Mengapa Tetap Diam, Padahal Sudah Berlari?

blank

POJOK

 

Mengapa Tetap Diam, Padahal Sudah Berlari?

Oleh: Mustaqiem Eska

 

“Tanpa hadirnya gaya dalam berupa kesadaran yang melahirkan tekad (azam), seluruh peradaban dan individu sesungguhnya sedang berada dalam zona kebekuan struktural—diam di tempat, meski merasa telah berlari jauh.”

 

(pdlFile.com) ​Di dalam laboratorium hukum alam, sebuah benda yang berada dalam keadaan diam akan tetap diam, atau jika sedang bergerak, ia akan terus bergerak lurus beraturan, kecuali jika ada gaya luar yang bekerja atasnya. Hukum pertama Newton tentang inersia ini bukan sekadar prinsip mekanika tanah atau dinamika struktur., cermin suci tempat Allah Ta’ala memperlihatkan cara kerja jiwa manusia.

 

Dalam tatanan hidup yang presisi, perubahan tidak pernah lahir dari kebetulan, pujian, atau kehebohan slogan yang diperagakan di panggung-panggung publik. Tanpa hadirnya gaya dalam berupa kesadaran yang melahirkan tekad (azam), seluruh peradaban dan individu sesungguhnya sedang berada dalam zona kebekuan struktural—diam di tempat, meski merasa telah berlari jauh.

 

​Namun, manusia -saat ini- acapkali mengidap amnesia mekanis yang menggelikan. Kita gemar menuntut perubahan keadaan, memimpikan panen yang melimpah, dan meratapi keburukan nasib, namun pada saat yang sama kita merawat dengan gigih seluruh pola lama yang menjadi akar kebangkrutan kita. Kita berlaku ibarat seorang insinyur bebal yang berharap jembatan dapat menahan beban ganda, tanpa pernah sudi memperbaiki tensile strength (daya tarik) baja penyangganya atau memperhitungkan daya dukung tanah di bawahnya. Kita sibuk mengecat ulang dinding yang retak demi estetika luaran, seraya menutup mata dari fakta kelam bahwa pondasi di kedalaman sedang mengalami kelelahan bahan (fatigue) yang parah.

 

​Al-Qur’an merekam hukum Sunnatullah ini dengan kalimat yang begitu tegas :

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).

 

Di sinilah titik krusial yang sering kali gagal dibaca oleh akal yang terlampau dangkal. Perubahan bukanlah peristiwa eksternal yang diimpor dari luar, melainkan sebuah transformasi diferensial yang bermula dari ruang paling sunyi di dalam dada, yakni kesadaran nurani. Tanpa adanya awareness yang jujur atas cacat diri, tekad hanya akan menjadi buih retorika yang pecah dihantam gelombang kenyataan.

 

​Menyedihkan, peradaban hari ini merayakan “ilusi perubahan” dengan balutan gaya hidup yang teramat bising. Kita menyangka telah berubah hanya karena telah mengganti kosa kata, memperbarui penampilan fisik, atau berpindah dari satu panggung opini ke panggung opini lainnya. Kita menjadi generasi yang gemar bersolek di hadapan cermin, namun alergi pada inspeksi batin. Kita menuntut orang lain untuk berubah, menunjuk-nunjuk kesalahan sistem di luar, namun membentengi ego kita sendiri dari sentuhan koreksi. Ini adalah bentuk kegilaan kalkulasi yang setara dengan berharap kompas akan menunjukkan arah utara yang sejati, sementara magnet kesombongan masih melekat erat di samping jarumnya.

 

​Sebab-akibat tidak pernah salah dalam menghitung hutang-piutang perbuatan. Mengharapkan lompatan kualitas hidup tanpa adanya keberanian untuk merobohkan watak-watak lama yang merusak marwah adalah kepalsuan yang sunyi.

 

Kesadaran untuk bertekad bukanlah pelarian emosional yang hangat-hangat tahi ayam, melainkan sebuah ikhtiar presisi untuk menata kembali niat, meluruskan tauhid, dan mengarahkan seluruh daya jiwa menuju Ilahi Rabbi yang membutuhkan keberanian untuk mengakui kelemahan di hadapan-Nya, melepaskan jubah keangkuhan, dan melangkah dengan kedisiplinan yang tak tergoyahkan.

 

​Maka, sudah saatnya kita berhenti membohongi diri sendiri dengan mimpi-mimpi perubahan yang murah. Selama tidak ada kesadaran yang teruji untuk memancangkan tekad di dalam dada, maka seluruh ratapan, doa yang dilafalkan tanpa jiwa, dan tumpukan rencana di atas kertas hanyalah monumen kebebalan yang menunggu waktu untuk runtuh. Sebab pada akhirnya, semesta tidak pernah tunduk pada harapan mereka yang enggan bergerak, melainkan senantiasa merestui jiwa-jiwa yang berani menyalakan api kesadaran dan melangkah menembus batas-batas kelemahan dirinya sendiri. (Timika, 21092026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *