POJOK
PRASASTI KEZALIMAN
Oleh : Mustaqiem Eska
“Jangan biarkan dirimu menjadi bahan eksperimen sejarah berikutnya.”
(pdlFile.com) Secara metodologis, sejarah yang tertera di dalam Al-Qur’an bukanlah tumpukan dongeng yang mati, melainkan lembar pengujian bagi jiwa-jiwa yang sudi berpikir. Di sana, panggung peradaban diperagakan dengan teramat presisi tentang Firaun yang angkuh dengan sungai-sungai yang mengalir di bawah kakinya, tentang Qarun dengan kunci-kunci perbendaharaan hartanya yang berat dipikul, hingga kaum ‘Ad dan Tsamud yang sanggup memahat gunung-gunung batu menjadi istana megah. Namun, ada satu pola tragis yang membelit mereka semua, kesadaran yang selalu terlambat datang—sebuah kesadaran yang baru mendesak masuk ketika air laut sudah menyumbat tenggorokan atau ketika azab sudah meretakkan atap-atap rumah mereka.
Secara analitis, ketidakmampuan mengeja tanda-tanda sebelum kehancuran tiba adalah bentuk kebutaan struktural yang paling mahal harganya. Mengapa kita harus menunggu diri kita sendiri yang hancur berkeping-keping hanya untuk membuktikan bahwa kezaliman itu membinasakan? Mengapa kesadaran harus selalu menjadi penumpang terakhir yang baru melompat masuk ketika gerbong kehidupan sudah meluncur ke dasar jurang? Menunggu terbentur baru tersadar adalah kebodohan kalkulasi yang setara dengan seorang insinyur yang menolak memperhitungkan batas beban baja, lalu baru percaya pada hukum fisika saat jembatan rakitannya ambruk menimpa kerumunan.
Al-Qur’an menyodorkan kisah-kisah orang zalim bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai cermin suci agar kita tidak perlu mengulangi penderitaan yang sama. Kezaliman—baik berupa penindasan kepada sesama maupun pengkhianatan terhadap nurani sendiri—selalu menyembunyikan cangkuk kebinasaan di dalam dirinya. Menatap jejak-jejak peradaban yang musnah di dalam kitab suci adalah cara paling elegan untuk memangkas jalur penderitaan. Sebaik-baik akal adalah ia yang sanggup memetik hikmah dari luka orang lain, tanpa harus membiarkan dadanya sendiri tertembus oleh anak panah kesalahan yang serupa.
Menunda kesadaran hingga pintu tobat terkunci adalah bentuk kerugian di hadapan Rabb. Kebijaksanaan tertinggi seorang manusia bukanlah terletak pada seberapa canggih ia meratapi kejatuhannya, melainkan pada seberapa peka ia membaca prasasti peringatan yang telah dibentangkan semesta. Cukuplah runtuhnya tenggelamnya Firaun, dan musnahnya negeri-negeri sombong menjadi petunjuk benderang bagi kita. Jangan biarkan dirimu menjadi bahan eksperimen sejarah berikutnya. Maka tundukkan egomu hari ini, ambilah hikmah dari mereka yang telah hancur, dan jadikan nuranimu sebagai kompas yang menuntun langkah sebelum senja benar-benar menutup kesempatanmu. (Timika, 24092026)





