BELANTARA JERUJI
( Novel : PENJAHAT )
Oleh : Mustaqiem Eska
(1)
Dinding-dinding beton itu tak pernah bersalin rupa; tetap kusam, lembap, dan beraroma karat yang berbaur dengan keringat kecut keputusasaan. Di balik gerbang megah yang terkunci rapat, berdiri sebuah koloni terasing. Bangunan dengan hiasan jeruji besi itu telah menjelma menjadi sebuah cluster raksasa—layaknya perkampungan para bajingan yang dikumpulkan dalam satu mangkuk nasib yang sama.
Di sinilah tempatnya, sebuah wilayah di mana takdir tak lagi berbisik, melainkan meneriakkan satu kebenaran mutlak: hidup adalah konsekuensi. Setiap jengkal tanah di tempat ini mengajari penghuninya bahwa perbuatan masa lalu akan selalu diganjar dengan akibatnya. Di luar sana mereka mungkin bisa berkelit, namun di sini, di dalam rahim jeruji ini, setiap kesalahan telah lunas diganti dengan hukuman fisik dan batin yang menguliti kemanusiaan mereka perlahan-lahan.
Belantara Jeruji dan Hukum Rimba
Jangan pernah mencari keadilan yang tertulis di dalam buku-buku hukum pidana saat kaki sudah melangkah melewati pintu gerbang sel. Kehidupan di dalam penjara adalah belantara yang pekat. Nuansanya liar, tak tertebak, dan dingin.
Di tempat yang dihuni oleh rupa-rupa manusia—mulai dari maling ayam yang kelaparan, pembunuh berdarah dingin, hingga tikus-tikus berdasi pelaku tipikor (tindak pidana korupsi) yang mendadak kehilangan kemewahannya—hukum rimba telah menjadi makanan dalam keseharian. Siapa yang kuat, dialah yang bertakhta. Siapa yang lemah, akan menjadi alas kaki atau sekadar nomor tanpa nama.
Mereka adalah kawanan tawanan yang pelan-pelan mulai amnesia terhadap konsep waktu. Sebagian besar dari mereka tidak lagi memikirkan kapan hari esok datang, atau kapan gerbang itu akan terbuka agar mereka bisa pulang menemui keluarga. Ikatan dengan dunia luar telah membusuk dan putus. Sebab bagi sebagian jiwa yang terkurung di sini, tempat ini bukan lagi sekadar persinggahan; di sinilah akhir hidup mereka.
Sang Pembunuh Sipir
Di sudut sel yang paling gelap, duduk seorang lelaki dengan tatapan sekosong sumur tua. Bondan namanya. Angka 17 tahun telah diketuk palu hakim di atas pundaknya—sebuah vonis mati perlahan atas kasus pembunuhan Kepala Lapas beberapa tahun silam.
”Bagi orang yang sudah membantai penguasa penjara, apa lagi yang tersisa untuk ditakuti?”
Mati? Bondan tentu tak lagi takut dengan kematian. Baginya, malaikat maut hanyalah sesama penghuni belantara ini yang kebetulan memegang arit lebih tajam. Saat ini, nuraninya sudah dikubur dalam-dalam. Justru di bawah hukum rimba yang mencekik ini, Bondan harus siap kapan saja kembali menjadi pembunuh atas siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Bondan sudah mati rasa. Saraf-saraf empatinya telah mati, sama seperti ratusan napi lainnya yang berjalan layaknya raga tanpa sukma di koridor-koridor sempit berbau pesing itu.
Oase di Ujung Tobat
Namun, sedalam-dalamnya binatang buas terperosok ke dalam lubang, ia akan kelelahan meronta. Penjara yang tadinya hanya riuh oleh caci maki, dendam, dan transaksi gelap, perlahan-lahan memperlihatkan anomali yang getir namun indah. Di balik wajah-wajah sangar yang dipenuhi tato dan kerut kemarahan, ada malam-malam di mana terdengar isak tangis yang disembunyikan di balik bantal kumal. Ada dahi yang bersujud di atas lantai semen yang dingin saat sepertiga malam, dan ada jemari kasar yang gemetar membuka kitab suci.
Kini, perkampungan penjahat itu perlahan-lahan berubah watak. Di tengah kebrutalan dan kepasrahan, mereka sedang merayap, tertatih-tatih, menuju jalan pertobatan yang sunyi. Sebuah pertobatan yang lahir bukan karena paksaan sipir, melainkan karena mereka tahu, tak ada lagi tempat bersembunyi dari diri mereka sendiri selain mengetuk pintu Tuhan. ###
