Saat Hati Rentan

#TSP -015 – 28062026

 

Saat Hati Rentan

Oleh : Mustaqiem Eska

 

“Innamal a’malu binniyat, wa innama likullimri’in ma nawa.” (Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan). (HR. Bukhari dan Muslim)

 

(pdlFile.com) ​Kehidupan ini, jika kita mau jujur, adalah sebuah panggung yang teramat rapuh. Kita berjalan di atas titian yang tipis, di mana kemungkinan untuk tergelincir, jatuh, dan gagal rasanya seribu kali lebih akrab menyapa ketimbang satu kali keberhasilan.

Hari ini kita merasa kuat, esok lusa bisa jadi kita hancur lebur oleh urusan yang sepele.
​Saking rentannya kita, musuh abadi manusia—iblis—sebenarnya tidak perlu repot-repot menyusun strategi yang rumit untuk menghancurkan kita. Tugas mereka sederhana saja: cukup memalingkan fokus kita sedikit saja dari tujuan utama, yaitu Allah Ta’ala. Ketika kompas batin kita bergeser, di situlah kita mulai tersesat. Maka tidak heran, dalam lini masa sejarahnya, manusia lantas akrab disebut sebagai makhluk yang tempatnya salah dan lupa (al-insanu mahallul khatha’ wan nisyan).

​Namun, Islam tidak membiarkan kita tersesat tanpa peta universal. Rasulullah sholallahu alaihi wasalam dalam hadisnya yang sangat fundamental menegaskan:
“Innamal a’malu binniyat, wa innama likullimri’in ma nawa.” (Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan). (HR. Bukhari dan Muslim)

​Dalam kacamata teknik, niat bukanlah sekadar bacaan di dalam hati sebelum beribadah. Niat adalah jangkar. Niat adalah langkah awal yang krusial untuk menjaga stabilitas tujuan hidup.

​Bayangkan sebuah mesin presisi tinggi. Seiring waktu, getaran, gesekan, dan medan eksternal pasti akan membuat komponennya bergeser. Jika terjadi pergeseran tujuan hidup—di mana nafsu mulai mendominasi atau dunia mulai membutakan—maka sistem tersebut perlu kembali dikalibrasi. Kalibrasi ini penting agar hidup kita kembali presisi, berjalan di atas rel yang jelas, dan tidak menghasilkan output yang cacat.

​Supaya arah hidup ini tetap selaras dengan garis desain sang Pencipta, kita harus konstan menjaga garis lurus itu: jalan Ilahi Rabbi. Kita tidak bisa mengandalkan kehebatan diri kita sendiri yang ringkih ini.
​Oleh karena itu, di tengah badai distraksi dunia yang siap membelokkan arah, jangan pernah putus untuk melangitkan doa yang diajarkan Nabi: ​“Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik wa ‘ala tha’atik.” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu).

​Mari sejenak menepi, memeriksa kompas batin kita, dan mulai mengalibrasi niat. Sebab jalan pulang yang lurus hanya bisa ditempuh oleh hati yang konsisten terjaga. Iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’iin ( Hanya kepadaMu hamba menyembah, dan hanya kepadaMu hamba mohon pertolongan). (Timika, 28062026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *