Manusia Setengah Kopling

Vertical abstract creative photo collage of confused thoughtful man sitting brainstorming make decision isolated on white color background.

POJOK

 

Manusia Setengah Kopling

 

​Oleh : Mustaqiem Eska

 

​“Lepas Koplingnya, biarkan mesin keyakinan bekerja.”

 

(pdlFile com) ​Siapa pun yang pernah belajar menyetir mobil manual di jalanan menanjak pasti tahu betul rasanya memainkan teknik setengah kopling. Kaki kiri menahan pedal kopling gantung, kaki kanan siap-siap injak gas. Kalau pas pertimbangannya, mobil bisa tertahan tenang di tengah tanjakan tanpa merosot.

​Tapi, kalau kelamaan ditahan sambil gas terus diinjak? Asap mengepul, bau sangit menyengat, dan kampas kopling pun gosong terbakar.

​Nah, dalam urusan menjalani hidup dan menata pikiran, ternyata banyak di antara kita yang hobi berpikir setengah kopling. Ya, gantung di Tengah, karena takut mati mesin dan takut merosot

​Manusia setengah kopling itu gambaran jiwa yang ragu-ragu. Mau maju tidak berani lepas total, mau mundur tidak rela melepas ambisi. Batin terus-terusan berada di posisi gantung.

​Manusia stengah kopling dicirikan ikhtiar setengah hati. Ibarat berdoa tapi masih ragu sama takdir, melangkah tapi sibuk menyiapkan alibi kalau-kalau gagal, mencintai tapi masih memasang benteng curiga.

​Akibatnya? Kampas batin hangus. Batin yang terus-terusan ditahan dalam ketidakpastian itu rasanya mirip mesin yang dipaksa meraung tapi rodanya ditahan. Kita jadi gampang capek, stres, dan kehabisan energi (mental fatigue) padahal belum benar-benar melangkah ke mana-mana.

​​Ada ungkapan jadul yang bilang, “Keraguan itu musuh utama keberhasilan.” Kedengarannya memang klise, tapi kenyataannya memang begitu.

​Padahal, manusia yang cara berpikirnya setengah kopling, itu sebenarnya bentuk ke- ‘angkuhan’ kecil dari otak kita. Kita merasa bisa mengendalikan segalanya dengan cara menahan-nahan penyerahan diri. Kita takut “mati mesin” di tengah jalan, tapi di saat yang sama kita juga tidak percaya penuh pada skenario Qodarullah.

​Sementara, jalan tanjakan kehidupan ini tidak bisa ditaklukkan dengan kaki yang gemetaran di atas pedal. Kita harus berani mengambil keputusan yang tegas. Saatnya melepaskan kopling keraguan itu pelan-pelan sampai rapat, atau memasang rem tangan kepasrahan untuk menata ulang niat.

​“Lepas Koplingnya, biarkan mesin keyakinan bekerja.”

​Obat paling manjur untuk penyakit ragu-ragu ini cuma satu, yakni keberanian untuk pasrah total (la haula wa la quwwata illa billah).

​Kalau sebuah urusan sudah dipikirkan dengan jernih, niatnya sudah lurus, dan ikhtiarnya sudah diusahakan, ya lepas saja koplingnya. Biarkan mesin tawakal yang mengambil alih jalannya kendaraan.

​Kalau toh nanti di tengah jalan mesinnya sempat mati atau tersendat, itu jauh lebih terhormat dan bikin lega ketimbang membiarkan jiwa kita hangus terbakar di tempat—hanya karena takut pada bayangan-bayangan cemas yang kita ciptakan sendiri.

​Alhasil, hidup yang tenang itu bukan tentang seberapa jago kita menahan ketegangan, tapi seberapa berani kita melepaskan keraguan dan percaya penuh pada takdir-Nya. Bukankah itu termasuk rukun iman ? (Timika, 10102026)

Related posts