POJOK
Fabel Spiritual
(Refleksi buku “Islam ala Prabowo”)
Oleh : Mustaqiem Eska
(pdlFile.com) Rimba mendadak penaka diserang bulldozer, para penghuni hutan riuh menyaksikan sebuah pemandangan yang tak biasa. Di atas bukit batu yang menatap padang rumput, sesosok serigala tua berpangkat Panglima—yang rekam jejak taringnya telah dikenal luas oleh setiap generasi kelinci dan domba—kini duduk bersila mengapit sebuah ‘Buku yang baru terbit dan launching.” Dari mulutnya yang dulu biasa menggeramkan ancaman, meluncur frasa-frasa tentang Islam yang ramah, tentang keadilan yang mengayomi, dan tentang perlunya memeluk kembali ajaran menjunjung rasa welas asih.
Para penghuni rimba pun terdiam dalam kebingungan yang samar. Kawanan domba saling berbisik di balik semak-semak, menakar apakah ini sebuah karomah Hidayah yang menembus tulang belulang, ataukah sekadar siasat baru dalam manual berburu agar mangsa menyerahkan diri tanpa perlu diuji dengan kejar-kejaran yang melelahkan.
Di dalam panggung fabel politik modern, agama kerap kali menjelma menjadi gaun indah yang dipaksakan menutupi zirah besi yang keras. Ketika kekuasaan merasa perlu memoles citranya agar tampak lebih teduh di mata publik, tumpukan ajaran luhur dan teks-teks spiritual disunting dengan presisi yang dingin. Islam yang kaya akan dimensi ketauhidan dan kritik keadilan sosial ditransformasikan menjadi narasi yang ringkas, manis, dan jinak—sebuah versi “Islam ala Prabowo” yang tak lagi menuntut pertobatan atas masa lalu, melainkan menuntut pemakluman atas nama stabilitas dan harmoni yang karbitan. Berisi tulisan testimoni dari beberapa tokoh untuk perkuatan status.
Namun, sejarah hikmah dan nurani tidak pernah bisa dikelabui oleh keindahan sampul buku. Sebuah “buku” tentang kedamaian yang ditulis atau digaungkan di atas panggung kekuasaan tetap harus diuji di lapangan pembuktian yang paling bersahaja, bahwa apakah taring itu benar-benar telah tumpul oleh keinsafan, ataukah ia hanya disembunyikan sementara di balik retorika spiritual yang santun?
Agama yang sejati bukanlah sarung pengaman bagi ambisi politik, bukan pula parfum penyegar untuk menyamarkan aroma darah dari luka-luka masa lalu yang belum usai dibalut.
Kita sering kali terlalu gampang terharu oleh drama-drama spiritual yang dipertontonkan di atas mimbar. Padahal, jika kita sudi memakai cermin kearifan murni, kebenaran sebuah ajaran tidak diukur dari seberapa fasih seorang penguasa mengutip firman, melainkan dari seberapa takut ia untuk menindas rakyat yang tak berdaya.
Sebab di hadapan Allah yang Maha Mengetahui, seribu lembar buku tentang Islam yang ditulis untuk memikat hati khalayak hanyalah tumpukan kertas hampa, jika di dalam jiwanya ia masih menyimpan keangkuhan yang enggan tunduk pada marwah keadilan yang nyata. (Timika, 07092026





