TSP – 031 – 17072026
Survival Mode
Oleh: Mustaqiem Eska
“Pendidikan harus melahirkan manusia yang tanggap dan tidak gagap ketika kenyamanan modern atau kestabilan sistem tiba-tiba runtuh.”
(pdlFile com) Hari-hari ini, berjalan di ruang negri rasanya seperti melintasi hamparan sekam kering. Riuh rendah narasi politik yang saling sikut, polarisasi yang kian meruncing, ditambah himpitan ekonomi yang tak kunjung melonggar, isu pajak yang kian koloni, membuat masa depan tak lagi tampak sebagai bentangan rencana yang manis. Hari esok telah bermutasi menjadi teka-teki yang penuh ancaman. Bagi kita, rakyat biasa yang tidak punya kuasa atas palu kebijakan, berada dalam survival mode (mode bertahan hidup) bukan lagi sekadar pilihan atau gaya hidup estetik kaum akar rumput. tapi telah menjelma menjadi sebuah laku spiritual, mental, dan taktik harian yang mendesak.
Bagaimana cara kita, yang berada di posisi sudra bersiap menghadapi hari esok yang makin tak terduga tanpa kehilangan kewarasan? Jawabannya menuntut kita merajut pertahanan khusus.
Langkah pertama dimulai dari pertempuran paling sunyi, yakni isi kepala kita sendiri. Disadari, terus-menerus dihujani kecemasan sosiopolitik lewat layar gawai adalah potret resep instan menuju kelelahan mental (mental fatigue). Dalam ilmu psikologi dikenal konsep resiliensi—kemampuan untuk membal kembali setelah dihantam badai. Seseorang dituntut ketegasan untuk memisahkan apa yang bisa kita kontrol dan apa yang di luar kendali. Manuver elite politik, naik-turunnya inflasi, atau intrik kekuasaan adalah hal di luar kuasa kita. Namun, bagaimana kita meresponsnya, membatasi konsumsi informasi beracun, dan menjaga ketenangan domestik adalah mutlak di bawah kendali kita. Menjaga kompas mental tetap stabil di tengah badai adalah pertahanan pertama agar kita tidak larut dalam histeria massal.
Di tengah suhu sosial yang tinggi, tindakan paling rasional untuk bertahan hidup adalah menolak menjadi bahan bakar tambahan. Kita harus menjadi peredam panas (heat sink). Caranya adalah dengan menghemat energi hidup kita, menghindari gesekan-gesekan horizontal yang sia-sia, dan mengarahkan energi yang tersisa untuk membangun keteraturan di lingkup paling mikro: keluarga dan lingkungan terdekat.
Namun, manusia tidak dirancang untuk menjadi pulau yang terisolasi. Ketika sistem besar di atas sana sibuk dengan kepentingannya sendiri, pertahanan terbaik rakyat adalah menghidupkan kembali apa yang disebut sosiolog Émile Durkheim sebagai solidaritas organik. Ini bukan sekadar konsep sosiologi yang berdebu di buku teks, melainkan jaring pengaman konkret di dunia nyata. Solidaritas ini mewujud pada lumbung pangan komunitas, kelompok gotong royong tingkat RT, hingga kesediaan untuk saling berbagi keterampilan tanpa pamrih. Dalam badai yang besar, sekoci tunggal akan mudah terbalik. Namun, ketika sekoci-sekoci kecil itu diikat bersama dengan tali empati, mereka akan menjadi rakit raksasa yang jauh lebih stabil menghadapi ombak.
Semua modal pertahanan ini tentu tidak jatuh dari langit; harus ditumbuhkan melalui pendidikan yang adaptif. Sayangnya, sistem pendidikan kita kerap kali masih bertindak sebagai pabrik yang mencetak robot-robot administratif, alih-alih manusia yang siap bertahan hidup. Di era yang rumit ini, kita membutuhkan kurikulum bertahan hidup yang baru. Pendidikan harus melatih literasi kritis agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks politik yang memecah belah. Lebih dari itu, kita harus kembali mengajarkan keterampilan hidup praktis (life skills) yang mendasar: mulai dari mitigasi bencana, bercocok tanam skala rumahan, pertolongan pertama medis, hingga navigasi keuangan mikro.
“Pendidikan harus melahirkan manusia yang tanggap dan tidak gagap ketika kenyamanan modern atau kestabilan sistem tiba-tiba runtuh.”
Jadi, survival mode bukanlah sebuah bentuk kepasrahan yang pesimis. Sebaliknya, apapun badai politik yang sedang dipentaskan di panggung kekuasaan, kita memilih untuk tetap hidup, tetap waras, dan tetap utuh. Badai, sekuat apa pun ia mengamuk, pada akhirnya akan reda. Dan ketika hari baru itu tiba, rakyat yang terlatih dan solid inilah yang akan tetap berdiri di sana, siap merajut kembali peradaban dengan tangan mereka sendiri : survival. (Timika, 17072026)





