Novel : PENJAHAT
Penulis : Mustaqiem Eska
(4)
…Sepuluh tahun, sialan.
Angka itu terus berputar-putar di kepala Karto, berbarengan dengan bau apek kasur tipis dan aroma pesing yang menguar dari sudut sel. Setiap kali ia menatap jeruji besi yang dingin, rasa dongkol sekaligus geli yang aneh bergolak di dadanya.
Kalau diingat-ingat, takdir memang punya selera humor yang sangat bajingan.
Karto bukan maling amatiran. Di luar sana, namanya adalah legenda bisik-bisik di kalangan blantik dan penadah ternama. Ia adalah sang “Pesulap Kandang”. Sekali bergerak, puluhan ekor sapi di dalam satu kawasan bisa lenyap dalam semalam tanpa jejak, seolah-olah hewan-hewan berkaki empat itu menguap diculik alien. Strateginya rapi, jalurnya bersih, dan setorannya ke bos penadah selalu menggunakan truk-truk besar yang bergerak lincah di bawah radar aparat. Ratusan juta sudah pernah mampir ke dompetnya.Tapi malam nahas itu mengubah segalanya.
Malam itu, Karto sebenarnya sedang “pensiun sejenak”. Ia hanya sedang berjalan kaki melintasi pembatas desa, tanpa rencana, tanpa kru, dan tanpa truk andalannya. Sialnya, matanya menangkap seekor sapi jantan yang terikat asal-asalan di pinggir kebun singkong. Sapi itu kurus, jalannya agak pincang, dan jujur saja, harganya paling-paling tidak seberapa jika dibanding dengan aset yang biasa ia garap.
“Ah, iseng-iseng buat uang rokok,” batin Karto malam itu. Sebuah kesombongan yang harus dibayarnya mahal.
Baru saja ia menuntun tali sapi itu sejauh seratus meter, ranting kering berkersek. Bukan pemilik sapi yang muncul, melainkan gerombolan pemuda desa yang baru pulang ronda sambil membawa ronda sahur dan pentungan.
”Woi! Maling sapi!” teriakan itu memecah kesunyian malam.
Karto panik. Keahlian taktisnya mendadak lumpuh karena ia bergerak solo. Sapi sialan itu malah mendadak mogok, menolak ditarik, dan justru melenguh keras seolah mengonfirmasi tuduhan warga.
Dalam hitungan menit, Karto dikepung. Hukum jalanan pun berlaku. Bogem mentah, tendangan, hingga hantaman balok kayu mendarat bertubi-tubi di tubuhnya. Malam itu, seorang maestro pencuri puluhan sapi babak belur justru karena seekor sapi kurus yang bahkan dagingnya mungkin alot.
Kini, di dalam sel berukuran 4×6 meter yang dihuni belasan kepala, Karto harus menelan pil pahit. Hakim tidak mau tahu track record-nya yang bersih dari penangkapan sebelumnya—mereka hanya melihat amuk massa dan hilangnya ketenangan desa. Alhasil, vonis maksimal 10 tahun ketok palu.
”Oi, Napi Baru! Sini kamu!”
Suara serak itu memecah lamunan Karto. Di sudut sel yang agak lapang, duduk seorang pria berbadan gempal dengan tato naga yang sudah agak pudar di lengannya. Itu Jon, sang kepala kamar.
Karto merangkak mendekat dengan tubuh yang masih menyisakan linu bekas dikeroyok.
”Kasus apa kamu?” tanya Jon sambil mengembuskan asap rokoknya dalam-dalam.
”Mencuri sapi,” jawab Karto lirih, kepalanya menunduk.
Seketika, tawa meledak dari seisi kamar sel. Beberapa napi senior menggeleng-gelengkan kepala seolah mengejek kegoblokan Karto.
”Halah! hari gini masih ada aja yang main kasar nyolong sapi warga,” cibir salah satu napi kasus copet.
“Pasti ketangkap basah gara-gara sapinya ogah jalan, kan?”
Karto hanya tersenyum kecut, menahan diri untuk tidak berteriak:
“Heh! Kalau aku mau, sapi-sapi di kampungmu bisa kupindahkan ke pulau seberang dalam semalam!”
Namun, Karto sadar. Di sini, reputasi lamanya tidak ada gunanya. Di mata hukum dan teman-se-selnya, ia hanyalah sialan amatir yang apes ketangkap saat menggelandang seekor sapi. Sepuluh tahun ke depan akan berjalan sangat lama, dan Karto tahu, ia harus memutar otak bagaimana cara bertahan hidup di dalam sini—atau mungkin, mulai merancang jaringan baru langsung dari balik jeruji besi.
