POJOK
Manusia Tanpa Rumus
Oleh: Mustaqiem Eska
“Barangsiapa memandang dirinya sebagai formula yang selesai, ia telah menutup pintu kemungkinan Ilahi. Sebab, keindahan jiwa justru terpancar saat ia berdiri dengan polos di hadapan ketakpastian.”
(pdlFile.com) Terlalu barmbisi dengan seakan bisa menyelesaikan hidup dengan hitung-hitungan rumus. Padahal rumus se presisi apapun akan runtuh dengan kenyataan bahwa ‘la haul awa la quwwata illa billah.’ Itulah kelemehan mendasar kita sebagai peradaban modern saat ini, Dimana ambisinya yang terlalu berlebihan untuk memformulasikan jiwa. Kita tumbuh dalam sangkar prasangka bahwa segala yang wujud mesti memiliki pola yang presisi.
Kita menggambar grafik untuk mengukur kebahagiaan, mematok algoritma untuk mendefinisikan cinta, dan merumuskan kurva untuk meramalkan masa depan. Kita hendak menjadikan manusia tak ubahnya persamaan matematik : jika diberikan X (usaha) dan Y (kesempatan), maka niscaya lahir Z (kejayaan). Namun, hikmah membisikkan kenyataan yang berlawanan. Manusia bukanlah deretan angka yang tunduk pada takaran laboratorium. Manusia adalah rahasia yang bergerak.
Ketika jiwa dicoba untuk dimasukkan ke dalam cetakan rumus, ia tidak menjadi rapi. Ia justru sesak dan patah. Watak sejati manusia adalah ketidakterdugaan. Jiwa bisa menangis di puncak kemenangan, atau mendadak tersenyum penuh ketenangan di tengah reruntuhan nestapa. Rumus mana yang sanggup menghitung kalkulasi air mata keberanian? Persamaan mana yang sanggup mengukur bobot sebuah keikhlasan?
Secara hikmah, manusia dipandang sebagai pintu, bukan dinding. Dinding adalah struktur yang kaku dan terukur—ia memiliki panjang, lebar, serta daya tahan beban yang pasti. Sementara pintu adalah entitas yang nilainya tidak terletak pada bingkai kayunya, melainkan pada kemungkinan apa yang membuka dan melintas di baliknya.
Manusia yang memaksakan dirinya hidup dengan rumus akan senantiasa diganjar kekecewaan. Sebab, logika rumus menuntut hasil yang simetris, sedangkan semesta bergerak dalam kehendak yang melampaui simetri. Hikmah mengajar kita untuk membedakan antara “pengetahuan” (‘ilm) dan “kebijaksanaan” (hikmah). Pengetahuan berburu rumus untuk menguasai objek, kebijaksanaan melepas rumus untuk memahami hakikat.
“Barangsiapa memandang dirinya sebagai formula yang selesai, ia telah menutup pintu kemungkinan Ilahi. Sebab, keindahan jiwa justru terpancar saat ia berdiri dengan polos di hadapan ketakpastian.”
Menjadi “manusia tanpa rumus” adalah rumus. Ya, rumus untuk kerendahan hati (tawadhu’).Rumus kesadaran mendalam bahwa akal manusia hanyalah perahu kecil di atas samudra takdir yang tak bertepi. Saat kita melepaskan ketaatan buta pada rumus-rumus buatan manusia—rumus sukses instan, rumus kebahagiaan standar, rumus alur hidup seragam—saat itulah kita mulai benar-benar bernapas sebagai makhluk yang bernyawa.
Manusia tanpa rumus laksana manusia yang mampu berdamai dengan takdir tanpa kehilangan daya. Ia tidak lagi menuntut agar dunia bersikap sesuai dengan kalkulasi logikanya. Ketika derita menyapa, ia tidak tersinggung seolah-olah ada kesalahan hitung dalam sistem kehidupan. Ia menerimanya sebagai bentangan pelajaran yang belum usai dibaca.
Di sanalah puncak kebebasan jiwa ditemukan. Bahwa tatkala seseorang tidak lagi didefinisikan oleh skor, tolok ukur, atau prasangka zamannya. Ia menjadi seperti air—tidak memiliki bentuk tetap, namun sanggup memberi kehidupan pada apa pun yang disentuhnya; tidak mengusung rumus presisi, namun senantiasa menemukan jalan menuju muara.
Jadi, hidup bukanlah soal menyelesaikan soal matematika kehidupan agar mendapat nilai sempurna di mata manusia. Hidup adalah keberanian untuk melangkah menembus ketidakpastian, sembari terus menjaga agar lentera hikmah di dalam dada tidak padam oleh angin prasangka. (Timika, 22102026)

