POJOK
Monster Bantal !
Oleh: Mustaqiem Eska
“Bagaimana mungkin sebuah bangunan hidup mau berdiri megah, kalau bahan bakunya cuma rasa kantuk yang dimanja dan alasan-alasan murah yang diproduksi di atas kasur?”
(pdlFile.com) Bantal itu, memang cuma seonggok kapuk. Tugasnya menopang leher supaya otot tidak terkeperot sewaktu tubuh mematikan mesinnya sejenak di malam hari. Tapi anehnya, barang sepele ini mendadak berubah fungsi jadi “monster” paling legal, membius ambisi, penumpul nalar, dan pembunuh waktu yang paling efektif.
Slogan “jauhkan bantal dari kepala” bukan sekadar urusan merapikan sprei atau merapikan kamar, melainkan kode perang melawan penyakit kemalasan akut yang kita pelihara sendiri.
Menempelkan kepala ke bantal secara berlebihan itu sama saja dengan membusukkan potensi diri secara perlahan. Manusia yang kepalanya terlalu “lengket” dengan bantal bakal punya mental kerupuk—gampang mlempem terkena gesekan kecil dan alergi berat sama yang namanya tempaan. Kelakuannya sering kali full alasan, sekaligus tragis. Mimpi pengin jadi sosok hebat yang mengubah dunia, tapi begitu alarm subuh berbunyi, ratapannya mirip korban bencana. Bagaimana mungkin sebuah bangunan hidup mau berdiri megah, kalau bahan bakunya cuma rasa kantuk yang dimanja dan alasan-alasan murah yang diproduksi di atas kasur?
Kita ini sering kali bergemuruh dengan cita-cita, tapi diam-diam tak bertenaga begitu berhadapan dengan selimut. Mengaku petarung yang siap menaklukkan tantangan zaman, padahal cuma untuk melawan gravitasi empuknya bantal saja sudah gemetaran. Bantal adalah simbol dari zona nyaman yang menipu—sebuah tempat persembunyian kemiskinan yang membuat kita merasa sedang “istirahat”, padahal sebenarnya kita sedang pingsan secara intelektual.
Ingat, sejarah tidak pernah mencatat nama-nama besar dari golongan orang yang hobi memeluk bantal sampai kesiangan. Kemenangan dan martabat hidup tidak pernah diantarkan ke meja orang-orang yang malas bergerak.
Jadi, angkat kepala dari bantal itu sekarang. Basuh wajah, siram ego dengan air wudhu, dan berdirilah tegak. Sebab ketika kesempatan dan takdir melintas di depan mata, itu hanya akan menyapa mereka yang sudah siap tempur—bukan mereka yang masih mendengkur dengan kepala di atas bantal. (Timika, 27092026)