Mendengar teriakan Jon, nyali Karto yang dulunya setegar batu karang mendadak rontok. Di dunia luar, ia adalah bos yang memberi perintah pada anak buahnya untuk menaikkan puluhan sapi ke atas truk. Di sini, di dalam ruangan pengap berbau keringat dan pesing ini, ia tak lebih dari seekor anak ayam yang siap disembelih kapan saja.
”Dengar tidak, budak baru?!” bentak salah satu kaki tangan Jon, seorang napi bertubuh kerempeng namun bermata liar bernama siberat alias silet. Sebuah tendangan mendarat telak di pinggang Karto, membuatnya tersungkur mencium lantai semen yang dingin dan lengket.
Karto meringis, memegangi pinggangnya yang berdenyut ngilu. Ia ingin melawan. Jiwa premannya berontak. Namun, begitu ia mendongak dan melihat belasan pasang mata menatapnya dengan pandangan haus darah, ia tahu satu gerakan keliru berarti mati. Di dalam sel ini, tidak ada polisi yang akan datang melerai dengan cepat. Jika ia dikeroyok sampai mati, paling-paling laporannya hanya “mati karena sakit” atau “terpeleset di kamar mandi”.
Tradisi “Babu Sel”
Sejak hari itu, kehidupan Karto berubah total menjadi neraka jidat hitam. Tekanan mental yang ia hadapi jauh lebih menyiksa ketimbang rasa sakit fisik akibat bogem mentah. Statusnya sebagai “pesulap kandang” sirna, digantikan dengan status kasta terendah: Babu Kamar.
Setiap hari, jadwal Karto dipenuhi dengan penghinaan yang mengikis harga dirinya sampai habis.Menguras dan menyikat lantai kamar mandi sel yang super kotor dengan sabun batangan jatah yang sudah mengecil, tanpa sarung tangan. Jika masih tercium bau, kepala Karto taruhannya.
Bahkan saat malam hari yang gerah tanpa angin, Karto harus terjaga, duduk di dekat Jon dan menyanyikan lagu atau sekadar mengipasinya menggunakan potongan kardus bekas mi instan sampai sang kepala kamar tertidur pulas.
Dan yang juga tak bisa Karto hindari, ia harus siap menjadi tukang pijit. Jari-jemari Karto yang biasanya lincah mengikat tali sapi, kini harus melepuh memijat betis-betis kekar para napi senior hingga larut malam.
Bahkan saat jatah makan tiba, Karto adalah orang terakhir yang boleh menyentuh makanan. Itu pun jika ada sisa. Seringkali ia hanya kebagian kuah sayur hambar dan nasi yang sudah mengeras di dasar ember.
”Ini hukum di dalam sel, penghuni baru harus menjalani tugas sebagai babu. Kalau kamu nolak, itu lubang WC masih muat buat nidurin mukamu!” teriak Jon berulang kali setiap kali melihat Karto tampak sedikit ragu menjalankan perintah.
Menghitung Hari, Menahan Waras
Pernah suatu kali, karena terlampau lelah setelah tidak tidur dua hari dua malam, Karto tidak sengaja menumpahkan air kopi hitam milik Jon saat memijat kaki pria itu.
Plak!
Sebuah tamparan keras membuat telinga Karto berdengung. Belum sempat ia meminta maaf, tiga napi lain sudah melompat dan menghujaninya dengan tendangan ke arah dada dan perut. Karto hanya bisa meringkuk seperti trenggiling, melindungi kepalanya sambil mengerang tertahan. Tidak ada yang membelanya. Semua penonton di dalam sel justru bersorak seolah sedang menonton pertunjukan sirkus yang menghibur.
Malamnya, saat semua orang sudah mendengkur, Karto terbangun dengan tubuh biru lebam. Ia duduk menyendiri di pojok sel dekat jeruji, menatap seberkas cahaya bulan yang menembus ventilasi kecil. Air matanya menetes tanpa suara.
Harga dirinya hancur lebur. Ironi hidupnya benar-benar mencekik: sepuluh tahun penjara harus ia lewati, dan ini baru bulan pertama. Menghadapi siksaan fisik mungkin ia masih bisa tahan, namun tekanan mental, rasa rendah diri, dan kewajiban untuk selalu siap disuruh-suruh layaknya budak, perlahan-lahan mulai menggerogoti kewarasan Karto.
Di dalam kegelapan, Karto berbisik pada dirinya sendiri, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan yang masih ada di dalam dadanya.
“Bertahan, Karto… bertahan. Suatu hari nanti, kau lampiaskan dendam ini” bisik Karto penuh muka merah. (Timika, 13072026)
