Kekalahan yang Dirayakan (Penulis yang Bertekuk Lutut di Hadapan Pembaca)

#TSP – 017 – 29062026

 

Kekalahan yang Dirayakan

(Penulis yang Bertekuk Lutut di Hadapan Pembaca)

 

Oleh : Mustaqiem Eska

 

————–

Setiap Penulis pasti akan dikalahkan oleh Pembaca.  Penulis membutuhkan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan seumur hidupnya untuk menuntaskan seluruh isi bukunya. Sedang Pembaca hanya butuh waktu berhari-hari atau paling lama beberapa bulan untuk membaca semua pemikiran Penulis di dalam bukunya.

————–

 

 

(pdlFile.com) ​Mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk makhluk paling masokis di muka bumi: Penulis.

 

​Bayangkan sebuah kompetisi yang begitu tidak adil, di mana satu pihak harus menguras darah, air mata, kafein, dan kewarasan selama bertahun-tahun, hanya untuk ditaklukkan oleh pihak lain yang sedang selonjoran sambil mengunyah keripik kentang dalam waktu tiga hari, hemmm…

 

​Selamat datang di realitas industri literasi. Sebuah medan perang abadi di mana Penulis, secara matematis dan tragis, ditakdirkan untuk selalu kalah telak dari Pembaca. Mau bukti? ​Mari kita kalkulasi ketimpangannya.​Untuk melahirkan sebuah buku—katakanlah sebuah novel tebal atau buku filsafat yang berat—seorang penulis harus melewati siklus siksaan yang setara dengan mendaki gunung tertinggi bertelanjang kaki:

 

​Dalam tahun pertama perjalanannya, Penulis harus mengurung diri, bertengkar dengan writer’s block, dan mengabaikan kehidupan sosial sampai dikira ikut sekte sesat.

 

​Tahun keduanya, ia mengetik, menghapus, merobek draf, menangis di pojokan kamar, lalu mengedit ulang satu kalimat sampai subuh demi estetika yang belum tentu dipahami orang.

 

Hingga pada ​tahun ketiga, Penulis menyelesaikan naskah dengan bonus kaki kesemutan, pinggang encok, rambut rontok, dan minus mata yang bertambah.

 

​Penulis telah mengorbankan sebagian dari umurnya. Mereka menaruh seluruh isi kepala, jiwa, dan barangkali sisa-sisa kewarasan mereka ke dalam lembaran-lembaran itu.

​Lalu, datanglah sang megaloman bernama Pembaca.

 

​Dengan modal uang beberapa puluh ribu (atau lebih parah: meminjam, atau berburu PDF bajakan, si pembaca membawa pulang “seluruh hidup” si penulis. Sambil rebahan di kasur empuk, kamar ber -AC ditemani segelas es kopi susu, mereka membuka halaman pertama.

 

​Wussss… hanya butuh waktu tiga hari, atau paling lama satu dua minggu bagi Pembaca yang agak malas, untuk melahap habis apa yang dirakit penulis selama tiga tahun. ​Tiga tahun kerja rodi intelektual, ditumbangkan hanya dalam waktu beberapa sesi buang air besar di toilet. Sungguh sebuah efisiensi penghinaan yang luar biasa.

 

Pembaca adalah ​kolonialisme pikiran yang paling legal. Penulis adalah bangsa yang dijajah. Mereka membangun infrastruktur gagasan dengan susah payah. Pembaca adalah penjajah yang datang belakangan, langsung merebut hasil bumi, lalu mengklaim, “Ah, pemikiranmu sudah aku kuasai sekarang.”

 

​Semua rahasia terdalam Penulis, hasil perenungan spiritual mereka di malam-malam sepi, kini berpindah ke kepala pembaca yang mungkin membacanya sambil sesekali membalas pesan WhatsApp. Penulis tidak lagi memiliki privasi. Otak mereka telah “ditelanjangi” dan diekstrak sarinya dengan kecepatan yang tidak sopan.

 

​Lebih tragis lagi jika setelah membaca cepat itu, si pembaca menutup buku, menguap, lalu menulis ulasan di dalam statusnya : ​”Ceritanya agak membosankan di tengah, eksekusinya kurang dapet. Jelek.”

 

​Boommm !!! Tiga tahun hidup si penulis hancur lebur di tangan jempol seorang amatir dalam waktu tiga detik.

 

Kekalahan yang Dirayakan

 

​Namun, di sinilah letak ironi paling puncak dari komedi putar ini, bahwa Penulis menyukai kekalahan ini.

 

​Mereka sengaja mengasah pisau yang akan digunakan pembaca untuk menyembelih mereka. Mereka dengan sukarela menghabiskan seumur hidup mereka di depan laptop, menjadi martir, agar ada orang asing di luar sana yang bisa menertawakan, menangisi, atau mengkritik isi kepala mereka dalam waktu semalam.

 

​Jadi, untuk para Pembaca: selamat, Anda adalah pemenang absolut dalam rantai makanan ini. Anda adalah predator waktu. Tapi ingatlah, setiap kali Anda membalik halaman dengan cepat, ada punggung seorang penulis yang sedang memekik kesakitan karena pinggang terasa patah yang mereka dapatkan demi menghibur Anda.

 

​Bacalah dengan pelan-pelan, setidaknya sebagai bentuk penghormatan seremonial bagi musuh yang sudah menyerah kalah sebelum bertanding. (Timika, 29062026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *