Fase Menguncup

blank

POJOK

 

Fase Menguncup

​Oleh: Mustaqiem Eska

 

 

“Ketika tanda-tanda “menguncup” itu tiba—rambut yang memutih ibarat uban-uban peringatan, pandangan mata yang meliuk kabur, serta tulang jemari yang mulai gemetar—semesta sesungguhnya sedang berbisik halus: “pangkaslah ruang-ruang yang tidak penting.”

 

​(pdlFile.com) Garis hidup tidak ada yang kaku tanpa dinamika. Secara geometris, grafik kehidupan manusia tidak pernah membentang sebagai garis lurus yang tak terbatas menuju kebahagiaan. Kehidupan penaka kurva simetris yang teramat presisi. Bermula dari titik nol ketiadaan, menanjak naik dalam grafik pertumbuhan yang agresif, mencapai puncak kekuatan mekanis, lalu perlahan-lahan meliuk turun menuju titik asal yang bersahaja. Al-Qur’an memotret sunnatullah ini dengan kejelasan yang menohok akal: “Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasin: 68). Kita dilahirkan dalam keadaan lemah tanpa daya, dibebat kain putih, dan tak sanggup menyuap makanan sendiri.

Sungguh ironis, jika kita menyangka bahwa masa tua hanyalah cerita tentang kejayaan yang terus membesar, padahal ia adalah sebuah proses pemulangan kembali menuju fase bayi yang tak berdaya.

​Tragedi terbesar manusia modern adalah ketidakmampuan membaca hadirnya fase Menguncup ini. Saat usia bergeser melampaui puncak grafiknya, kita sering kali masih mengidap amnesia struktur. Ya, masih saja terus memaksakan diri melebarkan bentangan pasak di luar batas daya dukung tanahnya. Kita sibuk mencampuri perkara-perkara gersang di luar kendali kita, bertengkar di panggung-panggung semu tentang hal-hal yang tak lagi relevan, dan memelihara lingkaran pergaulan yang riuh namun gersang dari nilai-nilai ruh. Kita berlaku ibarat insinyur yang salah analisa, dimana di saat pondasi fisik dan jaringan saraf tubuh sedang mengalami kelelahan bahan yang ekstrim, kita justru menambah beban lantai atas dengan tumpukan syahwat duniawi yang kikir.

​Ketika tanda-tanda “menguncup” itu tiba—rambut yang memutih ibarat uban-uban peringatan, pandangan mata yang meliuk kabur, serta tulang jemari yang mulai gemetar—semesta sesungguhnya sedang berbisik halus: “pangkaslah ruang-ruang yang tidak penting.”

Fase menguncup meminta keberanian eksistensial untuk menyerahkan kembali segala perkara yang di luar kendali kita kepada Allah Rabbul Izzaty. Sudah saatnya menutup buku-buku perdebatan yang menyita energi nurani, mematikan sinyal kebisingan dunia, dan melipat ego yang dulu sempat membusung angkuh. Mengapa masih harus pusing memikirkan sorak-sorai kerumunan di luar, jika waktu tersisa yang kita miliki sesungguhnya hanyalah hitungan mundur menuju ruang liat tanah yang sempit?

​Memasuki fase menguncup, sesungguhnya undangan paling mesra untuk memusatkan seluruh daya jiwa menuju Sang Pencipta (illallah). Ini adalah saatnya menyaring dan memperketat sirkel pergaulan. Menepi hanya bersama jiwa-jiwa yang ingatan dan lisannya senantiasa memercikkan basah dzikir, mereka yang jika kita tatap wajahnya melahirkan rasa takut dan rindu kepada Ilahi.

Lingkaran yang kian menyempit ini bukanlah bentuk pengasingan diri yang murung, melainkan sebuah ikhtiar “Iyyaaka na’budu, wa iyyaaka nasta’iin” untuk memadatkan tauhid sebelum garis akhir disentuh.

Sebab pada akhirnya, ketika lingkaran dunia kita benar-benar menyempit hingga berukuran dua meter persegi di balik tanah yang suci, tidak ada lagi yang tersisa selain kepasrahan yang tulus dari seorang hamba yang berani pulang dengan membawa jiwa yang telah tenang. Allahumma khusnul khotimah. (Timika, 28092026)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *