Naiklah ke- Atas Panggung, Perbanyak Jam Terbang
Oleh: Mustaqiem Eska
“Bagi jiwa-jiwa yang paham akan hakikat proses, penilaian baik atau buruk dari kerumunan bukanlah monster yang harus disikapi dengan emosional (baper).”
(pdlFile.com) Hidup adalah sebuah proses pematangan materi yang tunduk pada siklus dan fase yang tak bisa dilompati. Ada masa ketika sebuah beton dituang ke dalam cetakan, lalu dibiarkan mengalami hidrasi dalam hening. Namun ada saatnya ketika struktur itu harus dibebani, diuji ketahanannya, dan disaksikan oleh lalu lintas dunia. Celakanya, manusia modern sering kali gagap membaca ritme ini. Kita berpura-pura menjadi puncak bangunan yang matang di saat kita sesungguhnya masih berupa adonan yang butuh tempaan. Kita menolak bersikap normal sesuai fase hidup, enggan menjadi murid saat berada di ruang tempaan, namun terlalu takut menjadi petarung saat melangkah ke gelanggang.
Menyembunyikan proses di saat kamu seharusnya banyak berkiprah dan naik panggung adalah sebuah sabotase struktural atas diri sendiri. Ketika sebuah gagasan, karya, atau ikhtiar diluncurkan ke arena publik, ia secara otomatis menyerahkan dirinya pada mekanisme pengujian yang telanjang. Di atas panggung terbuka, prosesmu menjadi milik umum—sebuah konsumsi kurasi massal yang membawa dua konsekuensi eksistensial sekaligus. Pertama, proses yang dilempar ke tengah riuh kerumunan akan memantik respons nyata, dimana bisa berupa penerimaan yang utuh, atau justru sorakan miring yang menembus ke dalam dada. Kedua, jika kamu memilih bersembunyi dalam cangkang kenyamanan demi menghindari risiko tersebut, proses itu selamanya akan kedap dari evaluasi. Kamu akan memelihara ilusi kehebatan di dalam ruang tertutup, menjelma sosok katak di bawah tempurung yang menganggap bisikannya sendiri sebagai gelombang mahakarya.
Orang-orang yang berhasil mengukir prasasti dalam sejarah peradaban tidak pernah lahir dari laboratorium yang terlalu steril. Mereka adalah para pemberani yang dengan sadar melempar seluruh gagasannya ke panggung publik—menyorongkan buah pikirannya untuk diuji oleh angin, terik, dan lontaran kritik. Bagi jiwa-jiwa yang paham akan hakikat proses, penilaian baik atau buruk dari kerumunan bukanlah monster yang harus disikapi dengan emosional (baper). Mereka paham bahwa sorakan penonton hanyalah gesekan mekanis yang justru memperhalus sudut-sudut kasar dari karya mereka. Pujian tak membuat mereka jumawa, sebagaimana celaan tak sanggup menghentikan laju inisiatif yang sedang mereka bangun.
Secara spiritual, meniti fase berproses dengan kejujuran adalah bentuk merendahkan ego di hadapan Rabb. Selama kamu masih berada dalam siklus bertumbuh, perkara paling bijak yang harus kamu lakukan adalah memperbanyak jam terbang—membiarkan setiap jengkal ikhtiarmu dilihat, dinikmati, bahkan diuji oleh ribuan pasang mata. Jangan takut menjadi retak di hadapan publik, sebab hanya retakan yang terpapar cahayalah yang bisa diperbaiki dengan presisi. Duduklah dengan wajar di atas fase hidupmu: melangkahlah ke panggung tanpa topeng kesempurnaan palsu, dan biarkan semesta menjadi saksi atas proses yang sedang bertransformasi menuju kematangan yang sejati. (Timika, 23092026)

