Jangan Tiba-tiba Sampai Tujuan

ilustrasi -(foto.pdlFile)

TSP -042 – 06082026

 

Jangan Tiba-tiba Sampai Tujuan

Oleh : Mustaqiem Eska

 

“Tanpa pemahaman atas proses, pencapaian hanyalah angka tanpa riwayat, piala tanpa memori.”

 

(pdlFile.com) Tentu bukan kisah Roro Jonggrang dalam legenda Bandung Bondowoso. Sebuah gedung pencakar langit yang tampak megah meretas awan tidak pernah berdiri karena simsalabim yang meniadakan gravitas. Jika ada sebuah struktur bertengger di puncaknya tanpa pernah melewati peletakan batu pertama, penggalian pondasi, dan perhitungan beban kritis, maka struktur itu bukanlah keajaiban. Tapi ilusi yang membahayakan.

Dalam dunia teknik sipil, keberhasilan sebuah bangunan tidak ditentukan oleh seberapa cepat puncaknya terlihat, melainkan oleh seberapa jujur titik kekuatan daya dukungnya berdialog dengan tanah. Mengharapkan hasil akhir tanpa pernah bergulat dengan proses adalah bentuk pengkhianatan terhadap hukum mekanika paling mendasar, bahwa ketahanan selalu berbanding lurus dengan kedalaman perancangan.

​Ketergesaan untuk segera “tiba” adalah penyakit teleologis masa kini—sebuah obsesi pada tujuan yang mencabut manusia dari bobot eksistensinya. Ketika seseorang tiba-tiba berada di puncak gunung pencapaian tanpa pernah merasakan gesekan tapak sepatu dengan batu dan sengatan napas yang memburu, ia sesungguhnya tidak pernah sampai di sana. Ia hanya dipindahkan. Kehadirannya di titik tinggi itu menjadi hampa karena tidak ada jalinan makna yang terikat antara kesadarannya dan lintasan yang ia lalui.

Eksistensi manusia tidak dipahat di garis finis, melainkan dieja dalam deret detik yang penuh perlawanan, kepayahan, dan keraguan. Tanpa pemahaman atas proses, pencapaian hanyalah angka tanpa riwayat, piala tanpa memori.

​Di situlah pendidikan menemukan tugas teragungnya: menjaga agar manusia tidak mencuri waktu dari matangnya pemahaman. Pedagogi yang sahih bukanlah mesin pencetak hasil instan, melainkan laboratorium pembentukan karakter tempat kegagalan diolah menjadi daya dukung internal. Ketika seorang pembelajar disuapi jawaban akhir tanpa pernah meraba kerumitan rumitnya masalah, yang terbangun bukanlah kapasitas berpikir, melainkan kerapuhan intelektual. Seperti beton yang dipaksa menahan beban sebelum masa pematangan (curing process) selesai, pengetahuan yang diperoleh secara mendadak akan retak pada guncangan pertama.

Pendidikan adalah seni mendampingi proses pengeringan jiwa agar sang murid siap menopang kenyataan hidup yang mahaberat.

​Tentunya, kehidupan itu sendiri menjadi sebuah konstruksi panjang tempat segala sudut pandang berkelindan. Struktur bangunan mengajarkan kita ketelitian merencanakan setiap jengkal tapak; hakikat memberi kita kebijaksanaan untuk memaknai setiap lecet dalam perjalanan; dan pengajaran menempa kita agar tidak silau oleh megahnya puncak saat kaki masih harus menginjak bumi. Jangan pernah merasa gamang atas lambatnya perjalanan, karena di dalam kelambatan itulah daya tahan diciptakan.

“Barangsiapa yang tiba-tiba sampai di tujuan tanpa pernah tahu caranya berjalan, sesungguhnya ia sedang berdiri di atas retakan tanah yang siap runtuh setiap saat.” (Timika,06082026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *