Belanda Bukan Penjajah

POJOK

 

Belanda Bukan Penjajah

Oleh : Mustaqiem Eska

 

 

“Penjajah terkejam yang sesungguhnya bukanlah mereka yang datang membawa kapal dagang dari jauh, melainkan ego dan kekuasaan yang tega menumbalkan rakyatnya sendiri demi melanggengkan takhta nan rapuh.”

 

​(pdlFile.com) Di atas reruntuhan keraton Plered yang sunyi (Pemberontakan Trunajaya, 1677), ketika angin senja berbisik di antara sisa-sisa bata merah yang melapuk, kita kerap kali disuguhi narasi sejarah yang teramat sederhana, dimana penderitaan bangsa ini adalah semata-mata mahakarya kompeni berkulit putih yang datang dari seberang lautan. Kita gemar menunjuk hidung kompeni Belanda sebagai tunggal biang kerok dari segala kehancuran marwah pertiwi. Padahal, jika kita mau menundukkan dada dan membaca lembaran sejarah dengan nurani yang presisi, ada kebenaran kelam yang bertengger di balik tembok Plered pada masa Amangkurat I. Begitu sebelum bangsa asing melangkah masuk membawa senapan dan catatan dagang, kehancuran itu telah diracik dengan teramat rapi dari dalam istana sendiri.

​Amangkurat I adalah monumen tragis dari sebuah kekuasaan yang kehilangan kompas moralnya. Di bawah naungan takhtanya, Plered bukan lagi simpul kebudayaan yang mengayomi, melainkan laboratorium ketakutan. Paranoid dan kesombongan raja membakar tiang-tiang penyangga kerajaan sendiri. Ribuan ulama dan keluarga diringkus dalam keheningan pagi, para ksatria yang kritis disingkirkan, dan jerit rakyat yang lapar dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Ketika sebuah kekuasaan tega menguliti kehormatan rakyatnya sendiri demi mempertahankan mahkota yang makin goyah, sesungguhnya fondasi peradaban itu telah mengalami kelelahan bahan (fatigue) yang parah sebelum tersentuh oleh serdadu luar.

​Maka, di manakah posisi kompeni Belanda dalam tragedi ini?

​Mereka bukanlah pemrakarsa kehancuran. Mereka hanyalah penonton yang cerdik dan bertindak sebagai akuntan yang mencatat setiap retakan. VOC tidak perlu bersusah payah merobohkan benteng Plered dengan meriam-meriam besar, sebab struktur sosial di dalamnya telah melapuk oleh pengkhianatan dan tirani domestik. Belanda cukup datang membawa surat utang, menawarkan bantuan tentara bayaran untuk memadamkan pemberontakan yang dipicu oleh kesewenang-wenangan sang raja sendiri, lalu menyodorkan kontrak perjanjian yang menggadaikan kedaulatan tanah Jawa demi sepotong takhta yang tersisa.

​Dan, kompeni hanyalah gaya luar yang memanfaatkan momen ketika tensile strength (daya tahan) persatuan internal telah menyentuh angka nol. Mengatakan bahwa Belanda adalah satu-satunya penjajah adalah bentuk penyederhanaan sejarah yang naif sekaligus menggelikan. Belanda tidak pernah bisa menjajah sebuah tatanan yang utuh dan berintegritas; mereka hanya memanen buah busuk dari pohon kekuasaan yang telah digerogoti oleh racun kesombongan penguasa lokalnya sendiri.

​Tentu, menyalahkan Belanda atas segala keruntuhan Plered adalah cara paling mudah untuk melarikan diri dari cermin sejarah. Penjajah terkejam yang sesungguhnya bukanlah mereka yang datang membawa kapal dagang dari jauh, melainkan ego dan kekuasaan yang tega menumbalkan rakyatnya sendiri demi melanggengkan takhta nan rapuh. Dan selama kita masih memelihara watak-watak Amangkurat I di panggung peradaban hari ini—yang alergi pada kritik dan gemar mengorbankan marwah demi kenyamanan kelompok—maka sesungguhnya kita sedang mengundang penjajah-penjajah baru untuk datang dan bertindak sebagai tuan di tanah kita sendiri. (Timika, 16092026)

Related posts