POJOK
Menulis, Cara Menepi Dari Keramaian
Oleh : Mustaqiem Eska
“Menulis menjadi tempat menepi yang bijak saat cara berpikir kita tak lagi sejalan dengan keramaian di luar.”
(pdlFile com) Kalau diingat-ingat kembali, rasanya luar biasa sekali Allah memberi kita umur dan kesempatan untuk menyaksikan drama besar peralihan media. Bukan cuma menonton dari jauh, tapi benar-benar merasakannya melintas di depan mata dalam tiga babak yang begitu kontras.
Babak Pertama, era Harmoko. Dulu, media bernapas pelan. Koran dan majalah harus tunduk pada koridor ketat regulasi penyiaran. Informasi mengalir menjadi begitu tersendat — setiap kata yang tercetak di atas kertas harus ‘dibatasi’ sebelum sampai ke meja makan kita.
Babak Kedua, era gadget. Dimana tiba-tiba, kertas bertumbangan. Seluruh keramaian dunia diperas masuk ke dalam layar kaca lima inci di genggaman jemari. Berita tidak lagi menunggu pagi, datang bertubi-tubi saban detik. Semua orang bisa jadi wartawan, tapi di saat yang sama, kedalaman nalar mulai tergerus oleh godaan ingin cepat ketimbang benar.
Babak Ketiga, era Kecerdasan Buatan (AI). Dan lalu sekarang, kita mendadak gagap berhadapan dengan mesin kecerdasan buatan. AI bukan cuma mengacak-acak cara berita disajikan, tapi juga melahap porsi kerja jurnalis manusia. Algoritma bekerja tanpa lelah, tanpa tidur, dan celakanya : tanpa rasa kemanusiaan.
Di tengah pusaran tiga zaman yang liar ini, ada satu pelajaran berharga yang tersisa, hemm, rasanya sekarang berteriak kencang di tengah kerumunan yang makin canggih itu adalah tindakan yang sia-sia. Justru semakin kencang kita bersuara meluapkan ketidakpuasan atas cara berpikir zaman yang makin melenceng, suara kita cuma akan berakhir jadi buih di lautan internet. Kelihatan berbuih di atas, tapi langsung menguap begitu dihempas angin.
Maka, pilihan paling bijak adalah mengambil satu langkah mundur, melipir dari panggung gegap, dan memilih jalan yang tenang : menulis.
Bagi saya, menulis adalah cara jatuh cinta yang sejati, sekaligus patah hati dan ruang bersembunyi dari harapan besar yang kokoh maupun -juga- yang runtuh. Menulis adalah ruh. Menulis menjadi tempat menepi yang bijak saat cara berpikir kita tak lagi sejalan dengan keramaian di luar. Daripada sibuk berdebat di kolom komentar yang bikin batin terkuras, lebih baik menyendiri, merapikan ide, dan mengendapkan pikiran ke dalam bait-bait tulisan yang jujur.
Biar saja mesin-mesin AI dan algoritma itu berebut panggung. Kita tetap punya ruang sunyi di dalam tulisan sendiri—tempat menjaga nurani agar tetap jernih dan tak gampang terbawa arus laksana ‘tunggak.’ (Timika, 08102026)