Hukum Sebab Akibat

POJOK

 

Hukum Sebab Akibat

​Oleh: Mustaqiem Eska

 

“Tanamlah setiap tindakan dengan perhitungan nurani yang presisi dan niat yang lurus ke hadirat-Nya, sebab semesta tidak pernah tidur dan catatannya tak pernah keliru.”

 

(pdlFile.com) Di dalam laboratorium alam semesta, tidak ada fenomena yang berdiri tanpa akar, dan tidak ada lempeng yang bergeser tanpa adanya akumulasi energi di kedalaman. Setiap aksi senantiasa memanggil reaksinya, dan setiap benih yang ditanam secara presisi akan mengharapkan buahnya di kemudian hari. Hukum sebab akibat adalah akselerasi hukum fisika yang bekerja tanpa kompromi, tidak mengenal ruang negosiasi di bawah meja, dan tak bisa dibeli oleh retorika manis di panggung-panggung publik.

​Namun, manusia -kini- acapkali mengidap amnesia struktural. Kita gemar menumpahkan limbah kepalsuan di hulu perjalanan, lalu menatap dengan muka heran dan gusar saat air minum di hilir menjelma racun yang menyiksa dada. Kita terbiasa memotong tiang-tiang penyangga nurani demi mengejar efisiensi semu, namun menjerit ketika langit-langit kehidupan kita mendadak runtuh menimpa kepala. Kita menuntut hasil panen yang melimpah dan indah, padahal yang kita tabur di sepanjang musim hanyalah benih kelalaian dan angin kesombongan. Kita menyalahkan lumpur yang terseret ombak di irigasi tambak garam, tanpa mau pernah berdiskusi bersama dari segala unsur untuk mencari hal positif solusi pemecahannya.

​Di atas sekadar mekanisme fisika, ada dimensi spiritual yang teramat dalam bahwa hukum Sunnatullah yang tak pernah keluar dari ketetapan. Sebab-akibat bukan semata jalinan ketetapan yang dingin, melainkan cermin suci tempat Sang Maha Pengatur memperlihatkan keadilan-Nya tanpa celah. Apa yang kita sebut sebagai “nasib buruk” acap kali hanyalah gema dari niat-niat gersang yang dulu kita bisikkan di dalam sunyi. Ketika nurani dikesampingkan dan tauhid diganti oleh pemujaan pada materi, kita sedang mengundang gersang dan kegelapan batin untuk mengetuk pintu rumah kita sendiri.

​Dalam peradaban yang kian z ini, kecenderungan menyalahkan nasib adalah bentuk pelarian paling favorit. Ketika tatanan sosial mulai retak dan marwah diri meluncur ke titik terendah, kita terburu-buru menunjuk tangan ke luar, mengutuki hasil atau mencari kambing hitam untuk dijadikan tumbal. Padahal, jika kita mau menundukkan dada dan merunut garis diferensial kehendak-Nya dengan cermat, kita akan menemukan bahwa setiap retakan hari ini adalah hasil logis dari guratan kecil yang kita goreskan sendiri di masa lalu.

​Sebab akibat tidak pernah meleset dalam menghitung hutang-piutang perbuatan. Ia ibarat hukum kekekalan energi. Bahwa apa yang kita pancarkan ke semesta—baik itu berupa kejujuran yang bersahaja atau kelicikan yang dibungkus jubah kesalehan—akan kembali melingkar menuju pusatnya semula. Mengharapkan kemuliaan spiritual dari cara-cara yang merusak citra adalah kegilaan kalkulasi yang setara dengan berharap menyuling air murni dari kolam lumpur yang kotor.

​Maka, alangkah eloknya jika kita mulai merapikan setiap sebab yang kita ciptakan hari ini. Tanamlah setiap tindakan dengan perhitungan nurani yang presisi dan niat yang lurus ke hadirat-Nya, sebab semesta tidak pernah tidur dan catatannya tak pernah keliru. Jangan biarkan masa depanmu diisi oleh ratapan atas akibat-akibat buruk yang sesungguhnya ditukang-takangi oleh tanganmu sendiri. Sebab pada akhirnya, manusia tidak sedang dihakimi oleh siapapun, melainkan sedang memanen persis apa yang telah ia racik di dalam laboratorium kehidupannya sendiri di bawah tatapan Sang Maha Menyaksikan., Allah Ta’ala. (Timika, 18092026)

Related posts