Kebaikan Tanda Kutip

POJOK

 

Kebaikan Tanda Kutip​

Oleh : Mustaqiem Eska

 

“Coba tengok ke dalam dada: Kebaikan yang kita lakukan hari ini beneran karena Allah, atau jangan-jangan cuma “kebaikan tanda kutip” yang dibumbui kepentingan ego dan cari aman?”

 

​(pdlFile.com) 2029 masih lama. Tapi panggung sandiwara sudah menampilkan scene sosial yang penuh drama. Kita lihat ada orang yang rajin tebar “parfum”, kampanye progam, ngomongnya lembut, dan suka pamer gestur kepedulian yang kelihatan mulia, kita langsung buru-buru kasih standing ovation. ​Tapi, jarang banget ada yang mau mengintip ke balik layar dan bertanya, sebenarnya apa sih niat asli di balik semua kebaikan itu?

​Apa jadinya kalau segala kebaikan yang diobral ke publik itu ternyata bukan lahir dari ketulusan hati, melainkan hanya kebaikan “tanda kutip?” Sebuah topeng suci yang dipasang rapat-rapat sekadar buat menutupin kebusukan, melanggengkan kebohongan, dan memperkokoh ruang pengkhianatan?

​Pernahkah membayangkan, kalau kebaikan palsu itu mirip ruko megah yang berdirinya di atas tanah lumpur isap. Dari luar kelihatan keren, dicat warna-warni terang, mengundang decak kagum orang yang lewat. Tapi begitu diintip ke dalam, fondasinya keropos dimakan rayap, tiangnya rapuh, dan sengaja dibangun di atas timbunan bangkai kebohongan.

​Orang-orang yang hobi pakai “kebaikan tanda kutip” biasanya punya pola hidup yang rapi secara sandiwara. ​Mereka rajin menolong orang di luar sana, tapi begitu tega memeras atau meremukkan hati keluarga kecilnya sendiri di rumah. Mereka bersuara paling lantang teriak soal keadilan di depan umum, tapi di belakang layar lagi menyusun skema licik buat menjatuhkan kawan sendiri.

​Padahal keadilan Tuhan itu bekerjanya sangat  teliti. Alam raya tidak bisa dibohongi hanya pakai polesan kata-kata manis atau pencitraan visual yang menipu mata manusia.

​Semakin tebal topeng kebohongan yang dipakai buat menutupi pengkhianatan, semakin besar pula tenaga batin yang harus dibuang si pelaku buat terus akting setiap hari. Lama-kelamaan, dia bakal stres sendiri—takut rahasianya bocor, curigaan sama bayangannya sendiri, dan kehabisan napas karena harus terus menjaga kepalsuan.

​Ya, tidak ada bangunan pengkhianatan yang bisa berdiri selamanya.

​Sebesar apa pun usahamu menambal ruang kebohongan pakai tumpukan amal pencitraan, bangunan itu pasti punya tanggal kedaluwarsa. Begitu angin ujian bertiup sedikit kencang—atau pas Tuhan lagi buka tabirnya—seluruh kebaikan palsu itu bakal rontok berantakan. Yang tersisa bukan lagi pujian, tapi reruntuhan kehinaan yang bikin malu seumur hidup.

​Tulisan ini adaalah cermin buat muhasabah diri kita masing-masing. Coba tengok ke dalam dada: Kebaikan yang kita lakukan hari ini beneran karena Allah, atau jangan-jangan cuma “kebaikan tanda kutip” yang dibumbui kepentingan ego dan cari aman?

​Hidup ini terlalu singkat dan terlampau jujur buat dijalani di atas panggung sandiwara. Jauh lebih mulia tampil apa adanya dengan segala kekurangan, berani mengaku kalau salah, dan jujur pada nurani, daripada hidup bergelimang pujian palsu tapi di dalam dada menyimpan fondasi pengkhianatan yang sewaktu-waktu siap meremukkan jiwa.

​Bagi Allah, satu gram keikhlasan yang disembunyikan di bilik diam jauh lebih mahal harganya dibanding jutaan ton kebaikan palsu yang dipamerkan demi menutupi kebohongan! (Timika, 28102026)

Related posts