#TSP – 006 – 18062026
Gen-Z Menggugat :
“Sekolah Produk Wasting Time, Wasting Money”
Oleh : Mustaqiem Eska
( pdlFile.com ) Di hadapan layar gadget, generasi Z hari ini berdiri sebagai saksi sekaligus pelaku dari sebuah patahan zaman. Era ketika pengetahuan tidak lagi disimpan rapat di perpustakaan tanpa pengunjung atau di balik dinding-dinding tebal ruang kelas, melainkan berdenyut jernih dalam hitungan milidetik di ujung jari. Menghadapi dinamika ini, sebuah gugatan radikal lahir dari benak mereka terhadap lembaga pendidikan konvensional: apakah sekolah kini telah menjelma menjadi sebuah ruang ‘wasting time, wasting money’—sebuah pemborosan waktu dan materi yang sia-sia?
Ketika akses informasi begitu dekat di depan mata—cukup membuka, bertanya, dan mengembangkan AI—kecakapan baru dapat direngguk dengan akselerasi yang mencengangkan. Pertanyaan eksistensial ini pun menuntut jawaban jujur: lantas, apa fungsi sekolah berikutnya jika ia harus terus menghabiskan energi waktu dan kapital yang tak sedikit?
Hemmm, pandangan Gen-Z yang menganggap sekolah sebagai pemborosan adalah sebuah lompatan epistemologis yang sah. AI telah berhasil mendemokrasikan pengetahuan, meruntuhkan monopoli kebenaran yang selama ini dipegang oleh mimbar-mimbar akademik. Jika sekolah hanya diartikan sebagai tempat transfer informasi (transfer of knowledge), maka secara ontologis, urgensi sekolah memang telah mati.
Namun, mari melihat secara hakikat, bahwa sejatinya pengetahuan yang disajikan oleh AI—meski secepat kilat—adalah pengetahuan yang terfragmentasi, objektif, dan kerap kali hampa dari sentuhan eksistensial. Mengetahui (knowing) tidak sama dengan mengada (being). Di sinilah fungsi baru sekolah harus didekonstruksi: dari yang semula menjadi pusat informasi, beralih menjadi ruang inkubasi otentisitas diri (Dasein).
Sekolah di era teknologi harus bertindak sebagai jangkar spiritual dan moral yang berbasis keilahian. Di tengah banjir informasi yang acak, manusia muda membutuhkan kerendahan hati filosofis untuk memilah mana “alat” dan mana “tujuan”. AI bisa memberikan ribuan jawaban, tetapi ia tidak pernah bisa mengajarkan makna dari sebuah pencarian, rasa tanggung jawab, keteguhan batin (tawakal), serta kedaulatan jiwa saat menghadapi ketidakpastian dunia.
Sekolah masa depan adalah ruang bertemunya jiwa-jiwa untuk merayakan kemanusiaan, tempat di mana kebijaksanaan (wisdom) ditempa, bukan sekadar kecerdasan buatan (intelligence).
Begitu jika batin dan kecakapan manusia dipandang dari kacamata teknik rekayasa (engineering), kemudahan yang ditawarkan oleh AI ibarat sebuah komponen instan dengan spesifikasi tinggi. Namun, sebuah mesin yang canggih tidak akan bisa bekerja jika ia tidak diletakkan dalam sebuah sistem mekanis yang selaras (structural alignment).
Gen-Z benar bahwa AI memberikan efisiensi luar biasa. Namun, dari segi teknis, kemampuan bertanya pada AI (prompt engineering) tetap membutuhkan struktur logika berpikir tingkat tinggi yang runtut. Tanpa fondasi berpikir yang kokoh, interaksi dengan AI hanya akan menghasilkan distorsi kognitif dan disipasi energi—sebuah kondisi di mana waktu habis berselancar dari satu fitur ke fitur lain tanpa menghasilkan kemandirian yang konkret (entropi jiwa).
Sekolah dalam pendekatan teknik harus mengubah cetak birunya (blueprint) layaknya
kalibrasi dan verifikasi sistem. Di era disrupsi, sekolah berfungsi sebagai laboratorium validasi. Ketika AI menyajikan data, sekolah adalah tempat untuk menguji, mengkritisi, dan melakukan load testing (uji beban) atas keahlian tersebut dalam realitas sosial yang nyata.
Akselerasi teknologi yang terlalu cepat menciptakan beban dinamik yang tinggi pada mental generasi muda. Sekolah harus direkayasa menjadi ruang yang melatih resilience (ketahanan), tempat mendistribusikan beban emosi, sehingga kepribadian mereka tidak patah atau mengalami kegagalan struktur akibat kecemasan global.
Sekolah tidak lagi bertugas membuat “batu bata” pengetahuan, karena AI sudah menyediakannya. Tugas sekolah adalah mengajari teknik merangkai batu bata tersebut menjadi sebuah bangunan kepribadian yang kokoh, mandiri, dan berdaulat.
Selanjutnya, skeptisism Gen-Z adalah alarm keras bagi kurikulum gaya lama yang masih mengagungkan hafalan dan standarisasi kaku. Pendidikan yang tidak membebaskan hanya akan memperkuat label wasting time, wasting money. Jika sekolah masa kini menuntut biaya mahal dan waktu bertahun-tahun hanya untuk mengajarkan apa yang bisa dijawab AI dalam tiga detik, maka lembaga tersebut sedang berjalan menuju kepunahannya sendiri.
Fungsi sekolah berikutnya harus dikembalikan pada akar sejatinya: educere—menuntun keluar potensi terdalam yang masih terkunci di dalam diri anak didik. Pendidikan di era AI harus mengadopsi kurikulum yang memerdekakan.
AI tidak memiliki rasa empati, tidak mengenal air mata perjuangan, dan tidak tahu arti sejati dari gotong royong. Sekolah harus menjadi ruang inkubasi sosial, tempat melatih negosiasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang berwujud nyata dalam interaksi antarmanusia.
Sepertinya, kurikulum masa depan tidak boleh lagi mengikat anak didik pada ketergantungan terhadap institusi. Sekolah harus melatih mereka menjadi pembelajar mandiri yang berdaulat, yang tahu cara menggunakan AI sebagai alat akselerasi, bukan sebagai pengganti otak dan hati mereka.
Gugatan Gen-Z bukanlah tanda runtuhnya hasrat belajar, melainkan sebuah tuntutan radikal agar lembaga pendidikan melakukan “hijrah” struktural. Sekolah tidak boleh lagi bersaing dengan AI dalam hal kecepatan menyediakan informasi—karena itu adalah pertempuran yang pasti kalah.
Ketika fungsi sekolah bergeser dari menara gading transfer data menjadi sebuah arsitektur pembentukan jiwa yang berbasis keilahian, kerendahan hati, dan ketekunan proses, maka sekolah tidak akan pernah menjadi kesia-siaan. Ia akan tetap tegak berdiri sebagai busur yang stabil, yang melesatkan generasi baru sebagai mata panah yang mandiri, berdaulat, dan siap menaklukkan cakrawala masa depan yang penuh ketidakpastian. Semoga bermanfaat. (Timika, 18062026)
