Dada Bastian Terasa Meledak (Novel : Penjahat / Penulis : Mustaqiem Eska)

Novel : PENJAHAT

Penulis : Mustaqiem Eska

 

Dada Bastian Terasa Meledak

(3)

 

 

​Dada Bastian terasa meledak. Setiap kali ia mencoba menarik napas, udara yang masuk terasa seperti serpihan kaca panas yang mengiris tenggorokannya. Itu bukan sekadar reaksi fisik terhadap debu batu bara yang mengambang di udara barak, melainkan penolakan tubuhnya terhadap sebuah realitas baru. Lingkungan ini barbar, primitif, dan sepenuhnya dirancang untuk menguliti apa yang disebut manusia sebagai “harga diri.”

 

​”Berdiri, Nomor 89!” Sebuah teriakan parau, disusul hantaman laras senapan pada dinding besi, mengejutkan seisi barak.

​Bastian tidak bergerak cukup cepat. Akibatnya, sebuah tendangan bersepatu lars mendarat telak di tulang rusuknya. Ia tersungkur, wajahnya mencium lantai semen yang dingin dan berbau pesing. Di sekelilingnya, puluhan lelaki lain hanya menatap dengan mata kosong. Tidak ada empati, tidak ada pembelaan. Di koloni ini, mengasihani orang lain adalah tiket gratis menuju liang kubur.

 

​Di tempat ini, kebiadaban telah disublimasikan menjadi hukum dasar. Kemarin, Bastian menyaksikan seorang pria paruh baya dipukuli hingga cacat hanya karena tidak sengaja menjatuhkan sekop milik mandor. Yang paling mengerikan bukanlah cambukan atau darah yang mengalir, melainkan bagaimana semua orang—termasuk dirinya sendiri—memalingkan wajah dan melanjutkan pekerjaan seolah-olah yang terjadi hanyalah daun kering yang jatuh dari pohon.

​Setiap jiwa di sini telah merampas kemerdekaannya sendiri. Mereka tidak lagi membutuhkan sipir bersenjata untuk tetap patuh.

 

​”Ketakutan adalah sipir terbaik,” bisik parau seorang lelaki tua di sebelah Bastian saat makan malam berupa bubur hambar.

 

“Sipir manusia bisa tidur, tapi ketakutan di dalam kepalamu? Dia terjaga dua puluh empat jam.”

 

​Manusia-manusia di koloni ini telah mengamputasi nurani mereka secara sukarela. Mereka mengkhianati teman sekamar demi jatah roti tambahan, merangkak di kaki para penjaga demi waktu istirahat lima menit. Kebebasan bukan lagi sebuah impian; ia telah bertransformasi menjadi sebuah ancaman yang menakutkan karena menuntut tanggung jawab.

 

​Malam harinya, Bastian dilemparkan ke dalam sel isolasi setelah dinilai “kurang produktif” di area sel.

 

​Sel adalah jawaban hidup yang tak diminta. Kotak beton berukuran dua kali dua meter itu menyambutnya dengan kegelapan yang absolut. Di dalam rahim beton yang dingin ini, waktu tidak lagi berjalan linier—ia berputar-putar, membusuk, dan mencekik.

​Bastian menyandarkan punggungnya yang penuh memar ke dinding yang lembap. Di luar sana, ia pernah menjadi seorang arsitek, seorang suami, seorang manusia yang dihormati. Di dalam sel ini, semua faset kehidupan itu menguap seperti kabut di atas api.

 

​Sel ini memaksanya mengajukan pertanyaan paling perih, jika semua atribut kemanusiaannya telah dirampas, apa yang tersisa dari dirinya?

 

​Malam itu, di kegelapan sel yang pekat, Bastian berhenti menangis. Tangis adalah sisa-sisa dari harga diri yang rapuh. Ia mulai meraba dinding beton, menghitung retakannya, dan perlahan-lahan… membiarkan dirinya lahir kembali sebagai sesuatu yang sama sekali baru. Sesuatu yang fana, dingin, dan siap untuk bertahan hidup dengan cara apa pun.

 

​Di koridor Blok Minimum, malam hari bukan waktu untuk tidur, melainkan waktu di mana dinding-dinding beton bergema oleh bisikan para terkutuk. Di tempat ini, pledoi atau pembelaan diri adalah lelucon usang. Hakim tidak mendengar, jaksa tidak peduli, dan hukum telah mati sebelum mereka sempat mengetuk palu.

 

​Bastian mendengarkan dari balik jeruji selnya. Satu per satu, suara-suara tanpa wajah mulai bernyanyi, memuntahkan dosa dan nasib mereka ke udara malam yang pesing.

 

Napi 042 – Markus

 

​Dari sel ujung yang paling dekat dengan kamar mandi, terdengar suara tawa kering milik Markus. Pria itu dulunya adalah seorang akuntan publik bertubuh tambun, kini tinggal kulit membungkus tulang.

​Kasus: Pembunuhan Berencana terhadap tiga pejabat pajak.

 

Vonis 20 tahun penjara (tanpa hak remisi).

​”Pledoi? Hah! Pengacaraku menyusun dua ratus halaman pembelaan,” suara Markus bergetar, separuh gila.

 

“Aku memberi tahu hakim bahwa mereka memeras sisa tabungan ibuku yang sekarat hingga wanita tua itu mati di rumah sakit tanpa obat. Aku bilang, kapak yang kuhantamkan ke leher mereka adalah bentuk keadilan yang tertunda. Kamu tahu apa yang dilakukan hakim? Dia menguap. Dia bahkan tidak membaca lembar pertama. Empat puluh lima tahun, Bastian. Aku akan mati di sel ini, dan tikus-tikus akan memakan bola mataku sebelum masa hukumanku selesai.”

 

Napi 115 – Gundar

 

​Di sebelah sel Bastian, terdengar helaan napas berat dari seorang pemuda bernama sersan bayangan, mantan anggota militer bernama gundar. ​Kasus: Desersi dan Spionase Militer. Vonis: Seumur Hidup.

 

​”Aku tidak menjual dokumen itu untuk uang,” bisik Gundar, suaranya nyaris tak terdengar jika Bastian tidak menempelkan telinganya ke dinding beton.

 

“Aku menyerahkannya ke pihak lawan karena komandanku berniat membumihanguskan desa kelahiranku demi taktik bumi hangus. Aku menyelamatkan dua ribu nyawa, tapi di mata pengadilan militer, aku adalah yudas. Saat sidang, mereka menolak memutar rekaman perintah pembantaian itu. Mereka bilang itu ‘rahasia negara’. Pledoiku dibakar di tempat sampah ruang sidang. Seumur hidup. Aku dikurung di sini bersama orang-orang yang kuinginkan selamat, yang sekarang justru meludahi wajahku setiap pagi.”

 

Napi 088 – “Tangan yang Mencuri Kehidupan”

 

​Bastian memejamkan mata, membiarkan cerita-cerita itu menyatu di dalam kepalanya menjadi sebuah simfoni penderitaan. Di koloni ini, setiap orang memiliki cerita, dan setiap cerita tidak lagi memiliki ruang untuk dimaafkan.

 

​Pledoi telah kehilangan taringnya. Di hadapan sistem yang barbar ini, manusia tidak diadili berdasarkan benar atau salah, melainkan berdasarkan seberapa efektif mereka bisa disingkirkan dari permukaan bumi.

 

​”Dan kamu, Nomor 89?” suara Markus memecah keheningan yang sempat merayap. “Apa kasusmu? Berapa tahun yang mereka berikan pada arsitek berdasi sepertimu?”

 

​Bastian menatap langit-langit selnya yang berjamur. Ia menarik napas tipis, merasakan dadanya yang tak lagi meledak, melainkan telah mati rasa.

 

​”Lima belas tahun,” jawab Bastian lirih. “Kasusku? Aku membangun gedung pengadilan tempat kalian semua divonis. Aku tidak tahu jika fondasi yang kurancang… ternyata sedalam dan segelap ini.” ###

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *