POJOK
Musuh dari Musuhku adalah Temanku
(Refleksi Rocky Gerung)
Oleh : Mustaqiem Eska
” … sejarah tak pernah peduli pada seberapa tinggi bahasa yang dipakai, sejarah hanya mencatat di mana raga dan tindakan berpijak.”
(pdlFile com) Dunia politik itu sesungguhnya licin dan susah dipegang. Tapi itulah yang menandakan bahwa secara struktur rapuh. Ada satu rumus kuno yang selalu efektif dipakai untuk membenarkan tindakan apa pun: “Musuh dari musuhku adalah temanku.” Sebuah adagium klise yang sering kali menjadi pembenar paling instan ketika prinsip-prinsip luhur harus dijadikan senjata, namun ditukar dengan keputusan kompromi persis di atas meja kekuasaan.
Maka, ketika publik dikagetkan oleh manuver Rocky Gerung yang mendadak melipir masuk ke dalam lingkaran kebijakan—sebuah tatanan dan rezim yang saban hari pernah ia kritik pedas, ia serang secara retoris, dan bahasa kasarnya: “ia ludahi” di hadapan kamera—banyak nalar yang mendadak gagap mengejanya.
Apakah ini sebuah pengkhianatan intelektual, atau sekadar konversi taktik dari seorang pengkritik yang lelah berteriak dari luar pagar?
Bagi sebagian orang, pemandangan ini menjijikkan sekaligus memprihatinkan. Betapa mudahnya lidah melipat kata-kata yang pernah diucapkan dengan begitu lantang. Dulu, panggung kritik dibangun dengan begitu tinggi, lengkap dengan kosakata filsafat yang mentereng dan tuduhan “dungu” yang dilemparkan ke mana-mana. Namun, ketika angin politik berembus dan peta musuh bersama bergeser, tempat yang dulu dikutuk itu mendadak tampak hangat dan ramah untuk dihuni.
Apakah semua langkah ini diambil karena rasa terpaksa? Atau jangan-jangan, ini adalah bentuk kalkulasi pragmatis paling “rahasia” yang dibungkus dengan narasi “berjuang dari dalam”?
Jawabannya, kita tunggu saja. Waktu adalah penguji yang paling sakti dan tak bisa disuap oleh retorika. Waktu akan memperlihatkan apakah ludah yang pernah dibuang ke udara itu benar-benar mendarat kembali di wajah sang penutur, ataukah ia sanggup mengubah tatanan dari dalam sebagaimana janji-janji manis yang sering diucapkan oleh para kritikus yang akhirnya jatuh ke pelukan kekuasaan.
Hemmm, sejarah tak pernah peduli pada seberapa tinggi bahasa yang dipakai, sejarah hanya mencatat di mana raga dan tindakan berpijak. (Timika, 09102026)

