Dunia di Dalam Kamar

POJOK

 

Dunia di Dalam Kamar

​Oleh: Mustaqiem Eska

 

“Bagi jiwa yang hidup, kamar bukanlah kurungan tempat meratapi nasib, melainkan pusat kendali tempat navigasi batin diarahkan menuju seluruh penjuru semesta.”

 

​(pdlFile.com) Secara topografis, kamar hanyalah bentangan semen dan tembok berukuran beberapa meter persegi, diapit oleh pintu kayu dan jendela kecil yang membatasi pandangan mata ke luar. Namun, di dalam secara nalar dan batin yang jernih, sudut pandang kerap terjadi ketika manusia mengukur kebebasan hidup hanya dari luasnya peta geografis yang berhasil diinjak oleh kakinya.

Terkadang, kita mengidap claustrophobia spiritual -merasa terkurung dan sesak saat nasib menaruhnya di dalam ruangan yang sempit, lalu menyudutkan dinding-dindingnya, seolah-olah dinding itu adalah sel penjara. Padahal, sempit atau luasnya lanskap kehidupan tidak pernah ditentukan oleh ukuran patok tanah, melainkan oleh skala kelapangan batin yang menampungnya.

​Membiarkan jiwa merasa kerdil hanya karena berada di dalam ruang kamar yang terbatas adalah kekalahan. Tempat dan situasi hanyalah variabel luar (external parameters) yang tak punya daya mekanis untuk memenjarakan daya jelajah pikiran.

Sebuah hati yang lapang tidak akan pernah sanggup didekap atau dikandangkan oleh sekat-sekat tembok. Ketika seseorang mampu menata nuraninya dengan presisi, empat sudut kamar tidur mendadak terkonversi menjadi laboratorium pemikiran yang tanpa batas. Di sanalah tempat ide-ide liar diracik, bacaan direnungkan, dan kenyataan hidup dibedah hingga ke akar-akarnya.

Bagi jiwa yang hidup, kamar bukanlah kurungan tempat meratapi nasib, melainkan pusat kendali tempat navigasi batin diarahkan menuju seluruh penjuru semesta.

​Jadi betapa disayangkan, melihat orang-orang yang melanglang buana menyeberangi lautan dan benua, namun batinnya tetap kerdil, kaku, dan sesak oleh prasangka. Mereka memamerkan jejak langkah di ribuan kota, padahal jiwa mereka sesungguhnya terkurung di dalam cangkang ego yang sempitnya tak lebih dari satu inci. Sebaliknya, dari dalam kamar bersahaja yang sunyi, seorang hamba yang berilmu sanggup menyaksikan betapa megahnya jagat raya yang dibentangkan oleh Allah Ta’ala, Sang Maha Pengatur.

Dunia ini sungguh teramat luas—seluas miliaran kepingan puzzle hikmah yang sengaja disebar oleh Allah di balik setiap helai daun, dalam desis angin yang menerobos celah jendela, hingga pada setiap tarikan napas di dalam keheningan. Mengapa harus merasa terisolasi, jika seluruh kepingan itu senantiasa menanti untuk dirangkai menjadi bangunan pengetahuan yang utuh?

​Menjadikan “dunia di dalam kamar” tetap seluas samudra adalah puncak keteguhan kemewahan seorang hamba, kepasrahan yang aktif. Dan di dalam kamar itulah engkau merangkai puzzle ilmu, mengeja hamparan rakhmat-Nya, dan berbisik dalam sujud yang menembus langit.

Maka, jangan pernah melaknat ruangan yang sempit. Lapangkan dadamu dengan ketulusan dan dzikrullah, sebab bagi jiwa yang merdeka, batas terluar dari dunianya bukanlah tembok, melainkan batas kasih sayang Ilahi yang tak pernah bertepi. (Timika, 03102026)

Related posts