Novel : PENJAHAT
Oleh : Mustaqiem Eska
Wajah Tanpa Nama
(2)
Matahari di atas langit lapas tidak pernah memihak. Ia hanya mengirimkan seberkas cahaya vertikal yang jatuh di atas lantai semen yang retak, membelah kegelapan labirin besi itu menjadi dua belahan rasa sakit. Di dalam perimeter tembok setinggi pohon kelapa yang dipuncaki kawat berduri, waktu berjalan merayap. Kompleks jeruji ini bukan lagi sekadar tempat penahanan, melainkan sebuah kawah komunal di mana dua dunia yang bertolak belakang dipaksa berhimpit, berbagi aroma pesing dan keputusasaan yang sama.
Mereka adalah wajah-wajah tanpa nama. Identitas asli mereka telah disita di gerbang depan, digantikan oleh deretan angka pada papan dada dan stigma yang melekat di jidat. Namun, garis-garis wajah dan sorot mata mereka tidak bisa berbohong. Di dalam belantara besi ini, dihuni oleh anak-anak bukit dari Suku Gunung, dan para pengarung ombak dari Suku Pantai, sisanya pendatang.
Pertemuan dua suku ini di dalam lapas menciptakan bentang alam baru yang ganjil. Di sudut-sudut sel yang gelap dan lembap, bersila orang-orang Suku Gunung. Kulit mereka legam terbakar matahari dataran tinggi, dengan telapak tangan yang tebal dan kasar akibat bertahun-tahun mencangkul tanah atau membelah rimba. Mereka adalah manusia-manusia dengan watak sekukuh batu gunung, bicaranya irit namun tajam, dan menyimpan amarah yang diam seperti magma di perut bumi. Sebagian besar dari mereka terperangkap di sini karena mempertahankan tanah adat dengan parang, atau terjebak konflik darah yang diwariskan leluhur. Di penjara ini, mereka merindukan kabut pagi dan aroma tanah basah, digantikan oleh sesaknya udara yang mandek.
Kontras dengan keheningan batu itu, di sisi dekat lapangan yang berdebu, berkumpul kelompok Suku Pantai. Garis wajah mereka lebih lentur namun keras oleh terpaan angin samudra. Suara mereka menggelegar, terbiasa berteriak melawan gemuruh ombak. Mereka adalah mantan-mantan pelaut, nelayan, atau pemuda dermaga yang tersesat dalam gelapnya penyelundupan atau perkelahian antarkampung di pesisir. Di mata mereka yang kemerahan, masih ada sisa-sisa horizon laut lepas yang tak bertepi. Di dalam jeruji ini, hilangnya kemerdekaan untuk memandang kaki langit adalah siksaan yang lebih kejam daripada cambukan sipir.
Ketika malam menjemput dan gerbang-gerbang sel dikunci dengan dentang besi yang memekakkan telinga, labirin itu berubah menjadi belantara yang sesungguhnya. Hukum rimba berkuasa tanpa perlu ditulis.
”Di sini, gunung tidak bisa berpindah, dan laut tidak bisa meluap tanpa memakan korban.”
Suku Gunung dengan keteguhannya sering kali menjadi benteng pertahanan yang sulit ditembus. Sekali mereka merasa terusik, solidaritas darah akan menyala, dingin dan mematikan. Sementara Suku Pantai, bagaikan ombak pasang, bisa mendadak meledak menyerbu siapa saja yang berani menantang harga diri mereka. Di tengah-tengah dua poros inilah sisa napi lainnya—para penjahat kerah putih dan pencopet kota—berlindung di bawah ketiak siapa saja yang memegang kendali atas pasokan rokok dan air bersih.
Hidup di perkampungan para bajingan ini adalah tentang bagaimana caranya bertahan hingga esok pagi. Tidak ada lagi ruang untuk merenungi masa depan atau menghitung hari kepulangan. Bagi anak gunung yang kehilangan bukitnya dan anak pantai yang kehilangan lautnya, jeruji besi ini telah mengubur bentang alam mereka. Mereka pasrah, mati rasa, dan melebur menjadi kawanan tak bernama yang perlahan-lahan belajar mengunyah takdir pahit di atas lantai semen yang dingin.
Ketika malam benar-benar murni dan lampu-lampu neon koridor mulai meremang, bisingnya jeritan hukum rimba perlahan surut. Berganti dengan jenis teror lain yang jauh lebih mengerikan: suara di dalam kepala mereka sendiri.
Saat tubuh-tubuh legam itu telentang berdampingan di atas lantai semen yang sempit—berbagi ruang beberapa senti saja dengan tubuh lain—labirin besi itu seketika berubah menjadi teater drama yang mencekam. Di sinilah perang yang sesungguhnya berkecamuk. Tanpa senjata, tanpa kepalan tangan, namun penuh dengan darah penyesalan yang tak terlihat.
Bayang Kabut dan Darah yang Membeku
Bagi anak-anak bukit, malam adalah waktu di mana dinding sel mendadak menyempit, menghimpit dada mereka hingga sesak. Di dalam kepala Lewi, seorang lelaki Suku Gunung yang divonis belasan tahun karena parangnya membelah dada seorang mandor sawit, malam selalu membawa aroma yang sama: bau tanah basah setelah hujan di lereng bukit, bercampur amis darah yang tak bisa dibilas dari ingatannya.
“Apakah tanaman kopi di belakang gubuk sudah berbuah? Atau sudah mati semak belukar?” pikirnya, menatap langit-langit sel yang berjamur.
Setiap malam, drama di kepalanya selalu mementaskan adegan yang sama: wajah istrinya yang menangis di ambang pintu saat ia diseret petugas, dan wajah korban yang melotot menuntut balas. Baginya, kegelapan malam di penjara adalah sidang pengadilan mistis yang jauh lebih kejam daripada palu hakim. Di dalam kepalanya, Lewi tidak sedang tidur; ia sedang dikuliti oleh rasa bersalah yang dingin, sekeras batu-batu gunung yang dulu ia pecahkan.
Gemuruh Ombak
Di sudut sel yang lain, Erua, pemuda suku pantai yang terjebak kasus penyelundupan bersenjata, sedang mencengkeram kepalanya sendiri. Bagi orang pantai, kurungan adalah antonim dari jiwa mereka. Jiwa yang terbiasa memandang kaki langit tanpa batas kini dipaksa membentur tembok empat mata angin yang jaraknya tak sampai lima langkah.
Di dalam kepala Erua, ada drama tentang badai. Ia tidak mendengar dengkur napi di sebelahnya; yang ia dengar adalah gemuruh ombak pasang yang menghantam perahunya. Namun dalam mimpinya kali ini, perahu itu karam, dan ia tenggelam bukan di dalam air laut yang asin, melainkan di dalam cairan pekat yang berbau besi karat penjara.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat ibunya berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan menanti kepulangannya yang tak pernah pasti. Pekikan burung camar dalam ingatannya mendadak berubah menjadi bunyi peluit sipir yang melengking, membuyarkan sisa-sisa kewarasannya. Ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan, kalah oleh aturan tak tertulis lapas: siapa yang berteriak di malam hari adalah pengecut yang siap menjadi mangsa.
Sunyi yang Berkarat
Lalu, bagaimana dengan Bondan? Sang pembunuh Kepala Lapas yang disegani itu tidur dengan mata setengah terbuka. Di dalam kepalanya, tidak ada drama tentang keluarga atau kerinduan. Ruang batin Bondan sudah seperti rumah kosong yang habis dibakar; hitam, hangus, dan runtuh.
Drama di kepala Bondan hanyalah sebuah kalkulasi dingin. “Siapa yang akan melompat ke arahku besok pagi?” “Apakah anak Suku Pantai di sel ujung akan mencoba menusukku saat jam makan siang?” “Berapa sisa umur pisau rakitan yang kusembunyikan di dalam kasur kumal ini?”
Bagi Bondan, memikirkan masa lalu atau masa depan adalah kelemahan fatal. Di dalam kepalanya, ia telah membunuh dirinya sendiri berkali-kali agar tidak perlu merasakan sakit lagi. Ketika napi lain bertarung dengan kerinduan dan penyesalan, Bondan bertarung dengan kesunyian yang berkarat—sebuah drama tanpa dialog, di mana ia adalah sutradara sekaligus algojo bagi pikirannya sendiri.
Malam merayap makin larut, dan labirin besi itu terus berdenyut. Di balik jeruji, ratusan kepala sedang bertempur dalam sunyi, masing-masing dihantui oleh hantu masa lalu mereka, menunggu fajar yang entah akan membawa penebusan atau justru kegilaan yang baru. ###
