Novel : PENJAHAT
Penulis : Mustaqiem Eska
Penjara Rasa Penthouse
(5)
Mutasi itu akhirnya beres juga. Setelah melewati rangkaian “birokrasi bawah meja” yang menguras beberapa digit angka di rekening bayangannya, Koko Gun akhirnya resmi dipindahkan ke Lapas Kelas IIA di kota kelahirannya. Kota tempat imperium bisnisnya berdiri, dan tempat di mana keluarganya tinggal hanya berjarak 20 menit berkendara dari gerbang lapas.
Bagi narapidana lain, jeruji besi adalah pembatas dunia. Bagi Koko Gun, jeruji itu hanyalah portal transit yang sangat nyaman.
Rutinitas “Kantor Cabang” lapas di dalam sel nomor 13 yang telah disulap menjadi mirip studio apartemen minimalis—lengkap dengan kasur pegas orthopedic, pendingin ruangan yang disamarkan, dan dinding kedap suara—Koko Gun memulai hari kerjanya.
Setiap pagi, aktivitasnya tidak jauh berbeda dengan masa-masa sebelum ia mengenakan rompi oranye.
Pukul 08.00 – briefing pagi. Koko Gun memimpin rapat direksi melalui aplikasi telekonferensi di tablet 10 inci miliknya. Koneksi internet? Menggunakan modem portabel berkecepatan tinggi yang diselundupkan lewat katering harian khusus untuknya.
Pukul 10.30 – tanda tangan dokumen. Asisten pribadinya, yang terdaftar sebagai “penasihat hukum”, datang membawa map tebal berisi berkas akuisisi lahan dan laporan keuangan. Di ruang kunjungan khusus yang disewa privat, Koko Gun menandatangani semuanya sambil menyeruput kopi arabika hangat.
Pukul 13.00 – makan siang keluarga: Alih-alih memakan jatah bubur atau sayur lodeh lapas, istri dan anak-anak Koko Gun datang membawa rantang susun berisi masakan restoran bintang lima. Mereka makan bersama di ruang kepala pengamanan lapas yang sedang “kebetulan” kosong karena sang pejabat sedang turun ke lapangan.
”Ingat, Pa,” bisik istrinya di sela-sela makan siang.
“Jangan terlalu mencolok. Minggu depan ada audit dari pusat.”
Koko Gun hanya terkekeh pelan.
“Uang yang mengatur aturan, Ma. Tenang saja.”
Protokol “Kucing-kucingan”: Sandi Merah!
Bermain dengan api tentu membutuhkan kesigapan tingkat tinggi. Koko Gun dan para sipir yang telah “dijinakkan” memiliki protokol darurat yang sangat rapi jika sewaktu-waktu terjadi inspeksi mendadak (sidak) dari kementerian atau Ombudsman.
Suatu sore, saat Koko Gun sedang santai menganalisis pergerakan saham di tabletnya, lampu indikator kecil berwarna biru di atas pintunya berkedip tiga kali. Itu adalah sandi merah—tanda ada tim inspeksi eksternal yang baru saja melewati gerbang depan tanpa pemberitahuan.
Tablet dan modem dimasukkan ke dalam kompartemen rahasia di bawah lantai kayu parket tiruan yang dilapisi karpet tipis.
Sprei sutra bermotif minimalis ditarik kasar, digantikan dengan selimut garis-garis jatah lapas yang kusam dan agak berbau apek.
Koko Gun berganti pakaian dari kaos polo mewah ke kaos oblong putih polos yang agak longgar, lalu duduk bersila di lantai semen yang sengaja disisakan di sudut sel.
Buku tebal tentang hukum pidana dibuka di pangkuannya, memberikan kesan bahwa ia sedang merenungi nasib dan bertobat.
Ketika pintu selnya diketuk keras oleh kepala lapas yang mendampingi tim inspeksi, Koko Gun mendongak dengan wajah lesu yang dibuat-buat, lengkap dengan tatapan mata yang layu.
”Bagaimana kondisinya, Gun?” tanya salah satu anggota tim inspeksi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling sel yang tampak “standar” (karena sebagian besar fasilitas mewah telah disembunyikan di balik lemari triks).
”Sehat, Pak. Saya menjalani masa hukuman ini dengan ikhlas dan terus berdoa agar bisa segera bebas,” jawab Koko Gun dengan nada suara yang bergetar penuh penyesalan.
Inspektur itu mengangguk puas, mencatat sesuatu di papan jalannya, lalu berlalu menuju sel berikutnya.
Kemenangan di Balik Jeruji
Begitu langkah kaki rombongan inspeksi sayup-sayup menghilang di ujung koridor, lampu biru mati.
Pintu sel Koko Gun kembali diketuk pelan oleh seorang sipir muda yang tersenyum lebar. Sipir itu menyerahkan kembali segelas matcha latte dingin yang sempat diamankan di ruang staf.
Koko Gun kembali merebahkan dirinya di kasur empuk, menyalakan kembali tabletnya, dan mengirimkan pesan singkat kepada sekretarisnya.
”Sidak aman. Lanjutkan pembelian saham PT. Bumi Sejahtera esok pagi.”
