Mengapa Jalan Menuju Keburukan itu Ringan ?

TSP -026 – 13072026

 

Mengapa Jalan Menuju Keburukan itu Ringan ?

 

Oleh: Mustaqiem Eska

 

 

(pdlFile.com) ​Ada sebuah lelucon getir yang sering berlaku dalam urusan batin manusia: mengapa jalan menuju keburukan atau kelalaian selalu ringan dan mulus, sementara jalan menuju Tuhan terasa seperti mendaki tebing terjal yang membuat napas tersengal-sengal? Menjauh dari rumah ibadah, menunda kewajiban spiritual, atau membiarkan diri larut dalam kesenangan duniawi anehnya terasa begitu ringan, nyaris tanpa beban. Sebaliknya, bersujud atau mengambil waktu jeda untuk mengingat Pencipta justru sering kali memicu pergulatan batin yang melelahkan.

 

​Secara teknis, jiwa manusia tunduk pada hukum alam yang mirip dengan termodinamika. Di alam semesta, segala sesuatu secara alami bergerak menuju ketidakteraturan jika dibiarkan tanpa energi luar—sebuah fenomena yang kita kenal sebagai entropi. Menjauh dari Tuhan terasa ringan karena ia adalah bentuk “pelepasan kendali”. Saat seseorang memilih untuk abai terhadap nilai transenden, ia sedang mengikuti arus inersia ego atau nafsunya sendiri. Tidak ada gaya gesek batin karena tidak ada perlawanan.

 

​Sebaliknya, ibadah adalah kerja mekanik yang melawan arus gravitasi tersebut. Berdiri di sepertiga malam, menekan kesombongan, atau menyisihkan sebagian harta membutuhkan pasokan energi moral yang konstan. Ia berat karena ia adalah usaha mendaki.

 

​Namun, ringannya rasa saat menjauh dari Tuhan sebenarnya mirip dengan sensasi free fall (jatuh bebas) bagi seorang penerjun payung. Rasanya seperti melayang tanpa beban, sampai akhirnya tanah membentur tubuh dengan keras. Rasa ringan itu adalah mati rasa sesaat sebelum benturan eksistensial terjadi.

 

Beban Sebuah Makna

 

Filsuf Perancis, ​Jean-Paul Sartre pernah menulis tentang bagaimana manusia sering kali cemas saat dihadapkan pada kebebasan radikal. Ketika manusia memutuskan hubungan dengan aturan Tuhan, untuk sesaat ia merasa menjadi “tuan penuh” atas dirinya sendiri. Ini adalah ilusi kebebasan negatif—bebas dari aturan, bebas dari kewajiban, namun sebenarnya kosong dari makna. Menjauh terasa enteng karena ego manusia merasa berdaulat tanpa harus bertanggung jawab pada siapa pun.

 

​Beribadah menjadi terasa berat karena ia menuntut sesuatu yang paling ditakuti manusia: penyerahan ego (surrender). Saat kita menghadap Tuhan, kita secara sadar mengakui bahwa hidup ini bukan sekadar panggung sandiwara main-main, melainkan sebuah amanah dengan konsekuensi kosmis. Filsuf Søren Kierkegaard menyebut kesadaran spiritual ini sebagai momen yang penuh “gentaran” (fear and trembling). Ibadah memaksa kita menanggalkan semua topeng kepalsuan sosial dan berdiri telanjang di hadapan Yang Mahamutlak. Menatap cermin batin yang jujur memang tidak pernah menjadi pekerjaan yang ringan.

 

Kurva Belajar Jiwa

 

​Secara kacamata pendidikan, spiritualitas sejatinya adalah proses pembelajaran tingkat tinggi (high-order learning). Mengapa anak kecil menganggap sayur itu pahit dan permen yang merusak gigi itu nikmat? Karena mereka belum memiliki “literasi rasa”. Manusia yang menganggap menjauh dari Tuhan itu meringankan hidup berada dalam fase serupa; mereka belum bisa membedakan antara kesenangan sesaat (pleasure) dengan kebahagiaan sejati (joy).

 

​Dalam proses belajar, fase awal selalu menjadi yang paling kaku dan penuh siksaan. Otot-otot spiritual kita belum terlatih untuk disiplin ibadah. Namun, seiring berjalannya waktu dan latihan yang konsisten (riyadhah), rasa kaku itu akan bertransformasi menjadi sebuah kecakapan bawah sadar yang mengalir tanpa beban—sebuah maqam yang dalam tradisi spiritual disebut sebagai kemanisan iman atau makrifat.

 

​Kaum arif dan para sufi, seperti Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, memandang bahwa rasa berat dalam ibadah sengaja diciptakan Tuhan sebagai mekanisme penyaringan alami. Tuhan meletakkan “pintu gerbang yang sempit” menuju Diri-Nya agar yang masuk ke dalam keintiman spiritual hanyalah jiwa-jiwa yang membawa ketulusan, bukan para pemburu kenyamanan surga.

 

​Nafsu manusia itu ibarat anak yang sedang disapih dari ibunya. Proses menyapih—menghentikan ketergantungan pada ASI—selalu diwarnai tangisan dan rasa berat yang luar biasa. Namun, itulah satu-satunya cara agar sang anak bisa tumbuh dewasa dan memakan makanan yang lebih bergizi.

 

​Karenanya, rasa ringan saat menjauh dari Tuhan adalah ilusi optik batin. Ia adalah ringannya selembar daun kering yang ditiup angin topan menuju jurang; meluncur cepat tanpa usaha, namun tanpa kendali dan arah tujuan. Sementara itu, beratnya jalan ibadah adalah beratnya kepompong yang sedang berjuang membelah dirinya. Penuh tekanan dan melelahkan—namun hanya melalui “beban” itulah, daya terbang spiritual manusia sedang diciptakan. (Timika, 13072026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *