Mengapa Sekolah (Sering Kali) Tak Melahirkan Manusia Cerdas?

ilustrasi

TSP – 045 – 09082026

 

Mengapa Sekolah (Sering Kali) Tak Melahirkan Manusia Cerdas?

 

Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Kecerdasan tidak lagi diukur dari seberapa banyak fakta yang mampu dihafal, melainkan dari sejauh mana peserta didik mampu menganalisis masalah di sekitarnya dan melakukan praksis—refleksi dan aksi nyata untuk mengubah keadaan.”

 

 

 

(pdlFile.com)  ​Ada sebuah paradoks besar yang bersemayam tenang di balik dinding-dinding kelas tempat kita bertumbuh. Sejak belia, kita didoktrin untuk percaya pada satu dogma tunggal: masuklah ke sekolah jika ingin cerdas. Namun, ketika kita melangkah keluar membawa gulungan ijazah dan deretan angka manis di atas kertas, mengapa begitu banyak dari kita yang justru gagap menghadapi realitas? Mengapa ruang kelas yang dijanjikan sebagai kawah candradimuka pemikiran kerap kali terasa seperti pabrik cetak massal yang hampa?

​Untuk menjawabnya tanpa terjebak prasangka dangkal, kita harus melakukan pembedahan konseptual. Kita perlu melacak kembali dua kata kunci utama: sekolah dan kecerdasan.

 

Mencari Makna yang Hilang

 

​Secara etimologis, kata sekolah berakar dari bahasa Yunani, schole, yang secara harfiah berarti “waktu luang” atau leisure. Bagi masyarakat Yunani kuno, schole adalah momen mewah ketika manusia membebaskan diri dari perbudakan kerja fisik sehari-hari untuk merenung, bertukar fikiran, mengamati bintang, dan mempertanyakan alam semesta. Sekolah pada mulanya adalah ruang kontemplasi bebas—sebuah kemewahan berpikir.

 

​Namun, pasca-Revolusi Industri, konsep ini mengalami demoralisasi teknik. Schole diamputasi dan direkayasa ulang menjadi sistem manufaktur sosial. Sekolah modern dirancang layaknya lini perakitan pabrik: ada bel penanda giliran kerja, kurikulum yang diseragamkan, tata tertib yang memangkas keunikan, serta ujian sebagai standar kontrol kualitas.

 

​Di sisi lain, apa itu kecerdasan? Kecerdasan bukanlah sekadar daya tampung memori untuk menghafal tabel periodik atau rumus matematika demi lulus ujian nasional. Dalam kacamata filsafat dan psikologi kognitif modern, kecerdasan adalah ketajaman kritis untuk membedakan antara yang ilusi dan yang hakiki, kemampuan bernalar secara mandiri (autonomy of mind), serta kelincahan adaptasi untuk memecahkan masalah kompleks dalam kehidupan nyata (praksis).

 

​Lantas, benarkah pernyataan bahwa sekolah tidak menciptakan kecerdasan? Jawabannya berada dalam dialektika: benar sekaligus salah.

 

​Pada sisi benar, sekolah sering kali gagal melahirkan kecerdasan karena ia lebih mengagungkan konformitas ketimbang kreativitas. Ketika sekolah memaksa seekor ikan dan seekor burung memanjat pohon yang sama demi mendapatkan angka 100, sekolah sedang membunuh kecerdasan alami peserta didiknya. Sekolah secara teknis kerap mereduksi kecerdasan menjadi sebatas kepatuhan menjalankan instruksi.

 

Dan pada sisi ​salah, menyatakan bahwa sekolah sama sekali tidak ada gunanya bagi kecerdasan adalah sebuah simplifikasi yang keliru. Secara teknik pendidikan, sekolah menyediakan cognitive scaffolding—perancah berpikir seperti logika formal, kemampuan membaca dasar, dan metodologi ilmiah. Tanpa struktur dasar yang disediakan sekolah, kecerdasan bawaan seseorang akan kesulitan memproses abstraksi dunia modern yang rumit.

 

Ketika Sekolah Menjelma “Candu”

 

​Pikiran kritis mengenai penyakit persekolahan ini menemukan puncaknya pada pemikiran filsuf pendidikan asal Brasil, Paulo Freire. Freire membedah bagaimana sekolah dapat bergeser dari alat pembebasan menjadi instrumen penindasan melalui model yang ia sebut Pendidikan “Gaya Bank” (Banking Education).

 

​Dalam model ini, guru bertindak sebagai penabung (depositor) yang merasa memiliki semua pengetahuan, sementara murid dianggap sebagai wadah/celengan kosong yang pasif. Murid hanya dituntut untuk menerima, menghafal, dan mengulang—tanpa pernah diberi ruang untuk mempertanyakan mengapa mereka harus mempelajari hal tersebut dan apa hubungannya dengan realitas sosial di luar kelas.

 

​Di sinilah lahir metafora “Sekolah Itu Candu” (yang belakangan dipopulerkan oleh pemikir pendidikan kritis Indonesia, Roem Topatimasang). Sebagaimana candu memberikan ilusi kenikmatan dan ketenangan sembari perlahan menggerogoti kesadaran penggunanya, sekolah kerap memberikan ilusi kecerdasan dan kemajuan lewat ijazah, nilai tinggi, dan gelar kehormatan.

 

​Anak-anak dininabobokkan oleh piala dan lembar sertifikat, merasa diri mereka telah terdidik dan cerdas, padahal kesadaran kritis mereka telah dilumpuhkan. Mereka ditjinakkan untuk menjadi sekrup-sekrup pasif yang patuh pada otoritas, takut pada kegagalan, dan tidak mampu mengkritisi ketimpangan di sekitar mereka. Sekolah menjadi candu ketika ia membius daya kritis dan memotong hubungan manusia dengan realitasnya.

 

​Sebagai tandingan atas “Gaya Bank”, Freire menawarkan Pendidikan Hadap-Masalah (Problem-Posing Education). Dalam konsep ini, hubungan guru dan murid mencair menjadi kesetaraan dialogis. Kecerdasan tidak lagi diukur dari seberapa banyak fakta yang mampu dihafal, melainkan dari sejauh mana peserta didik mampu menganalisis masalah di sekitarnya dan melakukan praksis—refleksi dan aksi nyata untuk mengubah keadaan.

 

​Alhasil, sekolah sebagai sebuah bangunan dan sistem formal tidak secara otomatis menciptakan kecerdasan. Ia hanyalah sebuah cangkang. Jika cangkang itu diisi dengan mekanisme pabrik dan gaya bank, ia hanya akan melahirkan candu kepatuhan. Namun, jika sekolah dikembalikan pada akar etimologisnya sebagai schole—sebuah ruang yang merdeka untuk mempertanyakan dunia—maka sekolah dapat bertindak sebagai katalisator sejati. Sekolah tidak menciptakan kecerdasan dari ketiadaan, melainkan menyediakan lahan subur agar percikan kecerdasan alami dalam diri setiap manusia dapat menyala menjadi api pembebasan. (Timika, 09082026)

Related posts