Sekolah Telah Mati

blank

POJOK

 

Sekolah Telah Mati

​Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“… bagaimana kalau anak yang benar-benar cerdas itu adalah mereka yang justru menolak materi pelajaran di sekolah?”

 

 

​(pdlFile.com) Saban kali pergantian pimpinan di kementerian pendidikan, ada satu hal yang rasanya selalu bikin mengelus dada, kenapa logika berpikirnya malah sering mundur ke belakang?

​Sekarang, kita malah diramaikan lagi oleh wacana klasik tentang layak atau tidaknya seorang siswa naik kelas. Tolok ukurnya masih sama: angka-angka di atas kertas dan ujian terstandar. Seolah-olah, manusia yang dilahirkan ke bumi ini adalah produk pabrik yang bentuk, ukuran, dan kapasitasnya harus sama persis.

​Pertanyaan sederhananya: Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan tatanan pendidikan kita, Pak Menteri?

​Ketika Anak Dianggap Seperti Baut Pabrik

​Coba perhatikan alam di sekitar kita. Tidak ada dua pohon yang bentuk daunnya sama persis. Bunga mawar punya caranya sendiri untuk mekar, begitu juga pohon jati yang tumbuh menjulang.

​Tapi di sekolah, kita malah memaksa semua anak untuk muat di dalam satu ukuran baju yang sama.

​Anak yang pintar melukis, jago olahraga, punya empati sosial tinggi, atau paham teknik, mendadak distempel “bodoh” dan “tidak naik kelas” hanya karena matematika atau hafalannya tidak mencapai KKM. Ini bukan sekadar salah urus kurikulum. Ini adalah tindakan yang mematikan potensi alami yang sudah dititipkan Tuhan pada setiap anak.

​Apakah semua keseragaman ini dipaksakan hanya demi kerapian laporan administratif dan gengsi statistik politik pendidikan? ​Bagaimana Kalau Anak yang Cerdas Justru yang Menolak?

​Mari kita coba balik cara pandangnya: bagaimana kalau anak yang benar-benar cerdas itu adalah mereka yang justru menolak materi pelajaran di sekolah?

​Siswa yang daya kritisnya sudah jalan sejak kecil biasanya lekas sadar kalau banyak Pelajaran di kelas sudah tidak relevan dengan kehidupan nyata. Ketika mereka mulai mempertanyakan isi buku, menolak cuma jadi penurut teori, dan tidak peduli lagi pada formalitas “angka nilai” atau “kenaikan kelas”, sistem persekolahan kita yang kaku justru panik. Anak-anak yang kritis ini malah dianggap pembuat masalah.

​Padahal, sejarah orang-orang hebat di dunia tidak pernah dicetak oleh anak-anak penurut yang cuma sibuk berburu nilai 100 di lembar ujian. Sejarah selalu diubah oleh mereka yang berani berpikir beda dan keluar dari aturan main yang dangkal.

​Jangan Sampai Sekolah Jadi Penjara

​Ukuran sukses seorang manusia itu sangat luas. Mereduksi keberhasilan hidup anak-anak cuma sebatas ijazah atau stempel “naik kelas” adalah pikiran yang sangat kerdil.

​Kalau sekolah cuma jadi tempat untuk menyeragamkan isi kepala anak-anak, memotong bakat unik mereka, dan membungkam rasa ingin tahu, maka sekolah bukan lagi taman belajar. Sekolah sudah berubah fungsi jadi penjara yang dingin.

​Melihat arah kebijakan yang kembali kaku ini, ingatan kita seperti dilempar kembali pada kalimat terkenal dari tokoh pendidikan Paulo Freire: bahwa ketika pendidikan tidak lagi memerdekakan manusia dan justru memaksa keseragaman yang menindas, maka pada titik itulah pendidikan sesungguhnya sudah mati.

​

Kembalikan Sekolah pada Fitrahnya

​Pak Menteri dan para pembuat kebijakan, kembalikanlah sekolah pada fungsinya yang sejati. Sekolah itu bukan pabrik perakitan baut dan mur. Sekolah adalah tempat menyemai benih kehidupan yang berbeda-beda.

​Jangan biarkan anak-anak pulang ke rumah dengan rasa minder dan patah semangat, cuma karena mereka tidak muat dalam cetakan seragam yang dibuat oleh birokrasi. Biarkan yang mawar tumbuh jadi mawar, dan yang jati melambung jadi jati. Sebab di hadapan Rabbul Izzaty, tidak ada satu pun anak manusia yang dilahirkan sebagai produk gagal. (Timika, 11102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *