POJOK
Pidato Seremoni
Oleh : Mustaqiem Eska
“Ujilah setiap pidato bukan dari seberapa banyaknya tepuk tangan yang memenuhinya, melainkan dari jejak langkah dan perbuatan nyata setelah sang pembicara turun dari tangga mimbar.”
(pdlFile.com) Gegap gempita di depan perhelatan akbar, tampak pertemuan senantiasa ramai oleh tepuk tangan yang dirancang, mimbar itu dipoles hingga mengilap, dan pengeras suara memantulkan untaian kata yang disusun teramat rapi.
Dalam gelaran pidato seremoni, bahasa kerap kali kehilangan bobot kebenarannya, ia mendadak berubah menjadi ‘sosok luhur’ yang disewakan untuk menutupi tubuh yang renta akan integritas. Kita menyaksikan betapa mudahnya larik-larik kebajikan, ajakan moral, dan retorika kemanusiaan dihamburkan dari atas panggung, sementara di balik layar, realitas yang terjadi justru bertolak belakang secara tajam.
Pidato seremoni sering kali bukan lagi cermin diri, melainkan panggung sandiwara tempat kepalsuan dirayakan.
Al-Qur’an merekam sifat kepribadian terbelah ini dengan begitu presisi dalam surah Al-Baqarah , 14 : “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman’. Dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka berkata “Sesungguhnya kami sejalan dengan kamu, kami hanya berolok-olok’.”
Ayat tersebut bukan sekadar wacana teologis, melainkan cermin psikologis yang menelanjangi karakter hipokrisitas di setiap zaman. Di atas mimbar yang riuh, -bahkan- di hadapan spiritualist murni yang merindukan akhlak, sosok-sosok ini tampil bagai malaikat pembawa warta kebaikan. Naskah pidato dibacakan dengan nada bergetar, diwarnai kutipan-kutipan suci, dan janji-janji manis yang menenangkan. Namun begitu lampu sorot dipadamkan dan mereka kembali ke ruang-ruang tertutup bersama kelompok kepentingannya, topeng itu kembali dilepas. Narasi berubah total, dan tanpa rasa bersalah.
Kesenjangan antara apa yang dilisankan di podium dan apa yang dijalankan dalam sunyi adalah keretakan moral yang paling berbahaya. Bahayanya tidak hanya terletak pada kebohongan itu sendiri, melainkan pada daya rusaknya terhadap nalar publik. Ketika kata-kata indah dijadikan komoditas seremoni semata, kejujuran perlahan-lahan kehilangan nilainya, dan masyarakat mulai menganggap kepalsuan sebagai hal yang lumrah dalam bernegara.
Maka, di tengah gegap gempitanya forum besar layaknya muktamar yang kerap pepat oleh panggung-panggung retorika, tugas kita adalah merawat kewaspadaan batin. Tetaplah berhati-hati agar tidak mudah terpedaya oleh pesona kalimat yang dirangkai elok, atau terpesona oleh gestur kesalehan yang dipamerkan secara teatrikal. Ujilah setiap pidato bukan dari seberapa banyaknya tepuk tangan yang memenuhinya, melainkan dari jejak langkah dan perbuatan nyata setelah sang pembicara turun dari tangga mimbar.
Sebab, kebenaran sejati tidak pernah diukur dari seberapa merdu sebuah pidato seremoni diucapkan, melainkan dari keselarasan antara nurani, kata, dan laku hidup yang konsisten di dalam maupun di luar panggung. (Timika, 31082026)