Negeri Tanpa Peta

CERPEN. 001.27092026

 

Negeri Tanpa Peta

Cerpen : Mustaqiem Eska

 

 

 

Pagi itu, kabut anggaran turun lebih pekat dari biasanya, membungkus istana megah yang atapnya dibangun dari tumpukan berkas undang-undang setengah matang. Di negeri itu—sebuah hamparan daratan ajaib yang tak pernah sudi disinggahi oleh jarum kompas para kartograf dunia—segala sesuatunya berjalan menurut hukum retorika yang amat anggun. Negeri itu tidak memiliki nama resmi di atas peta, sebab sejarah kerap terlalu malu untuk mencatatnya. Namun, di warung kopi tempat rakyat bertukar bisik ketakutan, mereka menyebutnya Konoha: Negeri Seribu Amplop.

​Di Konoha, demokrasi adalah pertunjukan teater raksasa. Setiap lima tahun sekali, rakyat berbondong-bondong merayakan pesta rakyat, memilih jubah untuk para penguasa. Namun, begitu layar akrobat ditutup, jubah-jubah itu serta-merta berubah menjadi mahkota. Kerajaan yang tersembunyi di balik bilik suara itu pun bekerja kembali.

​Kebijakan demi kebijakan lahir dari gedung parlemen yang lebih mirip pasar lelang. Suatu hari, pemerintah mengeluarkan dekrit pajak udara untuk bernapas; hari berikutnya, mereka menjual hak milik atas sinar matahari kepada pengusaha asing. Anehnya, apa pun hasil keputusan yang ditandatangani dengan tinta emas di atas meja marmer itu, penderitaannya selalu ditagihkan ke pintu-pintu rumah rakyat kecil. Jika beras langka, rakyat yang diminta berhemat; jika kas negara bokek karena dikorup, kantong rakyat yang diperas habis.

​Siapa pun yang berani meniup peluit sumbang di tengah simfoni kekuasaan ini akan segera mendapati lidahnya dipotong oleh pasal-pasal karet. Suara kritik tak pernah dibiarkan membubung tinggi; ia disergap di udara, dibungkus rapi, lalu ditenggelamkan ke dalam sunyi.

​Hingga terjadilah hari itu. Dari debu jalanan yang kumal, bangkit seorang pemuda bernama Teguh. Nama itu bukan sekadar deretan huruf, melainkan sebuah catatan. Bersama aliansi pemuda dan buruh yang matanya masih menyimpan nyala api kebenaran, Teguh membentangkan spanduk-spanduk perlawanan.

​”Kita tidak boleh terus menjadi tumbal dari dongeng-dongeng negeri yang menyamar ini!” teriak Teguh di depan gedung dewan yang tuli. Suaranya lantang, menggelegar menembus tembok-tembok kekuasaan yang mulai retak oleh keserakahan mereka sendiri.

​Beberapa kali Teguh memimpin massa. Mereka berbaris menghadang peluru asap dan rayuan manis para pejabat. Gejolak merambat dari lorong-lorong sempit hingga ke alun-alun kota. Pertentangan melebar, menciptakan retakan besar pada pondasi kekuasaan tanpa mahkota. Teguh merasa, hari pembebasan itu tinggal beberapa langkah lagi.

​Namun, sejarah di negeri tanpa peta senantiasa ditulis dengan tinta yang amis oleh amplop cokelat.

​Sementara senja yang temaram, di puncak gelombang perlawanan yang ia bina dengan darah dan keringat, Teguh berdiri di atas panggung mimbar rakyat. Ia bersiap memanggil seluruh jiwa yang tertindas untuk melakukan aksi puncak. Namun, ketika ia menatap ke arah kerumunan, langkahnya terhenti. Suasana senyap secara mengerikan.

​Satu per satu barisan rakyat di belakangnya mulai melangkah mundur. Bukan karena dihalau oleh bayonet tentara, melainkan karena tangan-tangan mereka tengah sibuk menggenggam sesuatu di dalam saku baju. Amplop-amplop cokelat tipis—yang berisi beberapa lembar uang kertas berseri baru, janji sembako murah, dan voucher bantuan sosial—telah dibagikan secara senyap dari pintu ke pintu oleh para kurir semalam sebelum fajar.

​Rakyat yang kemarin menjerit karena ditindas, kini tersenyum simpul. Mereka saling berbisik, memuji kebaikan ‘kekuasaan” yang tiba-tiba “dermawan”. Kebijakan yang meremas leher mereka kemarin sore, seolah terhapus begitu saja oleh remah-remah rupiah yang tak seberapa. Bagi mereka, tak apa leher tercekik besok lusa, asalkan malam ini dapur bisa mengepul.

​Teguh perlahan menyandarkan tubuhnya pada tiang bendera yang kusam. Ia terduduk lesu di atas trotoar yang dingin, memandangi megahnya negeri di kejauhan dan kerumunan rakyat di hadapannya. Aliansinya terurai begitu cepat seperti benang lapuk.

​Ia baru menyadari sebuah kenyataan yang paling getir dan satir: musuh terbesarnya bukanlah para penguasa yang semena-mena di dalam negeri, melainkan jiwa-jiwa yang telah jatuh cinta pada rantai yang mengikat mereka sendiri.

​Di negeri tanpa peta itu, perlawanan akhirnya tumpas bukan oleh senjata, melainkan oleh pesona manis dari sebuah amplop cokelat. Dan Konoha tetap berdiri megah dalam ketiadaan, abadi dalam peta kejahatan yang direstui oleh korban-korbannya sendiri. (Timika, 27092026)