“OTW Allah”

blank

POJOK

 

“OTW Allah”

Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Tidak perlu menunggu jadi manusia yang sempurna dulu untuk memulai jalannya. Mau masih sering tertatih, kadang melenceng sedikit, atau langkahnya lambat, yang paling penting adalah arahnya sudah benar.”

 

(pdlFile.com) Pernah lihat teman menulis status atau postingan, “Lagi OTW Allah nih”? Di era sekarang, kalimat ini kerap jadi jargon anak muda yang sedang berbenah diri. Kelihatan sederhana, bahkan agak santai. Tapi kalau dibongkar, ucapan “OTW” ini sebenarnya punya kedalaman yang luar biasa.

 

Mari kita bedah. Ibarat mencari rumah yang sebenarnya. setiap gerak pasti ada tujuannya. Bayangkan Anda sedang naik transportasi umum tanpa tahu mau turun di mana—pasti rasanya linglung dan hampa, kan? Nah, hidup manusia sering kali seperti itu.

 

Ketika seseorang bilang dia sedang “OTW Allah”, secara filosofis dia baru saja menemukan peta dan alamat tujuan hidupnya. Para filsuf menyebutnya pencarian Causa Prima—sebab utama dari segala hal. Manusia menyadari bahwa harta, popularitas, atau gawai canggih tidak pernah benar-benar memuaskan dahaga batinnya. Kita ini kontingen (serba terbatas dan butuh pegangan), jadi sudah sewajarnya kita bergerak menuju Yang Maha Absolut dan Maha Nyata.

 

“OTW Allah” adalah momen ketika akal dan kesadaran kita akhirnya sepakat: “Oke, cukup muter-muter tidak jelasnya, sekarang saatnya pulang.”

Dalam hukum termodinamika, ada istilah Entropi—yaitu kecenderungan segala sesuatu di alam semesta untuk bergerak menuju ketidakteraturan atau kekacauan. Contoh gampangnya: kamar yang tidak pernah dibersihkan lama-lama bakal berantakan sendiri, atau kopi panas yang dibiarkan pasti akan dingin dengan sendirinya.

Jiwa manusia pun punya hukum entropi. Kalau dibiarkan tanpa arah dan tanpa pegangan spiritual, hidup kita mudah sekali jatuh ke dalam kekacauan: cemas, stres, hampa, dan gelap. “OTW Allah” itu bukan perjalanan yang diukur dengan satuan kilometer, melainkan perjalanan jarak hati.

 

Para sufi sering mengibaratkan hati manusia seperti cermin. Dosa, rasa iri, dan terlalu sibuk mengejar dunia adalah debu tebal yang menutupi cermin, sehingga itu tidak bisa memantulkan cahaya. “OTW” berarti proses membersihkan debu-debu lewat taubat, zikir, dan kebaikan-kebaikan kecil setiap hari.

 

Hemmm, setiap manusia sebenarnya punya “frekuensi” Ilahi di dalam dirinya—karena ada tiupan roh dari sang Pencipta. Saat kita sibuk dengan hal-hal jelek, frekuensi kita jadi sumbang dan bikin jiwa rasanya “sumpek”. Begitu kita mulai OTW kembali kepada-Nya, frekuensi jiwa kita kembali bersahutan (beresonansi) dengan asal-usulnya. Hasilnya? Hati jadi tenang (thuma’ninah).

 

Ya, “OTW Allah” itu pada dasarnya adalah mudik terbesar yang sedang kita jalani. Tidak perlu menunggu jadi manusia yang sempurna dulu untuk memulai jalannya. Mau masih sering tertatih, kadang melenceng sedikit, atau langkahnya lambat, yang paling penting adalah arahnya sudah benar.

 

Sebab dalam perjalanan ini, yang dinilai bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan ke mana arah wajah dan hati kita sedang menghadap. (Timika, 13102026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *