotis di luar, tapi lembek dan mudah hancur saat menghadapi tekanan sosial.

“Keseimbangan universal tidak akan pernah tercapai melalui egoisme intelektual individu yang merasa bisa menguasai segalanya, melainkan melalui jaring-jaring kolaborasi yang presisi.”

Melihat satu fenomena dari tiga lensa beserta riak sosialnya membawa kita pada satu kesimpulan yang jujur: “setiap manusia itu fakulatif.” Kita punya batas, punya spesifikasi keilmuan masing-masing. Seorang ahli mesin tidak perlu minder karena tidak hafal seluruh kitab hukum, dan seorang ahli fikih tidak perlu memaksakan diri merancang sistem aerodinamika pesawat.

Tawazun yang sejati tidak menuntut kita menjadi manusia super yang menguasai segala hal. Itu mustahil dan utopis. Kebenaran yang universal dan presisi justru baru akan muncul ketika ego-ego sektoral itu diruntuhkan lewat kolaborasi yang benar.

Layaknya warga yang sedang menggelar hajatan kerja bakti di kampung: ada yang bertugas menghitung kebutuhan semen (pakar teknik), ada tokoh masyarakat yang menentramkan suasana agar tidak ada perselisihan paham (tokoh/ulama), dan ada ibu-ibu yang mengorganisir konsumsi serta memastikan anak-anak belajar membantu (pendidik). Tidak perlu ada yang merasa paling berjasa. Ketika setiap elemen masyarakat duduk bersama, mengakui keterbatasannya, dan saling mengisi dengan presisi, saat itulah tawazun mewujud nyata. Tawazun bukan lagi sekadar teori di atas kertas khotbah, melainkan sebuah manifestasi peradaban Islam yang ramah, kokoh, dan benar-benar menjadi rahmat bagi semesta alam.

Tawazun dalam Islam bukanlah sikap kompromistis yang pasif atau sekadar mengambil jalan aman di tengah-tengah. Tawazun adalah sebuah kerja keras interdisipliner yang aktif, detail, dan dinamis. (Tiimka, 30062026)

Related posts