POJOK
Cara Mengerem Kemalasan
Oleh: Mustaqiem Eska
“… begitu roda pertama mulai berputar—sekecil apa pun itu—hukum inersia semesta akan mengambil alih, mengubah kelambatan menjadi laju yang bertenaga.”
(pdlFile.com) Dalam laboratorium kehidupan, kemalasan jarang sekali hadir sebagai lahar gunung anak Krakatau yang menggelegar. Kemalasan suka menyelinap bagai oli pelumas yang terlalu kental pada sistem transmisi, tampak tenang, hening, namun pelan-pelan mengunci setiap gir gerak hingga seluruh mekanisme berhenti berputar. Kita kerap mengira kemalasan adalah bentuk istirahat yang wajar, padahal kemalasan sering kali hanyalah penundaan yang dipermaklumkan —sebuah sabotase halus atas potensial energi yang seharusnya sudah menggerakkan beban.
Secara mekanis, mengerem kemalasan bukanlah perkara menghantam pedal rem mendadak ketika laju kelalaian sudah terlanjur meluncur deras di jalan menurun. Menghantam rem secara brutal hanya akan menghasilkan gesekan ekstrem yang membakar kampas nurani, melahirkan rasa bersalah yang tidak produktif, lalu melempar kita ke dalam lubang frustrasi baru. Mengerem kemalasan membutuhkan presisi, semacam seni menurunkan gigi percepatan secara bertahap, mengembalikan kendali kemudi, dan menyalurkan kembali momentum gerak ke lintasan yang benar.
Tragisnya, peradaban hari ini merayakan kemalasan dengan nama-nama yang teramat sopan. Kita menyebutnya sebagai pencarian ketenangan, merawat otak dalam dalih pemulihan jiwa yang tak usai-usai, sementara tugas-tugas peradaban dan hargadiri dibiarkan terbengkalai di sudut ruang. Kita lihai meracik alasan, menyusun teologi pembenaran bahwa hari ini tanah terlalu basah atau angin terlalu dingin untuk mulai melangkah. Padahal, di balik tumpukan alasan yang teratur itu, hanya ada satu kenyataan telanjang: kita sedang takut bersimbah peluh. Hemmm …
Maka, bagaimana cara paling elegan untuk mengerem kemalasan?
Jawabnya bukan dengan menunggu datangnya petunjuk spektakuler dari langit atau raungan motivasi yang dangkal. Cara terbaik mengerem kemalasan adalah dengan menggerakkan bagian terkece, yakni menyentuh pekerjaan terdepan, meski hanya selangkah paling kikir. Tekan gesekan awal (static friction) itu dengan tindakan nyata yang paling bersahaja. Buatlah pergerakan pertama begitu kecil hingga pikiranmu tidak sempat meracik alasan untuk menolaknya. Sebab, begitu roda pertama mulai berputar—sekecil apa pun itu—hukum inersia semesta akan mengambil alih, mengubah kelambatan menjadi laju yang bertenaga.
Kemalasan tidak pernah bisa ditaklukkan oleh niat yang mengambang di awan-awan. Kemalasan akan hanya takluk dan menyerah di hadapan kedisiplinan yang bersemayam di telapak tangan. Jangan biarkan jiwa yang diciptakan untuk memikul karya besar ini melapuk dalam keheningan pembaruan. Tarik rem kelalaian itu sekarang, pindahkan tuas ke gigi kerja, dan biarkan peluhmu kembali menjadi saksi bahwa engkau masih bernapas di atas tanah pertiwi. Dan pastikan, engkaulah sumber kebahagian untuk orang-orang di sekitarmu yang terdekat. (Timika, 15092026)

