TSP – 051 – 27082026
Menjadi Baik dan Menjadi Bermanfaat
Oleh : Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) Ada sebuah ujaran hikmah yang mendalam dari KH. Ahmad Sahal Mahfudz yang patut kita renungkan di tengah riuhnya zaman: “Menjadi baik itu mudah, dengan hanya diam maka yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit adalah menjadi bermanfaat, karena itu butuh perjuangan.”
Petikan nasihat dari ulama berkharisma asal Pati tersebut tidak sekadar menyentuh etika moral, melainkan membedah hakikat eksistensi manusia di tengah gelanggang sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mengelirukan antara “orang baik” dan “orang yang bermanfaat”, padahal di antara keduanya terbentang jurang perbedaan yang sangat mendasar, yakni jarak antara pasivitas yang aman dan ketertatan aksi yang berisiko.
Menjadi baik secara pasif memang relatif tak menuntut banyak hal. Seseorang cukup mengunci mulutnya dari ghibah, menarik diri dari arena perselisihan, dan bersembunyi di dalam cangkang kesunyian pribadinya. Ketika seseorang diam dan tak melukai siapa pun, lingkungan sekitar dengan mudah akan melabelinya sebagai sosok yang santun dan baik. Kebaikan jenis ini ibarat air tenang di dalam wadah yang tertutup—ia bersih, ia tak memercikkan kotoran, tetapi ia juga tak mampu mengairi dahaga pepohonan di sekitarnya. Kebaikan yang berhenti pada keheningan diri adalah kebaikan yang steril.
Sebaliknya, menjadi manusia yang bermanfaat (nafi’) membutuhkan daya gerak yang tak murah. Mbah Sahal mengingatkan bahwa kemanfaatan menuntut perjuangan (mujahadah), keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan kesediaan untuk mengotori tangan demi membenahi kerusakan di sekeliling. Ketika seseorang memutuskan untuk memberi manfaat—baik melalui ilmu, karya, kebijakan, maupun tenaga — ‘mau tidak mau’ secara otomatis masuk ke dalam ruang publik yang riuh. Di sana, ia akan berhadapan dengan gesekan kepentingan, risiko disalahpahami, keletihan fisik, hingga kritik yang menikam.
Di sinilah letak dialektika itu, bahwa diam memang memelihara kebaikan diri dari dosa sosial, tetapi keterlibatan aktiflah yang mematangkan martabat kemanusiaan. Agama tidak hanya memanggil kita untuk menjadi shalih (baik untuk diri sendiri), melainkan mushlih (membawa perbaikan bagi orang lain). Menjadi bermanfaat berarti bertindak seperti lilin yang bersedia melelehkan dirinya sendiri agar ruang sekitar tak lagi gulita.
Maka, permenungan atas pesan Mbah Sahal ini menjadi cermin bagi kita semua. Sudahkah kita cukup puas hanya dengan menjadi penonton yang tertib dan “baik” di pinggir jalan, ataukah kita berani melangkah ke tengah gelanggang, memikul beban, dan memperjuangkan kemanfaatan bagi sesama meski harus bersimbah peluh dan air mata? Toh ujungnya, sebaik-baik manusia bukanlah ia yang paling pandai menjaga kesenyapan dirinya, melainkan ia yang paling banyak memberi manfaat bagi kehidupan. ‘Khairunnas anfa’uhum linnas’. (Timika, 27082026)