Menata Puzzle Kehidupan

POJOK

 

Menata Puzzle Kehidupan

Oleh : Mustaqiem Eska

 

“Tanpa adanya kemanfaatan bagi sesama, puzzle kehidupan kita akan selalu bolong di tengahnya. Tampak menyisakan ruang hampa yang tak sanggup diisi oleh tumpukan harta maupun kemewahan jabatan.”

 

(pdlFile.com) ​Kita kerap memandang perjalanan usia sebagai deret angka di atas kalender yang tanggal satu demi satu, atau jam dinding yang mengalirkan butiran waktu tanpa kompromi. Dalam benak yang lelah oleh rutinitas, hari-hari sering kali terasa seperti kepingan puzzle yang berserakan: acak, membingungkan, dan kadang tampak tak saling terhubung. Namun, bagi jiwa yang menyadari hakikat keberadaannya di muka bumi, setiap hela napas dan jatah umur sejatinya adalah pecahan takdir yang sedang menunggu untuk dirangkai menjadi sebuah gambaran yang utuh.

 

​Manusia tidak diterjunkan ke atas tanah ini sebagai kebetulan biologis yang tanpa arah. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah : 30; menyematkan mahkota mandat yang teramat luhur sejak mula,  khalifah fil ard—seorang pengelola, pemakmur, dan perawat bumi. Tugas ini bukanlah gelar kehormatan untuk membusungkan dada di atas makhluk lain, melainkan sebuah pertanggungjawaban spritual yang mendalam. Menjadi khalifah berarti memastikan bahwa setiap jengkal tanah yang diinjak, setiap keputusan yang diambil, dan setiap detik usia yang dihabiskan senantiasa melahirkan kemanfaatan bagi semesta.

 

​Menata puzzle kehidupan agar bermakna membutuhkan ketelitian nalar dan keheningan rasa. Kepingan usia di masa muda mungkin berbentuk semangat yang meluap, keberanian menantang badai, dan dahaga akan ilmu. Di usia paruh baya, kepingan itu bertransformasi menjadi kearifan bertindak, keteguhan memikul beban keluarga, serta kematangan memimpin.

 

Sementara di usia senja, kepingan yang tersisa adalah keikhlasan untuk memberi jalan, keteladanan yang menentramkan, dan kepasrahan yang matang. Jika kepingan-kepingan ini diletakkan tanpa kesadaran akan peran kekhalifahan, hidup hanya akan menjadi tumpukan hari yang sia-sia—penuh sesak oleh ambisi egoistik yang membusuk saat jasad masuk ke liang lahad.

 

​Kemanfaatan adalah perekat utama dari puzzle tersebut. Kebaikan yang kita tabur—sekecil apa pun itu, baik berupa ilmu yang diajarkan, pohon yang ditanam, senyum yang menenangkan, atau ketegasan membela keadilan—adalah garis penghubung yang membuat kepingan-kepingan waktu itu menyatu secara presisi. Tanpa adanya kemanfaatan bagi sesama, puzzle kehidupan kita akan selalu bolong di tengahnya. Tampak menyisakan ruang hampa yang tak sanggup diisi oleh tumpukan harta maupun kemewahan jabatan.

 

​Maka, mumpung sangkala belum mengetuk pintu perpisahan, marilah kita tatap kepingan waktu yang masih tersisa di jemari kita. Jangan biarkan usia berlalu sekadar sebagai deret perjalanan fisik dari lahir menuju mati. Rangkailah ia dengan niat yang lurus dan karya yang berdampak, agar kelak ketika gambaran utuh kehidupan itu diserahkan kembali kepada Sang Arsitek Agung, kita didapati sebagai hamba yang berhasil menunaikan tugas kekhalifahan dengan penuh martabat. (Timika, 29082026)

Related posts