#TSP- 010 – 23062026
Menggenggam Bara, Menjaga Nyala
Oleh : Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) Dunia hari ini bergerak dalam kecepatan yang mencemaskan. Batas antara yang sakral dan yang profan kian kabur, tersaru dalam riuh kompromi dan pembenaran. Di tengah arus zaman yang menuntut segalanya serbainstan dan serbalonggar, merawat kebaikan dan kesucian spiritual tidak lagi sekadar menjadi pilihan hidup—ia telah menjelma menjadi sebuah perjuangan eksistensial yang sunyi sekaligus menyakitkan.
Jika membedah realitas ini melalui berbagai kacamata kehidupan, kita akan menemukan sebuah benang merah yang tebal.
Moralitas hari ini sering kali digiring menuju relativisme akut, di mana keburukan yang dilakukan masif dianggap sebagai kewajaran, dan kebenaran yang sunyi dianggap sebagai keanehan. Secara teknis-struktural, tatanan sosial kita sedang mengalami entropi hebat; sistem yang ada justru sering kali “memaksa” individu untuk melakukan kompromi-kompromi kecil—sebuah retakan mikro yang jika dibiarkan akan meruntuhkan seluruh fondasi integritas jiwa. Sementara dalam dimensi pendidikan, tantangan terbesar generasi ini bukan lagi keterbatasan ilmu, melainkan hilangnya keteladanan untuk bertahan di jalan yang mendaki. Dimana menjaga prinsip di tengah lingkungan yang abai membuat pelakunya kerap dipandang dengan tatapan ganjil.
Benar apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam belasan abad yang lalu. Beliau dengan presisi profetiknya menggambarkan potret manusia akhir zaman melalui dua kondisi yang saling mengunci:
Menjadi Asing (Gharib):
بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Menggenggam Bara Api:
يَأتي على الناسِ زمانٌ الصابرُ فيهم على دِينِهِ كالقَابِضِ على الجَمْرِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya di antara mereka seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)
Dua hadits ini bukan sekadar metafora tersatir yang indah, melainkan sebuah analisis risiko spiritual yang mutlak terjadi.
Mengapa bara api? Jika bara itu dilepas, maka padamlah cahaya iman dan kebaikan di dalam diri, meninggalkan diri dalam kegelapan moral yang pekat bersama arus zaman. Namun, jika bara itu digenggam, konsekuensinya adalah rasa sakit yang teramat sangat. Telapak tangan akan melepuh, daging terbakar oleh tekanan sosial, cibiran, keterasingan, bahkan sistem yang tidak berpihak pada kesucian.
Tapi, beruntunglah menjadi gharib (asing) di akhir zaman. Itu bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah kasta spiritual tertinggi.
Ketika mayoritas manusia menganggap kemaksiatan ringan sebagai kewajaran yang lumrah, maka mereka yang memilih jalan sunyi untuk tetap merawat kebaikan—meski harus terluka—adalah para arsitek sejati keselamatan zaman.
Maka, bagi setiap jiwa yang hari ini merasa lelah, merasa tersisih karena menolak berkompromi dengan keburukan, dan merasa jemarinya mulai melepuh karena mempertahankan prinsip: bertahanlah.
Rasa asing yang terrasakan adalah stempel otentik bahwa diri sedang berjalan melawan arus pembusukan zaman. Rasa panas di jemari adalah bukti nyata bahwa api iman itu masih menyala, menolak untuk padam oleh dinginnya badai moralitas dunia.
Karena pada akhirnya, di hadapan Sang Pencipta, luka lepuh akibat menggenggam bara kebaikan jauh lebih mulia ketimbang tangan yang mulus namun dipenuhi noda hitam dosa. (Timika, 23/06/2026)
