POJOK
Ketika Tidak Ada Gagasan
Oleh: Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) Ada masa di mana kepala kita menjelma sebuah ruang tunggu bandara yang mendadak ditinggal seluruh penerbangan: lapang, lengang, dan hanya menyisakan derap langkah kita sendiri yang bergaung janggal. Pikiran yang biasanya bising oleh lalu lintas teori, tumpukan draf, atau kalkulasi teknis tentang bagaimana bumi ini mesti ditopang, tiba-tiba surut tanpa pamit. Kosong. Tidak ada satu pun gagasan yang sudi singgah, bahkan sekadar untuk judul atau menumpangkan imajinasi semalam saja.
Di hadapan layar yang terus mengedipkan kursor—sebuah titik hitam yang melompat-lompat menirukan detak jantung yang cemas—kita tersadar betapa rapuhnya kedudukan seorang penulis. Kursor itu seperti ejekan. menanti kalimat pertama, sementara di dalam tempurung kepala, kalimat-kalimat justru saling bertabrakan lalu meleleh menjadi bubur yang tak berakar. Kita mengetik satu kata, menghapusnya dua – lima kali, lalu menatap jendela seolah-olah jawaban atas peradaban sedang digantungkan Tuhan di pucuk daun poohon kelapa yang diterpa angin sore.
Dalam kekosongan itu, bank otak untuk berpikir menjadi runtuh dengan sangat estetis. Kita yang kerap merasa sanggup merumuskan formula untuk memikul beban, kini gagap menghadapi selembar halaman putih. Manusia memang lucu, bahwa ketika dipenuhi gagasan, kita berlagak seperti arsitek semesta. Namun saat tak punya gagasan, kita mendadak ramah pada kesunyian yang paling dungu. Kita mulai menghitung jumlah semut yang melintas di tepi meja, atau mendadak menaruh minat pergi ke Pantai, pergi ke gunung, atau menghabiskan waktu pada ketebalan debu di sudut rak buku.
Namun, bukankah zaman ini justru paling sering digerakkan oleh mereka yang tak memiliki gagasan?
Lihatlah di luar sana. Panggung-panggung publik bising oleh ribuan mulut yang tak pernah kehabisan kata-kata, meski di balik tempurung kepalanya tak ada satu pun gagasan yang bernyawa. Mereka bicara dengan retorika yang murni, berbusa-busa, memikul beban slogan yang megah, namun sesungguhnya hanya sedang memutar rekaman kosong yang diulang-ulang. Di era di mana kekosongan bisa dikemas dengan amat cantik dan disepuh warna emas, tidak punya gagasan bukanlah lagi sebuah cacat—ia telah menjelma syarat utama untuk tampak selalu sibuk dan meyakinkan.
Ya, mungkin tidak memiliki gagasan adalah sebuah rahmat yang menyamar sebagai kebuntuan. Itu adalah jeda di mana ego dituntut untuk berhenti memproduksi keramaian. Seperti tanah yang sengaja dibiarkan, agar hara di kedalaman bumi sempat bernapas kembali, kepala yang buntu sesungguhnya hanya sedang menolak untuk berpura-pura pintar.
Biarkan saja kursor itu terus berkedip. Tak perlu terburu-buru menyemen kekosongan dengan kata-kata yang palsu. Sebab kerap kali, gagasan terbaik tidak lahir dari ketergesaan kita untuk terlihat bijaksana, melainkan dari keberanian kita untuk duduk diam, mengakui telanjang di hadapan diri sendiri: bahwa hari ini, kita memang tidak punya apa-apa untuk dikatakan. (Timika, 13092026)