POJOK
Turut Berduka, Atas Terbunuhnya Nurani
Oleh : Mustaqiem Eska
“Jika kamu melihat seorang alim terlalu sering berbaur atau bercampur dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pencuri.” (HR. Abu Hurairah / Thabrani)
(pdlFile.com) Turut berduka cita, atas terbunuhnya nurani kearifan atas kasus penggerebekan santriwati di pesantren Hamalatul Quran Sukoharjo. Entahlah, saat ini hanya tersisa airmata dan do’a. Ya Allah, Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah. (Ya Allah, tunjukkanlah yag itu haq dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah yang batil itu batil, dan berikanlah kekuatan kepada kami untuk menjauhinya).
Dari sini semakin kami mengerti mengapa Rasulullah pernah mengingatkan. “Jika kamu melihat seorang alim terlalu sering berbaur atau bercampur dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pencuri.” (HR. Abu Hurairah / Thabrani)
Ada masa-masa di mana lidah mendadak kelu dan yang tersisa di dalam dada hanyalah lelehan air mata serta doa. Kabar duka yang menyayat hati hari ini bukanlah tentang robohnya bangunan fisik, melainkan terbunuhnya nurani kearifan—sebuah tragedi batin tatkala kesucian institusi pencetak penghafal Al-Qur’an di Sukoharjo justru ternoda oleh kesewenang-wenangan dan hilangnya kepekaan rasa.
Peristiwa pahit ini bukan sekadar insiden tanpa akar, melainkan letupan dari penyakit lama ketika syahwat kekuasaan menyusup ke bilik-bilik suci agama. Dalam lintasan sejarah, fitnah terbesar bagi seorang yang ‘alim adalah ketika ia mulai silau oleh kilauan panggung kekuasaan dan kedekatan yang tidak sehat dengan para pemegang kendali duniawi.
Hal tersebut mengingatkan kita pada sabda Rasulullah bahwa seorang ‘alim yang terlalu sering berbaur dengan penguasa perlahan akan kehilangan ketajaman nurani dan mencuri hak-hak umat atas keadilan murni. Ketika agama dijadikan stempel pembenar tindakan penguasa, yang lahir bukanlah kedamaian, melainkan kebatilan yang dibungkus atribut suci.
Di tengah kebingungan zaman saat kebenaran bisa diputarbalikkan, tidak ada lagi tempat bersandar selain menengadahkan tangan di waktu hening memohon petunjuk. Kita memanjatkan doa agar diberi kekuatan untuk mengenali yang hak dan yang batil, serta diselamatkan dari fitnah ketidakjelasan dan narasi pencitraan.
Mari peluk santri-santriwati yang terluka dengan doa-doa terhening agar cahaya cinta mereka pada ilmu tidak padam. Di hadapan Pengadilan Ilahi kelak, bukan gegapnya kekuasaan yang menyelamatkan, melainkan seberapa jujur kita membela nurani dan kebenaran di saat orang lain memilih berkompromi. (Timika,01112026)

