POJOK
Jangan Sampai Kebodohan Beranak Pinak
Oleh : Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) Sebuah peribahasa klasik Jawa pernah mengisyaratkan sebuah konsep tentang ketidaktahuan: wong kang ora ngerti yen piyambakipun ora ngerti—seseorang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Inilah benih dari apa yang disebut sebagai kebodohan berlipat ganda (double ignorance).
Kebodohan tahap pertama adalah ketiadaan pengetahuan, sebuah muara yang sejatinya alami dan manusiawi. Namun, ketika ketiadaan pengetahuan itu dibungkus oleh rasa merasa tahu, dikukuhkan oleh keangkuhan, dan ditutupi oleh enggan belajar, ia bertransformasi menjadi kebodohan yang beranak pinak—berlipat ganda dan menular.
”Ketidaktahuan adalah kekosongan; ia menunggu untuk diisi. Namun kebodohan yang berlipat ganda adalah ilusi kecukupan; ia menolak segala bentuk isi.”
Membatasi kebodohan agar tidak menjadi berlipat ganda bukanlah upaya untuk menuntut setiap manusia menjadi genius seketika, melainkan sebuah tindakan kesadaran etik. Ada beberapa benteng yang perlu didirikan agar kebodohan awal tidak bertunas menjadi kepatiran budi yang lebih parah.
Langkah terberat sekaligus paling radikal dalam membatasi kebodohan adalah berani mengakui keterbatasan diri. Menyatakan kalimat sederhana seperti, “Saya tidak tahu,” adalah sebuah jeda suci. Di dalam jeda itulah ruang belajar terbuka. Kebodohan bertambah rumit ketika gengsi sosial menuntut kita untuk selalu memiliki jawaban atas segala hal.
Di era ketika ruang digital memberi panggung serba instan, ketidaktahuan kerap dipaksakan menjadi sebuah opini, dan opini dipaksakan menjadi kebenaran. Kebodohan berlipat ganda terjadi saat seseorang tidak hanya gagal memahami suatu persoalan, tetapi juga merasa berhak menghakimi orang lain berdasarkan ketidakpahamannya tersebut.
Membatasi kebodohan berarti bersedia menahan diri untuk tidak bersuara pada ruang-ruang yang belum kita pahami kedalamannya.
Kebodohan yang tunggal akan lenyap disiram rasa ingin tahu. Namun, kebodohan yang berlipat ganda tercipta ketika tempat rasa ingin tahu itu digantikan oleh asumsi dan prasangka. Asumsi adalah ilusi pengetahuan; ia memberi kenyamanan semu bahwa kita telah mengerti, padahal kita baru saja tersesat di permukaan.
Pada akhirnya, membatasi kebodohan adalah perihal merawat kerendahan hati. Manusia yang bijak bukanlah manusia yang menggenggam seluruh jawaban di alam semesta, melainkan mereka yang sadar akan luasnya lautan pengetahuan dan kecilnya perahu pemikiran yang mereka dayung.
Dengan menyadari batas pengetahuan diri, kita telah mengunci pintu agar kebodohan tidak beranak pinak. Sebab, membiarkan diri tidak tahu adalah titik awal kebijaksanaan, namun berakting seolah tahu adalah muara dari segala kesesatan. (Timika, 04082026)





