BHO-2 : Siapa Bilang Onthel Sudah Musnah ?

BHO-2 :

Siapa Bilang Onthel Sudah Musnah ?

 

Catatan : Mustaqiem Eska ( Journalist / pdlFile.com )

 

(Bogor – pdlFile.com) ​Bogor tidak pernah sekadar menjadi titik di atas peta; ia adalah sebuah ruang waktu yang menyimpan lapisan-lapisan narasi kebangsaan. Dari era Kerajaan Pajajaran yang agung, ruang peristirahatan kolonial yang sejuk, hingga menjadi saksi bisu berbagai pergolakan politik modern, Bogor senantiasa berdiri sebagai jangkar sejarah.

 

Hari itu (20 – 21 /6/2026), ketika layar televisi dan gawai kita dipenuhi oleh riuh rendah demonstrasi—teriakan menuntut keadilan ekonomi, carut-marut konjungtur politik nasional, dan polarisasi yang kian tajam—Bogor justru menawarkan sebuah jeda yang menyejarah melalui perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544.

 

​Di tengah situasi negeri yang sedang “panas”, esensi kebangsaan kita kerap diuji. Apakah kita akan terai-berai oleh kepentingan sesaat, atau kita memiliki pengikat kosmis yang mampu menyatukan kembali retakan tersebut? Jawabannya mungkin tidak ditemukan di dalam gedung parlemen, melainkan di jalanan Kota Bogor, di mana ratusan sepeda tua mengayuh perlahan, melawan arus modernitas yang tergesa-gesa.

 

Romantisme BHO-2

 

​Gelaran Bogor Hujan Onthel (BHO) ke-2 hadir bukan sekadar sebagai parade nostalgia atau pengisi kalender seremonial. Di bawah langit Bogor nan biru, derit rantai berkarat dan denting bel ting-ting dari komunitas sepeda tua seolah menjadi kontra-narasi terhadap klakson kendaraan yang tak sabaran dan kepulan asap ban yang dibakar di ruang-ruang unjuk rasa.

 

​Ketua KORMI Kota Bogor, Zaenul Mutaqin, dengan tepat menangkap esensi ini: “BHO bukan sekadar ajang bersepeda, melainkan sarana mempererat silaturahmi, melestarikan budaya, serta mengenalkan sejarah kepada generasi muda.”

 

​Di sinilah dialektika kebudayaan itu terjadi. Sepeda onthel—sebuah artefak masa lalu yang melambangkan kesederhanaan, ketahanan, dan heroisme masa perjuangan—menjadi media komunikasi yang cair. Ketika komunitas dari berbagai daerah berkumpul, ego sektoral dan sekat-sekat politik melebur dalam tawa dan keringat yang sama. Ini adalah olahraga masyarakat yang bertransformasi menjadi ritus kebudayaan; sebuah perayaan atas tubuh yang bergerak dan jiwa yang merawat ingatan.

 

Transformasi Gen-Z

 

​Ada anggapan keliru bahwa Generasi Z adalah generasi yang abai, yang tenggelam dalam algoritma semu dan candu gawai. Namun, menyaksikan keterlibatan mereka dalam lanskap Bogor yang modern adalah sebuah bantahan yang elegan. Gen-Z tidak menolak sejarah; mereka hanya mendefinisikannya dengan cara yang berbeda. Terbukti, dengan hadirnya peserta BHO-2 -yang juga- oleh gen-Z.

 

​Bagi Gen-Z, onthel yang melintas di depan bangunan kolonial atau cagar budaya Bogor adalah sebuah harmoni estetika yang bernilai tinggi (aesthetic). Mereka memotretnya, mengunggahnya ke media sosial, dan menjadikannya tren. Namun lebih dari sekadar konten, transformasi ini adalah bentuk rekontekstualisasi sejarah. Melalui kacamata modernitas mereka, sejarah tidak lagi terasa berdebu dan membosankan di dalam catatan, melainkan sesuatu yang hidup, yang bisa disentuh, dan dinikmati di ruang publik.

 

Bersyukurlah, teenyata,  sepeda tua tidak kehilangan jiwanya di hadapan generasi gen-Z. Faktanya, justru mendapatkan napas baru sebagai simbol perlawanan terhadap gaya hidup konsumtif dan pengingat akan pentingnya hidup yang berkelanjutan (sustainability).

 

​Secara kebangsaan, ketika situasi politik dan ekonomi nasional sedang riuh oleh berbagai demo dan ketidakpastian, kebudayaan sering kali menjadi benteng pertahanan terakhir. Budaya kebangsaan Indonesia bukanlah sesuatu yang statis, ia dibentuk oleh interaksi, toleransi, dan rasa senasib sepenanggungan.

 

​Bogor Hujan Onthel ke-2 membuktikan bahwa di dalam ruang budaya dan olahraga rekreasi, tidak ada kawan atau lawan politik. Yang ada hanyalah sesama manusia yang merayakan kehidupan dan menghormati leluhur. Kayuhan pedal sepeda tua mengajarkan kita tentang makna hidup berbangsa: untuk tetap seimbang, kita harus terus bergerak maju secara bersama-sama, tanpa melupakan pijakan di bumi tempat kita berpijak.

 

​Ya, BHO-2 sebuah refleksi dari kota hujan Bogor pada usianya yang ke-544 tahun telah mengajarkan kita bahwa modernitas dan sejarah tidak harus saling menegasikan. Gen-Z yang modern, dengan segala kecakapan digitalnya, dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai luhur masa lalu yang direpresentasikan oleh komunitas onthel.

 

​Bogor Hujan Onthel adalah oase. Terbukti, BHO-2 adalah pengingat yang manis bahwa Indonesia, dengan segala kerumitannya, tetaplah sebuah rumah besar yang disatukan oleh benang-benang kebudayaan yang kokoh. Dari Bogor kita belajar: “Sekencang apa pun angin politik berembus, selama kita merawat akar sejarah dan bergerak dalam kebersamaan, kita tidak akan pernah roboh.” (Bogor, 20/6/2026)

#bogorhujanonthel2

#kostibogor

#KOSTI

#onthelistindonesia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *