POJOK
Mindset Alhamdulillah
Oleh: Mustaqiem Eska
“Kita bersumpah serah atas kerikil kecil yang melukai telapak kaki, namun lupa pada ribuan kilometer jalan rata yang telah kita lalui tanpa celaka.”
(pdlFile.com) Variabel kehidupan manusia selalu diapit oleh dua kutub yang tak pernah bisa dienyahkan, yakni baik dan buruk, lapang dan sempit, untung dan rugi, serta sorak kegirangan dan ratapan duka. Badan bernafas yang berakaldan berruh ini acapkali mengidap kerumitan sudut pandang saat membaca dinamika ini. Kita menganggap kenikmatan sebagai bentuk hak mutlak yang wajib diabadikan, seraya meratapi ujian sebagai kegagalan struktural yang merusak tatanan takdir.
Padahal, dalam ruang secara pendekatan batin yang arif, seluruh kejadian di atas muka bumi sesungguhnya bersifat netral. Yang menjadikannya berkah, mengangkat derajat atau racun yang membusukkan jiwa bukanlah substansi peristiwanya, melainkan kacamata yang kita pakai untuk mengeja kehendak Allah Ta’ala; Sang Pencipta Alam Semesta dan Seisinya : Mindset Alhamdulillah.
Sudut pandang Alhamdulillah adalah instrumen peredam kejut (shock absorber) paling presisi bagi jiwa. Ketika kehidupan melemparkan beban yang melampaui ambang batas ekspektasi, akal yang tak terpakai akan mudah mengalami retakan mikro (micro-cracking) berupa kecemasan dan keputusasaan. Namun, bagi jiwa yang memancangkan frasa Alhamdulillah di pusat kendali sanubarinya, seluruh benturan mekanis duniawi mendadak terkonversi menjadi energi spiritual yang kokoh.
Jika kenikmatan melimpah tiba, ia tidak melompat menjadi kesombongan yang pongah, melainkan mengkristal menjadi sikap syukur yang merendahkan dada. Sebaliknya, jika giliran ujian berat yang menyatroni rumah tidurnya, ia tidak berubah menjadi amuk atau serapah, melainkan mengendap menjadi kesabaran yang dingin dan anggun.
Hemmm, betapa banyak manusia hari ini yang bersikap menjadi perhitungan yang amat pelit. Kita menghitung setiap helai kerugian materi dengan kalkulator yang histeris, namun amnesia total pada ribuan liter oksigen gratis yang saban detik membasahi paru-paru kita. Kita bersumpah serah atas kerikil kecil yang melukai telapak kaki, namun lupa pada ribuan kilometer jalan rata yang telah kita lalui tanpa celaka.
Menatap hidup tanpa sudut pandang Alhamdulillah adalah bentuk ke-error-an kognitif yang tragis. Berlaku seperti anak kecil yang menangis meraung-raung hanya karena sebutir permennya jatuh, sementara di tangannya masih menggegam sekeranjang cokelat dan snack.
Memangkas seluruh gejolak emosi dan merangkumnya ke dalam satu kata—Alhamdulillah—adalah manifestasi dari tatalaku hidup yang matang. Di tengah kemungkinan dunia yang gegap dan tak menentu, sikap muhasabah paling mulia seorang hamba adalah menyaring setiap detik takdir melalui kacamata prasangka baik (husnuzan).
Mengambil hikmah dari sudut yang paling terang, sebab di balik setiap retakan nasib yang menyakitkan, selalu ada peran Rahmat Ilahi yang sedang merapikan kembali struktur jiwa kita. Maka, di atas bentangan senang maupun susah, lapar maupun kenyang, biarkan bibir dan nurani kita senantiasa membisikkan satu kata kunci yang meruntuhkan segala bentuk keluhan: “Alhamdulillah āla kulli hāl”—segala puji bagi Allah atas setiap keadaan. Wallahu ‘alam. (Timika, 29092026)