POJOK
Kapten Benjamin Thomas Sigar
(Garis Keturunan Prabowo Subianto dari Jalur Ibu)
Catatan : Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) Sejarah tidak pernah ditulis dalam warna hitam dan putih yang mutlak; ia senantiasa berpendar dalam kelabu ambivalensi. Di antara celah-celah narasi besar Perang Jawa (1825–1830), nama Kapten Benjamin Thomas Sigar—seorang bangsawan Minahasa—muncul sebagai sosok penunggang kuda dengan seragam KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger). Ia menyandang label yang sarat beban psikologis sejarah: Londo Ireng (Belanda Hitam).
Istilah Londo Ireng dalam memori kolektif masyarakat Jawa mengandung nuansa satire dan kepedihan. Secara kontekstual, sebutan ini kerap ditujukan kepada dua kelompok. Pertama, Serdadu Afrika (Belanda Hitam Asli): Tentara rekruitan VOC/KNIL dari Pantai Emas (sekarang Ghana, Afrika Barat) yang diboyong ke Hindia Belanda untuk memadamkan perlawanan lokal.
Dan kedua, Serdadu Bumiputera Non-Jawa: Tentara dari wilayah kepulauan lain—seperti Minahasa, Ambon, dan Timor—yang direkrut Belanda dan diberi status atau perlakuan istimewa di mata hukum kolonial.
Kapten Benyamin Sigar jatuh pada kategori kedua. Berasal dari Minahasa, Sigar memimpin pasukan kavaleri (Tulungagung/Minahasa-squadron) yang membantu Gubernur Jenderal De Kock meredam perjuangan Pangeran Diponegoro. Bagi masyarakat Jawa kala itu, melihat sesama saudar sa-Tanah Air mengenakan seragam penjajah dan menghunus pedang ke arah mereka adalah ironi tragis yang diabadikan lewat frasa Londo Ireng.
Membaca sosok Benyamin Sigar serasa kita menembus kabut zaman. Pada abad ke-19, konsep kesatuan “Indonesia” belum mewujud sebagai identitas politik tunggal. Kerajaan-kerajaan dan suku-suku Nusantara bertindak berdasarkan aliansi lokal, perjanjian politik, serta pragmatisme geopolitik masing-masing.
Siasat divide et impera (pecah belah dan kuasai) yang dimainkan Belanda berhasil mengadu antar-anak bangsa. Di balik pangkat kapten dan kebanggaan seragam KNIL, Benyamin Sigar sejatinya adalah instrumen dalam papan catur kekuasaan kekaisaran kolonial.
Ironi sejarah ini kian menarik jika ditarik ke Indonesia hari ini. Dari garis keturunan Benjamin Thomas Sigar inilah lahir Dora Marie Sigar, yang kelak melahirkan tokoh-tokoh penting nasional, termasuk Presiden Indonesia ke-8, Prabowo Subianto. Perjalanan ini memperlihatkan betapa dinamisnya alur sejarah: dinasti yang di masa lalu terikat struktur kolonial, berpuluh-puluh tahun kemudian berdiri di pucuk kepemimpinan republik yang merdeka.
Menguliti bayang-bayang kolonial, menuliskannya hari ini bukanlah untuk menghakimi masa lalu dengan moralitas masa kini, melainkan untuk memahami luka dan kompleksitas pembentukan bangsa. Kapten Benyamin Sigar dan narasi Londo Ireng adalah cermin retak dari masa kolonial: sebuah cermin yang mengingatkan kita betapa mahalnya harga sebuah persatuan ketika perbedaan berhasil dimanipulasi oleh kekuatan asing.
Hubungan garis keturunan antara Kapten Benjamin Thomas Sigar dan Prabowo Subianto terjalin melalui jalur ibu kandung Prabowo, yaitu Dora Marie Sigar.
Benjamin Thomas Sigar merupakan buyut dari buyut (atau leluhur langsung) dari Prabowo Subianto.
Silsilah Prabowo Subianto :
Kapten Benjamin Thomas Sigar (Mayor/Kapten Pasukan Minahasa)
│
▼
Laurents Thomas Sigar
│
▼
Philip Flavianus Thomas Sigar
│
▼
Dora Marie Sigar (1921–2008) ─── menikah dengan ─── Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo
│
▼
Prabowo Subianto
Rincian :
Kapten Benjamin Thomas Sigar
Tokoh militer/bangsawan Minahasa yang bertugas memimpin pasukan kavaleri Minahasa pada Perang Jawa (1825–1830).
Laurents Thomas Sigar
Putra dari Benjamin Thomas Sigar yang meneruskan garis keturunan klan Sigar di Langowan, Minahasa.
Philip Flavianus Thomas Sigar
Cucu dari Benjamin Thomas Sigar. Beliau merupakan seorang pejabat birokrat pada masa Hindia Belanda di Manado dan Jawa.
Dora Marie Sigar (Dora Soemitro)
Cicit dari Benjamin Thomas Sigar. Lahir di Manado pada 1921 dan wafat pada 2008. Beliau menikah dengan pakar ekonomi terkemuka Indonesia, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo.
Prabowo Subianto
Anak ketiga dari pasangan Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo dan Dora Marie Sigar.
Secara sejarah, melalui garis keturunan ini, Prabowo Subianto memiliki perpaduan darah pahlawan/tokoh dari dua wilayah besar: darah Jawa-Mataram dari garis sang ayah (keluarga Margono Djojohadikoesoemo) dan darah Minahasa-Manado dari garis sang ibu (keluarga Sigar). ***





