Bahaya Anti Nasehat

POJOK

 

Bahaya Anti Nasehat

Oleh : Mustaqiem Eska

 

“Tanpa tradisi saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (wa tawaasau bil-haqqi wa tawaasau bis-shabr), manusia dipastikan berada dalam zona kerugian struktural (lafi khusr).”

 

​(pdlFile.com) Secara kehidupan, kita sering kali menyaksikan parade manusia yang berjalan dengan dada membusung, seolah-olah seluruh kebenaran telah berhasil mereka patenkan di bawah telapak kakinya. Mereka memosisikan dirinya ibarat struktur bangunan yang merasa paling kokoh, alergi terhadap inspeksi, dan menganggap setiap teguran sebagai serangan atas kedaulatan egonya. Ketika nasihat datang—yang sesungguhnya hadir bagaikan pasak penguat atau instrumen koreksi atas retakan mikro di dinding jiwa—mereka terburu-buru membangun benteng penolakan.

Gejala “anti-nasihat” ini bukanlah sekadar kebebalan karakter yang sederhana, -sebentuk kerugian diri-, di mana seseorang rela mengunci pintu hidayah demi mempertahankan ilusi bahwa dirinya tidak pernah salah.

​Jika kita merunut diferensial takdir melalui kacamata Al-Qur’an, kebal terhadap nasihat adalah watak kolot yang menjadi muara dari segala keruntuhan peradaban. Kitab Suci menggambarkan dengan teramat presisi bagaimana tatanan jiwa yang anti-nasihat perlahan-lahan dihancurkan oleh kesombongannya sendiri.

“Dan apabila dikatakan kepadanya: ‘Bertakwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa” (QS. Al-Baqarah: 206).

Di situlah letak tragedi terbesar manusia. Ketika peringatan yang santun tidak lagi menyentuh batin, melainkan justru memantik reaktif amarah dan gengsi yang membabi buta. Manusia yang dijangkiti penyakit ini ibarat insinyur yang marah kepada indikator teknis di papan kendali, lalu memecahkan lampu peringatan tersebut agar ia bisa terus meluncur menuju jurang kehancuran dengan tenang.

​Al-Qur’an merekam jejak kaum-kaum terdahulu yang punah bukan karena mereka kekurangan kecerdasan fisik atau kemewahan arsitektur, melainkan karena mereka memelihara sifat kebal nasihat. Kaum ‘Ad dan Tsamud, yang sanggup memahat gunung-gunung batu menjadi istana megah, akhirnya dilipat oleh angin kencang dan gempa dahsyat setelah mereka berulang kali mencibir para pembawa peringatan.

Lisan mereka riuh oleh ucapan yang meremehkan: “Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat” (QS. Asy-Syu’ara: 136).

Kebal nasihat adalah bentuk penguncian batin (khatamallahu ‘ala qulubihim) yang diprakarsai olehmanusia itu sendiri. Ketika teguran, kritik, dan peringatan Ilahi dianggap sebagai ‘sound horeg’ yang mengganggu kenyamanan hargadiri, maka semesta akan membiarkan manusia tersebut tersesat dalam kalkulasi bodohnya sendiri.

​Tragisnya, peradaban hari ini merayakan sikap anti-nasihat dengan nama-nama yang bersolek indah. Kita menyebutnya sebagai “kebebasan ekspresi”, “kemandirian berpikir”, atau “hak menghargai diri sendiri”, padahal di balik tumpukan istilah yang mentereng itu, kerap kali hanya ada kecemasan telanjang dari jiwa yang takut mengakui cacatnya. Kita menjadi generasi yang teramat mudah tersinggung oleh kebenaran, namun begitu mudah terpesona oleh pujian-pujian palsu yang menabur racun di dalam darah. Kita mengagumi mereka yang membentak pembawa kabar, seraya mengutuki cermin hanya karena wajah kita sendiri yang tampak suram di dalamnya.

​Padahal, dalam hukum Sunnatullah, nasihat (tanashuh) adalah pelumas utama yang menjaga roda peradaban dan persaudaraan agar tidak haus oleh gesekan kesombongan. Tanpa tradisi saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (wa tawaasau bil-haqqi wa tawaasau bis-shabr), manusia dipastikan berada dalam zona kerugian struktural (lafi khusr). Nasihat bukanlah vonis yang merendahkan, melainkan uluran tangan yang menyelamatkan. Menolak nasihat dengan dalih kehormatan adalah kegilaan kalkulasi yang setara dengan menolak ban pelampung di tengah samudra yang mengamuk hanya karena kita malu terlihat tidak bisa berenang.

​Karenanya, sudah saatnya kita meruntuhkan tembok-tembok kesombongan yang mengurung relung batin kita. Tundukkan dada di hadapan kebenaran, dari mana pun ia datangnya. Jangan biarkan racun “anti-nasihat” membuat hati kita mem batu, sebab ketika nurani telah membatu dan telinga batin melipat diri dari peringatan, kita sesungguhnya telah menjadi bangkai peradaban yang berjalan—memikul tubuh yang utuh, namun menyimpang jauh dari peta jalan menuju Sang Maha Pencipta. (Timika, 19092026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *