Nikmat Berbakti Kepada Orang Tua

blank

POJOK

 

Nikmat Berbakti Kepada Orang Tua

Oleh: Mustaqiem Eska

 

“Bukan orang tua yang butuh diselamatkan oleh bakti kita, tapi -justru-  kitalah yang sedang menyelamatkan marwah diri kita sendiri dari bahaya kebangkrutan jiwa.”

 

​(pdlFile.com) Pernahkah membayangkan bagaimana nasib engsel pintu yang sudah menahan beban pintu kayu jati tua tanpa perasaan mengeluh sedikitpun. Puluhan tahun engsel itu menahan beban daun kayu tebal, tergerus hujan, disengat terik, dan perlahan dimakan karat. Ia tidak pernah bersuara, kecuali desit halus ketika seseorang lewat dan memintanya terbuka.

Kita sering kali melewati engsel kusam itu tanpa pernah benar-benar menatapnya. Kita lebih terpukau pada megahnya arsitektur gedung-gedung bertingkat di pusat kota, atau kilau mobil rakitan terbaru yang kita kemudikan dengan dada membusung. Kita lupa bahwa sebelum kaki kita sanggup melangkah menaklukkan belantara dunia, ada dua pasang tangan tua yang dengan setia menjadi tumpuan—menjadi engsel yang rela bergesek dan aus demi memastikan pintu masa depan kita terbuka lebar.

​Saat ini, kita manusia yang terbiasa dengan kalkulasi bisnis acap kali mengidap kebebalan rasional. Kita menghitung bakti sebagai neraca transaksi. Kita merasa telah menjadi anak yang “selesai” hanya karena sanggup mengirimkan sekian lembar uang di akhir bulan, atau membelikan fasilitas serba mesin untuk kemudahan hidup orang tua di hari tuanya. Kita memperlakukan mereka ibarat proyek yang telah selesai dikerjakan, lalu menyisakan sisa waktu kita sebagai derma yang kikir.

Tragisnya, peradaban hari ini mengajari kita untuk begitu presisi menghitung daya dukung tanah, elastisitas baja, atau marjin keuntungan investasi, namun teramat dungu dalam mengukur besarnya pengorbanan yang tak pernah meminta imbalan. Kita merasa sesak dan terbebankan hanya karena harus mendengarkan dongeng atau pertanyaan yang sama berulang-ulang dari mulut tua mereka.

Padahal, ketika kita masih berupa gumpalan daging yang tak berdaya, mereka tidak pernah mengukur berapa galon air mata dan berapa liter keringat yang menetes demi menjaga napas kecil kita tetap bersambung.

​Di sinilah letak rahasia yang acap kali gagal dibaca oleh akal yang terlampau mekanis, dimana berbakti kepada orang tua bukanlah kewajiban yang memberatkan, melainkan sebuah nikmat spiritual yang teramat mewah. Berbakti kepada orangtua adalah ruang penyucian batin (taqarrub) tempat Sang Maha Pengatur menyembunyikan kunci-kunci kemudahan tatanan hidup kita. Ketika seorang anak menundukkan egonya, merendahkan suaranya, dan merengkuh jemari tua yang telah keriput itu dengan penuh keheningan nurani, ada hukum kekekalan rasa yang bekerja.

Bukan orang tua yang butuh diselamatkan oleh bakti kita, tapi -justru-  kitalah yang sedang menyelamatkan marwah diri kita sendiri dari bahaya kebangkrutan jiwa. Doa yang terucap dari bibir gemetar orang tua adalah energi tak terlihat yang sanggup menembus batas-batas kemungkinan—meratakan jalan terjal dan melunakkan takdir yang keras.

​Jangan menunggu hingga engsel tua itu patah dan pintu rumah itu terkunci rapat untuk selamanya, baru kita tersadar betapa dinginnya angin luar tanpa perlindungan mereka. Menyesali keabaian di atas pusara yang masih basah adalah bentuk estetika kesedihan yang terlambat dan tak berguna.

Maka, mampirlah sejenak ke rumah tua itu. Tataplah retakan-retakan halus di telapak tangan ayahmu dan bening telaga yang mulai redup di mata ibumu. Usaplah dengan ketulusan yang telanjang tanpa sisa kesombongan jabatan atau tumpukan harta. Sebab di hadapan Sang Maha Menyaksikan, kenikmatan tertinggi seorang hamba di muka bumi bukanlah saat ia berhasil memanjat puncak peradaban, melainkan saat ia sanggup menjadikan dadanya sebagai tempat berteduh yang paling hangat bagi kedua orang tuanya di senja usia mereka. (Timika, 17092026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *