Secara-Nya
Oleh: Mustaqiem Eska
“ … tidak ada satu pun sudut di muka bumi ini yang luput dari jejak keindahan dan keagungan-Nya.”
(pdlFile.com) Secara visual, mata manusia adalah instrumen optik yang teramat rapi namun acapkali dipenuhi kebebalan persepsi. Kita menatap bentangan alam, jembatan-jembatan beton yang membelah belantara, hingga kedipan lampu kota di malam hari hanya sebagai fenomena materi yang dingin dan biasa. Manusia modern merasa telah menaklukkan ruang hanya karena sanggup mengukur indeks bias cahaya dan mengkalkulasi gelombang elektromagnetik. Padahal, di balik tumpukan lensa dan retina yang bekerja tanpa henti ini, ada amnesia struktural yang parah, bahwa kita begitu terpukau pada objek yang kasatmata, namun teramat buta dalam membaca hakikat di balik keberadaannya.
Secara mekanis, seluruh susunan atom, lempeng bumi yang bergeser, hingga aliran darah di balik dinding pembuluh adalah potongan presisi dari sebuah tatanan yang tak mungkin tercipta secara kebetulan. Tidak ada satu pun baut semesta yang melonggar tanpa perhitungan, dan tidak ada satu pun daun yang gugur menuju tanah tanpa koordinat yang pasti. Tragisnya, kita sering kali berlaku seperti pengagum museum yang bisu, memuji-muji keindahan bingkai foto dan daya tahan cat lukisan, seraya melupakan Sang Maestro yang melukiskan seluruh keindahan tersebut di atas kanvas ketiadaan.
Secara analitis, ketidakmampuan membaca tanda-tanda ini adalah potret rapuhnya batin yang paling kesepian. Kita mengagumi ketinggian pencakar langit rakitan tangan sendiri dengan dada membusung, namun mengabaikan keagungan gunung-gunung batu yang dipancang sebagai pasak bumi agar tanah tidak bergoyang di bawah telapak kaki kita. Kita terjebak dalam romantisme teknologi yang dangkal dengan menyembah karya-karya kerdil manusia yang rapuh dihantam waktu, seraya mengabaikan cermin Sunnatullah yang membentang luas di depan mata.
Secara spiritual, tidak ada satu pun sudut di muka bumi ini yang luput dari jejak keindahan dan keagungan-Nya. Setiap kedipan mata yang menangkap warna, setiap desir angin yang menerpa kulit, dan setiap hembusan napas yang melintasi rongga dada sesungguhnya adalah undangan terbuka untuk menundukkan ego di hadapan illahi Rabbi. Ketika nurani dibersihkan dari residu kesombongan dan katarak egoisme meredup, maka setiap apa yang terlihat—baik itu megahnya samudra maupun mikro-struktur sebutir debu—tak lagi sekadar materi kerapuhan, melainkan penampakan benderang dari Mahakarya Kekuasaan atas semua ciptaan-Nya. Allahu Akbar. (Timika, 23092026)