TSP – 038 – 31072026
Menata Diri, Menyelamatkan Negeri
Oleh: Mustaqiem Eska
”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…” (QS. Al-Ma’idah [5]: 105)
“Negara ini bisa baik dimulai dari individu yang baik.” – Gus Baha
(pdlFile.com) Kita hidup di jaman yang serba bising. Garis waktu media sosial kita penuh dengan debat kusir, saling tunjuk hidung, dan obral kritik soal siapa yang paling bertanggung jawab atas sengkarutnya negeri ini. Semua orang mendadak ingin jadi pengamat, komentator, sekaligus hakim sosial.
Di tengah hiruk-pikuk itu, dawuh KH. Ahmad Bahauddin Nursalim—alias Gus Baha—terasa seperti segelas air dingin di tengah terik siang: “Negara ini bisa baik dimulai dari individu yang baik.”
Sederhana, tapi menohok. Kalimat ini bukan cuma kutipan manis untuk status WhatsApp, melainkan tamparan halus yang mengingatkan kita pada Surah Al-Ma’idah ayat 105: “‘Alaikum anfusakum”—jagalah dirimu sendiri.
Bayangkan sebuah konstruksi jembatan atau gedung tinggi. Bangunan itu tidak akan pernah berdiri kokoh jika struktur pondasi dan bata-bata penyusunnya retak dan rapuh dari dalam. Negeri ini pun sama. Miniatur terkecil dari sebuah negara bukanlah lembaga pemerintahan atau lembaran undang-undang, melainkan kualitas dada dan pikiran dari tiap-tiap manusianya.
Lantas, bagaimana meracik pola pikir individu agar tidak gampang “retak” di tengah jaman yang makin chaotic ini?
Sebelum sibuk membenahi dunia, selesai dulu dengan diri sendiri. Kalau mau lingkungan bersih, jangan buang sampah di depan rumah sendiri. Kebaikan publik itu cuma dampak lanjutan (emergent property) dari kumpulan orang yang selesai dengan urusannya masing-masing. Ini soal kedamaian batin (thuma’ninah).
Orang yang batinnya tenang tidak akan gampang terprovokasi narasi kebencian atau ketakutan yang sengaja digoreng di ruang publik. Paham bahwa kesesatan atau kekacauan di luar sana tidak akan merusak kita, selama “kompas petunjuk” di dalam dada tetap menyala.
Ya, wajtubya beralih dari niat ke aksi. Di sini kita bicara arsitektur perilaku: self-regulation. Pintar menyaring mana hal yang ada di dalam kendali kita (circle of control), dan mana yang cuma bikin kepala pusing tanpa bisa kita ubah (circle of concern).
Banyak orang keliru mengartikan ayat “‘alaikum anfusakum” sebagai sikap egois, apatis, atau “egoisme religius”—seolah kita diajak untuk acuh tak acuh pada penderitaan sekitar.
Padahal, di sinilah analisis tajamnya. Fokus pada diri sendiri bukanlah bentuk pementingan diri (selfishness), melainkan bentuk tanggung jawab sosial tertinggi. Mengapa demikian? Seseorang tidak bisa menuangkan air dari teko yang kosong. Kita tidak mungkin membenahi moral bangsa jika batin dan pikiran kita sendiri masih berantakan, gampang emosi, dan gemar menyebar hoaks.
Ketika seseorang berhasil mengendalikan dirinya dari korupsi kecil-kecilan, ketidakjujuran harian, atau godaan ikut-ikutan membenci, ia sebenarnya sedang memutus satu rantai kerusakan di tingkat nasional.
Negara yang tangguh tidak dijamin oleh ribuan seminar moral atau bertumpuk-tumpuk aturan hukum baru. Negara yang baik lahir dari ribuan individu yang setiap pagi bangun tidur dengan satu tekad sederhana: “Hari ini, minimal saya tidak menambah beban dan kerusakan bagi orang lain.”
Dan tentu, merevolusi sebuah bangsa tidak pernah dimulai dari panggung-panggung pidato yang riuh, melainkan dari keheningan dada manusia yang berani berkata pada dirinya sendiri: “‘Alaikum anfusakum—mulai dari saya, detik ini juga.” (Timika, 31072026)





