#TSP – 025 – 09072026
Wahai Abdurrakhman, Jangan Meminta Kekuasaan
Oleh : Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) “Wahai Abdurrakhman, janganlah kamu meminta kekuasaan…” Kalimat ini bukan sekadar larangan biasa, melainkan sebuah arah spiritual yang menjaga hati manusia dari lubang kehancuran kepribadian.
Dalam tradisi spiritual, kekuasaan sering kali diibaratkan seperti api. Jika dikelola dengan jiwa yang matang, ia menjadi penerang; namun jika dikejar oleh syahwat politik dan ambisi pribadi, ia akan membakar hangus ketenteraman batin sang pemiliknya.
Pesan spiritual ini membagi realitas kekuasaan menjadi dua konsekuensi logis:
Kekuasaan yang diminta (dikejar): Ketika seseorang mengemis jabatan, mengerahkan segala cara, dan memaksakan kehendak untuk berkuasa, maka ranah spiritual memandang bahwa ia telah dilepaskan dari pertolongan ilahi. Ia akan dibiarkan bersandar pada kemampuan dirinya yang serba terbatas, terjebak dalam kecemasan, ketakutan kehilangan, dan dikelilingi oleh kepalsuan.
Dan kekuasaan yang diberikan (amanah). Sebaliknya, ketika kekuasaan itu datang tanpa dikejar—karena integritas, kapasitas, dan takdir—maka pertolongan langit akan menyertainya. Beban berat itu akan terasa ringan karena ada bimbingan moral dan spiritual yang menuntun setiap kebijakannya.
Pertanyaannya, mengapa hati harus dijaga?
Abdurrakhman berarti “Hamba Sang Maha Pengasih”. Sebagai hamba, fokus utama adalah pengabdian, bukan penguasaan. Ada beberapa alasan spiritual mengapa kita dilarang ambisius terhadap kekuasaan. Kekuasaan menuntut kepatuhan orang lain. Hal ini sangat rawan memberi makan pada ego dan kesombongan (arrogance) yang halus di dalam hati.
Juga pertanggungjawaban yang berat Di ranah spiritual, satu keputusan yang tidak adil dampaknya akan beresonansi hingga ke keabadian. Menolak meminta jabatan adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri agar tidak terbebani oleh hisab yang berat.
”Jabatan dan kekuasaan itu pada awalnya tampak manis dan memikat, namun di akhirnya ia bisa menjadi penyesalan yang pahit, kecuali bagi mereka yang mampu menunaikan hak-haknya dengan benar.”
Menjadi Pemimpin Tanpa Jabatan
Kita tidak perlu memegang stempel kekuasaan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Kepemimpinan spiritual sejati dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri: menundukkan hawa nafsu, mengendalikan amarah, dan menyebarkan kedamaian di lingkungan sekitar.
Wahai Abdurrakhman, dan wahai kita semua… biarlah kontribusi kita yang memanggil amanah itu datang, bukan ambisi kita yang memburu-burunya. Sebab, kehormatan sejati terletak pada seberapa besar kita menghamba kepada Sang Pencipta, bukan seberapa banyak manusia yang menyembah pada kuasa kita. (Jayapura, 09072026)