Di luar, matahari mulai tenggelam di ufuk barat kota kelahirannya. Bagi dunia luar, Koko Gun adalah seorang pesakitan yang terisolasi. Namun di dalam sini, dia adalah seorang raja yang hanya berganti takhta.
Sisa-Sisa Kapal yang Karam
Suasana di ruang kerja utama terasa asing. Deretan kubikel yang biasanya dipenuhi riuh suara papan ketik, dering telepon, dan obrolan santai saat jam makan siang, kini mendadak sunyi. Eksodus massal karyawan dalam dua minggu terakhir telah meninggalkan kekosongan yang kentara. Dari puluhan staf yang dulu menjadi roda penggerak perusahaan, kini hanya tersisa segelintir orang. Mereka adalah para karyawan inti yang memilih bertahan—bukan karena fasilitas yang makin menipis, melainkan karena loyalitas yang telanjur mengakar dan rasa kepemilikan yang mendalam.
Namun, di dunia bisnis yang kejam, loyalitas saja tidak cukup untuk membendung beban kerja yang kian menumpuk.
Hendra, sang Manajer Proyek yang kini merangkap menjadi konseptor sekaligus komunikator klien, memijat pelipisnya yang berdenyut. Di sebelahnya, Rian, desainer senior yang tersisa, menatap layar monitor dengan mata merah akibat begadang tiga malam berturut-turut.
”Nive, revisi dari klien sudah selesai. Tapi kalau mereka minta pitching baru minggu depan, jujur gue angkat tangan,” bisik Rian, suaranyalirih.
Ia memakai “banyak topi” sekaligus sekarang; mendesain, merevisi, hingga mengurusi administrasi yang biasanya dikerjakan oleh tiga orang berbeda.
Hendra hanya bisa mengangguk lemah, menepuk pundak sahabatnya itu. Ada kelelahan emosional yang tidak terucapkan setiap kali mereka menatap barisan kursi kosong di sekeliling mereka. Mereka bertahan karena percaya pada visi awal perusahaan ini, namun kapasitas mental dan fisik mereka jelas memiliki batas.
Sementara itu, di sudut koridor yang lain, Tiara menatap layar monitornya dengan mata lelah. Sebagai Manajer HRD, kotak masuk emailnya penuh dengan ratusan lamaran. Namun, alih-alih merasa lega, kepalanya justru kian dipenuhi kecemasan. Masalah utamanya saat ini bukan sekadar mencari pengganti, melainkan waktu.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang sembari menatap catatan di buku agendanya.
Mendapatkan orang baru itu mudah. Yang sulit adalah memindahkan ‘otak’ dan ritme kerja lama ke kepala mereka dalam waktu singkat.
Tiara tahu persis, perusahaan sedang terjebak dalam lingkaran setan bernama proses sosialisasi dan adaptasi (onboarding). Industri yang mereka jalani memiliki alur kerja yang sangat kompleks. Butuh waktu minimal tiga hingga enam bulan bagi seorang karyawan baru untuk benar-benar mandiri tanpa pengawasan.
Masalahnya, siapa yang akan mengawasi mereka? Hendra? Rian? Karyawan inti yang tersisa sudah terlalu kewalahan dengan pekerjaan mereka sendiri. Jika dipaksa membimbing anak baru, produktivitas tim inti justru akan merosot tajam, dan itu adalah tiket gratis menuju kehancuran total.
Belum lagi rumor yang beredar di luar. Beberapa kandidat potensial yang sempat dihubungi Tiara tiba-tiba mundur di tengah proses rekrutmen. Mereka takut masuk ke dalam “kapal yang karam”.
Tiara memejamkan mata sejenak, memutar otak. Cara konvensional tidak akan menyelamatkan mereka sekarang. Ia harus mengambil langkah darurat, sebuah perjudian besar untuk menjembatani jurang pemisah ini.
Pertama, ia harus menghentikan pencarian karyawan tetap untuk posisi teknis yang mendesak. Ia akan beralih ke tenaga lepas ahli (freelancer) yang bisa langsung bekerja tanpa butuh sosialisasi panjang. Setidaknya, untuk meringankan beban kerja Hendra dan Rian malam ini.
Kedua, Tiara mulai menyalakan kamera ponselnya, bersiap merekam video pendek. Ia akan membuat modul onboarding kilat—sebuah panduan visual praktis agar karyawan baru nantinya bisa belajar mandiri tanpa perlu mengganggu waktu tim inti.
Namun, langkah terpentingnya adalah besok pagi. Tiara bertekad menghadap jajaran direksi untuk menuntut anggaran bonus khusus. Karyawan inti yang bertahan harus diapresiasi lebih. Ia tahu betul, jika satu saja dari segelintir orang di luar ruangannya itu tumbang atau memilih pergi, perusahaan ini benar-benar akan lumpuh total.
Malam kian larut, namun lampu di ruangan Tiara dan kubikel tim inti tetap menyala terang. Mereka sedang bertaruh dengan waktu: mampukah tenaga baru masuk dan beradaptasi sebelum sisa karyawan inti ini kehabisan seluruh energi mereka? ###
