Jangan Pernah Membenci Siapapun

POJOK

 

Jangan Pernah Membenci Siapapun

Oleh Mustaqiem Eska

 

 

“ … atas dasar apa kita merasa berhak memelihara benci kepada sesama?”

 

​(pdlFile.com) Di dalam dada manusia yang sempit, benci sering kali bertamu tanpa diundang, menjelma menjadi jelaga yang menghitamkan dinding-dinding nurani dan melenyapkan keheningan batin. Padahal, jika kita sudi merenungi muara asal dari mana ajaran ini diturunkan, tak ada sebaris pun ruang yang disediakan untuk merawat kebencian. Allah yang Mahaluas Kasih-Nya dan Baginda Nabi Muhammad—sang rahmat bagi semesta alam—tidak pernah menggelar sajadah agama ini di atas fondasi dendam; mereka menenun setiap helai risalahnya dengan benang-benang cinta kasih yang tak bertepi.

​Dalam panggung kehidupan sosial yang riuh oleh perbedaan dan gesekan ego, Rasulullah adalah teladan purnatama tentang bagaimana cinta bekerja secara radikal. Beliau tidak pernah membalas lemparan batu dengan caci maki, tidak pula membalas cemoohan dengan doa kebinasaan. Syiar beliau bukan gertakan pedang yang menakutkan, melainkan usapan lembut tangan yang senantiasa merangkul, mengajak dengan kelembutan, dan mendoakan kebaikan bagi mereka yang bahkan sedang berikhtiar melukainya. Beliau memandang umat manusia bukan dengan mata penghakiman, melainkan dengan tatapan welas asih yang hendak menyelamatkan jiwa dari kegelapan.

​Cinta kasih itu teramat mahal— sebuah pusaka spiritual yang melampaui kalkulasi akal manusia biasa. Keagungan cinta itu memuncak pada detik-detik terakhimya di bumi; saat hembusan nafasnya kian berat dan tirai kehidupan fana mulai tersingkap, bukan harta, tahta, atau keselamatan dirinya yang beliau risaukan, melainkan desah lirih yang menggetarkan langit: “Ummatii, ummatii…”—umatku, umatku. Bahkan hingga di ambang batas hayatnya, pikiran beliau tetap tertuju pada nasib kita, anak-cucu zaman yang kerap kali alpa dan terlena ini.

​Lantas, dengan cermin sejarah yang begitu jernih itu, atas dasar apa kita merasa berhak memelihara benci kepada sesama? Mengotori hati dengan kebencian sejatinya adalah bentuk pengkhianatan paling sunyi terhadap warisan cinta yang telah diperjuangkan Rasulullah dengan darah dan air mata. Maka, bersihkanlah bejana jiwamu dari racun permusuhan. Ketahuilah bahwa mendoakan kebaikan bagi mereka yang membencimu bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara paling anggun untuk merawat warisan cinta dari Sang Nabi agar tetap bernyawa di dalam dirimu. (Timika, 05092026)

Related posts