Garis Akhir Perjalanan

blank

POJOK

 

Garis Akhir Perjalanan

​Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Puncak kehambaan, mendapatkan ridho-Nya adalah definisi paling hakiki dari kemenangan setiap ‘hati yang damai’.”

 

​(pdlFile.com) Sesungguhnya, secara metodologis dan ilmu ukur batin, seluruh dinamika hidup manusia—mulai dari akselerasi pertumbuhan, tumpukan pencapaian akademis, gelar peradaban, hingga gulungan ujian yang menyayat dada—sesungguhnya adalah sebuah pergerakan vektor tunggal. Kita mengira bahwa titik akhir dari pengembaraan panjang di atas tanah suci ni adalah tumpukan materi, panggung penghormatan semu, atau pujian dari sesama raga yang sama-sama rapuh.

 

Sementara seluruh jalan melingkar itu diciptakan hanya untuk menguji satu entitas tunggal: apakah pada garis finish nanti jiwa kita sanggup mendarat dengan selamat pada satu-satunya muara gravitasi sejati, yaitu Ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

​Proses pencerahan diri hakikatnya tidak pernah diukur dari seberapa banyak teori yang berhasil dibaca oleh nalar atau seberapa tinggi panggung yang telah dinaikinya. Pendidikan yang kehilangan kompas kehambaan hanya akan melahirkan rasa jumawa. Jiwa-jiwa yang hanya kaya akan teori, namun miskin praktek

 

Secara Ilahi, pencapaian tertinggi seorang hamba adalah tatkala ia lulus dari ujian penyerahan diri total—mencapai sebuah kondisi kesadaran yang terangkum dalam ikrar kepasrahan mutlak: “Rādhītu billāhi rabban, wa bil-islāmi dīnan, wa bi-Muḥammadin nabiyyan wa rasūlan” (Aku ridho Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku). Ikrar ini bukanlah sekadar ucapan bibir yang fasih di bibir, melainkan sebuah konversi struktur batin di mana kehendak pribadi dan ambisi dilipat rapat-rapat demi memberikan ruang mutlak bagi kehendak Tuhan.

 

​Puncak kehambaan, mendapatkan ridho-Nya adalah definisi paling hakiki dari kemenangan setiap ‘hati yang damai’. Ketika seorang hamba telah berhasil menanamkan rasa ridho di dalam dada—ridho atas lapang dan sempitnya rezeki, ridho atas sehat dan sakitnya raga, serta ridho atas suka dan dukanya takdir—maka seluruh kebingungan zaman mendadak surut tanpa bekas. Jarak antara hamba dan Pencipta terlipat rapat, dan jiwa tidak lagi diguncang oleh ketakutan akan masa depan atau penyesalan atas masa lalu.

 

Semua itu, ketika seluruh lampu gebyar dunia dipadamkan dan raga ditimbun di bawah dua meter tanah pertiwi, tidak ada lagi piagam, gelar, atau tepuk tangan yang berguna, kecuali satu sapaan mesra yang memanggil pulang jiwa yang telah tenang: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya.” (Timika, 07102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *