POJOK
Kekuatan Konsistensi
Oleh: Mustaqiem Eska
“Kita menjadi generasi yang lebih menyukai keajaiban ketimbang proses. Kita mendambakan hasil yang spektakuler tanpa pernah mau bersimbah peluh merawat rutinitas yang menjemukan.”
(pdlFile.com) Di alam spiritual hari ini, masih dipenuhi kekaguman terhadap hal-hal ajaib, manusia sering kali terseret dalam perburuan tontonan yang spektakuler. Kita mengagumi mereka yang dikabarkan sanggup berjalan di atas air, melipat jarak ribuan mil dalam sekedip mata, atau memanggil hujan di tengah terik kemarau yang membakar saat ini. Kita terpukau pada karomah—sebuah manifestasi keindahan yang sering kali dipahami secara dangkal oleh akal yang haus atraksi. Namun, dalam kalkulasi struktur jiwa yang presisi, pernahkah kita berpikir bahwa al-istiqamah khairun min alfi karamah—satu jengkal konsistensi jauh lebih utama daripada seribu keajaiban yang memukau mata.
Secara mekanika batin, keajaiban yang datang sesaat ibarat lonjakan tegangan listrik (surge) yang melonjak tinggi dalam selang waktu mikro. Ia mengejutkan, menyilaukan, dan membuat kerumunan berdecak kagum, namun ia tidak diciptakan untuk menopang beban kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, konsistensi atau istiqamah adalah arus konstan yang mengalir secara stabil tanpa henti; ia adalah daya tahan yang menjaga pilar-pilar nurani agar tidak retak dihantam gelombang waktu. Menjadi ajaib selama satu detik adalah perkara mudah bagi takdir, namun menjadi manusia yang jujur, santun, dan teguh memegang janji selama puluhan tahun di tengah godaan zaman adalah mahakarya keteguhan yang sesungguhnya.
Tragisnya, peradaban hari ini merayakan lompatan-lompatan instan dan mengutuki ketekunan yang tak viral. Kita menjadi generasi yang lebih menyukai keajaiban ketimbang proses. Kita mendambakan hasil yang spektakuler tanpa pernah mau bersimbah peluh merawat rutinitas yang menjemukan.
Dalam urusan spiritual maupun karya peradaban, kita berlagak seperti penonton sirkus: bertepuk tangan riuh pada atraksi yang tak terduga, namun enggan meniru kedisiplinan para pelatih yang menempa diri dalam hening setiap subuh. Kita lupa bahwa terbang di udara tidak serta-merta menjadikan seseorang bernilai di hadapan Sang Maha Pengatur, sebab burung dan nyamuk pun melakukan hal yang sama setiap hari tanpa pernah merasa bangga.
Al-Qur’an dan hukum Sunnatullah tidak pernah mengukur keluhuran seorang hamba dari seberapa banyak peristiwa aneh yang sanggup ia peragakan di hadapan manusia. Keagungan sejati justru disembunyikan di dalam tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konstan (adwamuhu wa in qalla). Istiqamah adalah keberanian untuk tetap berdiri lurus di atas garis ketaatan, ketika angin pujian berembus kencang maupun ketika kesunyian mengelilingi langkah. Ia adalah ketetapan hati seorang pekerja yang menyusun batu bata satu demi satu dengan presisi, seorang anak yang tak pernah putus mendoakan orang tuanya, atau seorang hamba yang konsisten menjaga kejujuran jiwanya di tengah pasar yang penuh tipu daya.
Maka, jangan pernah menukar mahkota konsistensi dengan dahaga akan karomah. Karomah sejati bukanlah kemampuan menembus tembok atau membaca pikiran orang lain, melainkan kemampuan untuk menembus tembok kesombongan diri sendiri dan melipat ego agar tetap tunduk di hadapan-Nya.
Sebab pada akhirnya, ketika seluruh tontonan dunia ini dilipat dan panggung peradaban disatroni keheningan yang abadi, semesta tidak akan menanyakan berapa banyak keajaiban yang pernah kita saksikan, melainkan seberapa setia kita berjalan di atas garis konsistensi hingga napas terakhir dihembuskan. (Timika, 20092026)





